Bahkan, Tak Mungkin Fir’aun Membohongi Cintanya Sendiri?

Bahkan, Tak Mungkin Fir'aun Membohongi Cintanya Sendiri?
Arwan Syahputra

MUDANEWS.COM, Lhokseumawe – Mendengar nama “Fir’aun” pasti spontan tubuh terasa gerah, berkeringat amarah, dengan segala diktatorian Fir’aun dan menghabisi siapa saja yang hengkang terhadapnya pada masa kepemimpinannya itu selaku raja.

Kita mengakui akan diktator dan begitu anarkisnya Fir’aun, bahkan Menurut Muhammad bin Alwi BSA dalam bukunya berjudul 25 Hidangan dari Al Qur’an, setiap Muslimin harus mengenali sifat-sifat Fir’aun untuk mengetahui siapa saja yang mengikuti jejak kedzolimannya.

Salah satunya, sifatnya melampaui batas(Pergilah kepada Fir’aun; dia benar-benar telah melampaui batas.” QS. Thaha: 24.) dan Memecah belah rakyat nya (“Sungguh, Fir’aun telah berbuat sewenang-wenang di bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dia menindas segolongan dari mereka (Bani Israil), dia menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak permpuan mereka.” (QS. al-Qashas:4).

Namun tahukah kita?
Fir’aun pun pernah punya cinta, bahkan
ia tak kuasa kepada seorang wanita yang dicintainya.

Dikisahkan dalam sejarah Firaun dan para algojo itu tak berdaya di hadapan seorang wanita. Dia adalah Asiyah binti Muzahim, istri yang sangat dicintai dan ditakuti Firaun (Buka : Firaun Raja yang Kuat dan Kejam Tapi Tak Berdaya di Hadapan Wanita Ini, Ditulis oleh : Lusiana Mustinda – detikNews)

Walau pada awalnya, Fir’aun pada Asiyah itu, karena Fir’aun menyandera kedua orang tua aisyah, sebagai jaminan agar dirinya mau menerima lamaran Fir’aun.
Dan walaupun begitu, sefir-aun nya Fir’aun itu, tetap saja ia tak bisa kontradiksi dengan hatinya sendiri yang memaksanya untuk jujur pada hatinya, padahal banyak wanita ada dibawah penguasaannya, namun ia tetap gunakan berbagai cara untuk dapatkan Asiyah. Dan semua itu dilandasi karena jatuh cinta nya Fir’aun.

Haruki Murakami dalam bukunya Kafka on the Shore menyiratkan, : siapa pun yang jatuh cinta adalah mencari bagian yang hilang dari diri mereka sendiri.

Ya, cinta membuat manusia serasa demam, yang bisa merubah suhu semula, melunakkan hati yang awalnya membesi (Seperti Fir’aun),

Bahkan kata, Jalaluddin Rumi ( Penyair sufi, ahli hukum, sarjana Islam dan teolog dari Persia, Lahir: 1207-1273), Cinta mengubah kekasaran menjadi kelembutan, mengubah orang tak berpendirian menjadi teguh berpendirian, mengubah pengecut menjadi pemberani, mengubah penderitaan menjadi kebahagiaan, dan cinta membawa perubahan-perubahan bagi siang dan malam.

Pun demikian pula, dengan siapapun yang sedang jatuh cinta, yang beradab bahkan biadab, yang lembut atau kalang kabut, yang berkepala batu atau kasar melulu, semua akan takluk bersama cinta, yang tak mungkin dapat lepas, sampai cinta itu sendiri pergi darinya.

Itulah cinta, melunakkan besi dan para baja, menguatkan kapas-kapas yang begitu lembut, membisa kan apa yang tak bisa, memampu kan yang awalnya tak mampu, olehnya (Cinta) manusia berseni dan punya makna.

Intinya, Sekejam-kejamnya Fir’aun, ia terpaksa harus jujur kepada hatinya sendiri.

Naguib mahfudz (Novelis/Filsuf Mesir)
mengatakan, Setelah kekuatan Tuhan maka kekuatan cinta lah yang terbesar.

Ditulis oleh :
Arwan Syahputra
(Mahasiswa Hukum’17 Universitas Malikussaleh)