Ketika Nabi Nuh Menyampaikan Laporannya

Ketika Nabi Nuh Menyampaikan Laporannya
Hasanuddin

Oleh: Hasanuddin (Ketua Umum PB HMI, Periode 2003-2005)

Terdapat pada salah satu surah dalam Alquran, dimana Nabi Nuh a.s telah memberikan laporan kepada Tuhannya, sehingga surah itu dinamai dengan surah Nuh.

Laporannya Nabi Nuh itu berisi tentang kegagalannya dalam menjalankan tugas yang Allah perintahkan kepadanya. Serta pembangkangan kaumnya atas peringatan Allah yang disampaikan oleh Nabi Nuh kepada mereka.

Laporan itu sebagai berikut:
Surah ini diawali dengan pemberian tugas dari Allah kepada Nabi Nuh. Allah swt berfirman: “Sungguh Kami telah mengutus dan memerintahkan Nuh (agar menyampaikan) kepada kaumnya “Berilah kaummu peringatan sebelum datang kepada mereka azab yang pedih”

(1). Nuh menerima tugas tersebut lalu menemui kaumnya. Nuh berkata: “Hai kaumku; sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan

(2) yang menjelaskan kepadamu

(3), supaya kamu (sekalian) menyembah Allah, bertakwa kepada-Nya, dan taat kepadaku

(4), jika kamu lakukan itu, pasti Allah ampuni semua dosa-dosamu dan menangguhkan ajalmu sampai waktu yang telah ditentukan; sungguh apabila telah datang ketetapan Allah itu, tidak dapat (lagi) ditunda. Andai saja kamu mengetahui

(5). Nabi Nuh mengulang-ulang peringatan itu kepada siapapun yang ditemuinya. Selama bertahun-tahun tugas memberikan peringatan itu dijalankannya. Tapi hasilnya tidak memuaskan. Sangat sedikit yang mau percaya kepada apa yang disampaikan oleh Nuh. Dengan rasa prustrasi Nuh melapor kepada Allah, (seolah Nuh tidak tahu kalau Allah pasti mengetahui situasi yang sedang terjadi) sedemikian prustrasinya menghadapi keadaan.

Dalam laporannya, Nabi Nuh berkata; “Wahai Tuhanku, sungguh telah kujalankan perintahmu, menyeru mereka siang dan malam

(6), tetapi seruan saya itu justru mereka semakin menjauhi kebenaran.

(7) tiap kali (pula) saya mendoakan mereka, agar engkau mengampuni mereka–namun mereka memasukkan ujung jari mereka ke telinganya, menutupkan bajunya ke mukanya, dan tetap mengingkari bahkan semakin menyombongkan diri

(8). Saya pun telah secara terbuka mengajak mereka kepada keimanan

(9), setelah itu saya lakukan pula baik secara terang-terangan, maupun secara sembunyi-sembunyi

(10) kepada mereka saya katakan mohonlah ampunan kepada Tuhanmu. Sungguh Dia-lah Maha Pengampun

(11) Niscaya Dia akan terus mengirimkan hujan kepadamu

(12) menjadikan kebun-kebun dan sungai-sungai untukmu, serta memperbanyak harta dan anak-anakmu

(13) mengapa kamu tidak mengagungkan Allah?

(14) Sungguh Dia telah menciptakan kamu dalam beberapa tahap kejadian

(15). Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis?

(16). Dan padanya Allah telah menciptakan bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai penerang?

