Foto Alda Muhsi

Oleh: Alda Muhsi

MUDANews.com – Setiap orang dituntut untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya agar ketika selesai nanti kelak mendapatkan pekerjaan yang layak dan baik. Banyak orang yang mengeluh begitu susahnya mencari pekerjaan. Bahkan sarjana pun masih ada yang memiliki pekerjaan tidak sesuai dengan bidang kesarjanaannya. Bahkan ada pula sarjana menganggur. Pertanyaannya adalah mengapa hal itu bisa terjadi?

Sebenarnya mencari pekerjaan itu tidaklah begitu susah. Buktinya di media massa banyak sekali yang memuat iklan lowongan kerja. Belum lagi acara-acara atau event seperti job fair yang mungkin rutin digelar tiap bulannya di berbagai tempat yang diikuti berbagai perusahaan. Pernahkah kita sadari bahwa di sana tersedia kursi-kursi kosong yang rindu untuk diduduki? Pertanyaan selanjutnya adalah mengapa kursi itu bukan kita yang mengisi?

Itulah sebenarnya yang menjadi persoalan besar mengapa banyak orang tidak memiliki pekerjaan. Kita patut bertanya kembali pada diri sendiri, “Benarkah mencari pekerjaan itu sulit? Atau lowongan pekerjaan yang sulit menerima kita?”

Kebiasaan buruk yang kerap kita lakukan adalah terlalu banyak alasan dan sering menyalahkan orang lain. Menganggap diri paling benar tanpa melakukan introspeksi diri terlebih dahulu. Inilah yang menjadi penyebab utama mengapa kita merasa mencari pekerjaan itu susah. Mungkin sudah banyak lamaran yang kita sebar, sudah banyak juga melakukan wawancara, tapi tak kunjung diterima. Mungkin juga hanya mengirimkan lamaran dan tidak dipanggil-panggil untuk wawancara. Dari peristiwa itu semestinya kita bertanya, apa yang salah dari kita? Apakah kita sudah pantas dan layak bekerja di sana? Bukan malah mengumpat dan mencaci maki perusahaan yang tidak bersedia memakai jasa kemampuan kita.

Bisa saja kemampuan kita tidak cukup atau barangkali nilai kita hanya terletak pada nilai standart, atau mungkin di bawah standart. Oleh karena itu kita kalah dalam pertarungan memperebutkan pekerjaan tersebut. Ingatlah bahwa sebuah perusahaan pasti memilih yang terbaik sebagai tenaga kerjanya. Maka solusi yang tepat adalah memantaskan diri untuk menghadapi dunia pekerjaan yang kejam. Ganti waktu mengeluh untuk berbuat sesuatu memperbaiki diri, gali potensi sedalam-dalamnya. Itulah mengapa orang tua kita selalu menasehati agar kita menuntut ilmu setinggi-tinggi dan sebaik-baiknya. Sebab bukan mencari pekerjaan yang susah, persaingan yang membuatnya susah. Apa lagi jika kita tidak mempunyai senjata lengkap dalam berperang, tentu saja kita akan kalah.

Mari mengubah pola pikir dan mengubah pertanyaan-pertanyaan yang selama ini telah terpatri di kepala kita. Sebenarnya bukan mencari pekerjaan yang sulit, hanya saja kita perlu memantaskan diri untuk mengisi pekerjaan-pekerjaan yang lowong. Kesempatan itu akan selalu ada. Tinggal bagaimana cara kita memanfaatkannya. Pantaskan diri maka pekerjaan akan mencari kita. Belajarlah tanpa mengenal waktu. Kita perlu merenungi nasihat salah seorang imam besar, “Anakku jika kau tidak sanggup menahan lelahnya belajar, maka kau harus sanggup menahan perihnya kebodohan (Imam Syafi’i)”. [pu]

Alda Muhsi adalah Alumni Bahasa dan Sastra Indonesia UNIMED

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here