(17) dan Allah telah menumbuhkan kamu dari tanah dengan sebaik-baiknya

(18). kemudian Dia akan mengembalikan kamu ke dalam tanah

(19). Dan Allah telah menjadikan bumi sebagai hamparan yang luas untukmu

(20). Supaya kamu dapat leluasa menjelajahinya

(21). Nuh berkata, “wahai Tuhanku, Sungguh, mereka telah mendurhakai saya. Dan mereka telah mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya (yang banyak) hanya menambah kerugian baginya

(22) dan mereka (para kapitalis ini) melakukan tipu daya yang besar

(23) dan mereka (terutama pemimpin-pemimpin mereka yang kafir) berkata; ‘jangan sekali-kali kamu meninggalkan tuhan-tuhan kamu. Dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan penyembahan (dewa) wadd, suwa, yagus, dan nasr

(24). Dan sungguh mereka telah menyesatkan banyak manusia. Dan janganlah Engkau tambahkan bagia orang-orang zalim itu selain kesesatan

(25). Disebabkan kesalahan-kesalahan mereka, mereka ditenggelamkan lalu dimasukkan ke dalam neraka. Maka mereka tidak akan mendapatkan pertolongan selain Allah

(26). Nuh berkata, “Wahai Tuhanku, janganlah Engkau membiarkan seorang pun dari orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi

(27), sungguh, jika engkau membiarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba Engkau. Dan mereka tidak akan melahirkan anak-anak, selain anak yang jahat lagi sangat kafir

(28). Wahai Tuhanku, ampunilah saya, ibu bapak saya, orang yang telah masuk rumah saya dengan beriman, serta semua orang beriman laki-laki maupun perempuan. Dan janganlah Engkau menambahkan sesuatu pun kepada orang-orang zalim melainkan kebinasaan.

Demikianlah Nabi Nuh melaporkan hasil tugasnya, disertai perasaan prustasi, sehingga secara emosional telontar doa-doa dari mulutnya atas kaummnya yang kafir, agar ditimpakan azab oleh Allah.

Atas doa Nuh ini, berdasarkan realitas empirik yang kita saksikan dalam rentang sejarah peradaban manusia, nampaknya Allah SWT menjawab secara langsung permohonan Nuh sebagaimana yang terdapat di ayat 25. “Disebabkan kesalahan-kesalahan mereka, maka mereka akan ditenggelamkan dan dimasukkan ke neraka. Dan tidak ada satupun yang dapat menolong mereka selain Allah..

Sementara itu, permohonan Nuh, agar semua orang kafir dimusnahkan diatas bumi, nampaknya tidak dijawab oleh Allah hingga akhir surah ini.

Dalam sebuah hadits panjang tentang Syafaat, Muslim meriwayatkan suatu hadist Rasulullah Muhammad SAW, Nabi Nuh menyesali doanya kepada Allah atas kaumnya diatas itu. Yang ibrahnya dapat kita petik, bahwa seorang pemimpin, tidak boleh putus asa atas perbuatan kaumnya, dan terlebih lagi tidak mendoakan kaumnya agar celaka atau ditimpakan azab oleh Allah.

Seorang pemimpin mesti harus bersabar, bijaksana, tidak cepat putus asa sehingga tergoda melakukan hal-hal buruk kepada kaum yang dipimpinnya. Bandingkan misalnya dengan kisah Nabiullah diakhir hayatnya. Beliau tetap memikirkan umatnya. Ya, Jibril kaifah ummati, ummati, ummati….!! Tidak ada pikiran buruk beliau kepada kaum yang dipimpinnya.

Tentu saja ada banyak hal baik yang telah dilakukan oleh Nabi Nuh sehingga kita tetap mesti respek kepada beliau dan patut kita ambil hikmahnya. Adapun kekurangan yang disampaikan Allah kepada kita kisahnya itu, agar menjadi pelajaran bagi kita semua, dangan satu keyakinan bahwa sesungguhnya Allah mengutus para Nabi itu agar kita teladani. Apa yang baik dari mereka kita ambil, dan apa yang kurang baik yang kita temukan pada diri seorang Nabi sesungguhnya itu adalah kehendak Allah yang menunjukkan hal buruk melalui para Nabi itu agar dihindari.

Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita semua kembali kepada-Nya dengan husnul khotimah.

Depok, 27 Desember 2020