Agar Kita Tetap Semangat Ber-HMI

Antara Transisi Kepemimpinan dan Macetnya Perkaderan HMI II
Bendera Himpunan Mahasiswa Islam

MUDANEWS.COM – Ber-HMI ternyata tidak seindah dan seenak yang disampaikan oleh senior-senior atau alumni-alumni kita pada saat baru-baru ber-HMI. Setelah menjadi kader, terlebih-lebih saat menjadi Pengurus, dinamika dan aktivitas di HMI membuat kita merasa jenuh dan bosan. Semangat kita pun naik-turun. Ekspektasi kita diawal ternyata banyak yang tidak sesuai antara apa yang harapkan (Das sollen) dengan kenyataan (Das sein).

Saat ber-HMI berbagai problematika dihadapi. Mulai dari kondisi pribadi kader itu sendiri, hingga kondisi HMI secara organisasional. Kader-kader yang ingin benar-benar ber-HMI dihadapakan dengan kader-kader yang menyimpang dari ajaran-ajaran dan aturan main di HMI. Menghalalkan segala cara, nampaknyapun mulai terbiasa di HMI. Syarat kepentingan ego dan hawa nafsu pun menguasai HMI. Atas faktor ini terkadang membuat rasa miris melihat kondisi HMI.

Bagi mereka yang memikirkan perbaikan HMI sangat merasakan sekali bagaimana HMI ini dicabik-cabik dan dipecah belah oleh sekelompok orang yang memang ingin menghancurkan dari HMI. Tidak salah jika katakan apabila ada orang yang ingin menghancurkan HMI, itu adalah orang komunis. Mengapa demikian? Sepanjang sejarah HMI, orang-orang komunislah yang paling ingin menghancurkan HMI agar dapat menguasai lini intelektual bangsa Indonesia sesuai ajaran komunisme.

Sebenarnya kita terlalu jauh membicarakan ke arah sana. Saya akan mencoba membicarakan hal-hal yang dasar saja, barang kali tulisan ini dibaca oleh kader-kader yang masih bersih dan belum tercemari oleh hal-hal buruk yang dibawa oleh orang-orang yang ingin menghancurkan HMI. Dan terkhusus bagai kader-kader yang semangatnya naik-turun menjalankan aktivitas di HMI.

Meluruskan Orientasi

Ber-HMI harus benar-benar memiliki orientasi atau tujuan yang jelas. Jika saat ini masih bingung apa yang menjadi tujuannya ber-HMI, alangkah lebih baiknya memikirkan serta merenungkan apa yang hendak menjadi tujuannya ber-HMI. Jika sudah mendapatkannya, lihatlah apakah sesuai dengan tujuan HMI. Baik tujuan HMI yang tersurat maupun yang tersirat. Jika bertentangan, maka baiknya keluar saja dari HMI. Sebenarnya, apa pun tujuannya masuk HMI, asal itu baik dan benar, maka HMI bisa menjadi wadahnya. Akan tetapi, jika tujuannya itu menghancurkan nama baik HMI, bertentangan dengan cita-cita HMI dan aturan main HMI, maka perlu untuk diluruskan kembali.

Saya contohkan misalnya, apabila tujuannya ingin menambah atau menjadi HMI sebagai wadah belajar beragam ilmu pengetahuan yang bermanfaat, maka HMI bisa dijadikan wadah. Jika tujuannya ber-HMI ingin cepat kaya, maka HMI bukanlah tempatnya. Jika ingin berpolitik praktis dan ikut-ikutan politik praktis, bukan HMI pula tempatnya. Jika ingin menjual kepala kader-kader untuk TARDU (istilah anak Medan) atau CINCAI dan LIMPUL WO (istilah kawan-kawan di Kisaran) maka baik keluar saja dari HMI.

Meluruskan dan atau membangun orientasi ini dapat melakukan kajian-kajian atas diri pribadi yang ingin menjadi kader yang baik serta dapat juga kembali mengkaji bagaimana sebenarnya HMI itu. Baik secara historis, filosofis dan konstitusi HMI. Dengan orientasi yang lurus, baik dan benar, maka dipastikan HMI tidak seperti yang kita lihat dan rasakan saat ini.

Beraktivitas Dengan Ikhlas

Tentu kita tahu semua sebait lirik lagu dalam Hymne yang berbunyi; “Bersyukur dan ikhlas”. Ini bukan kalimat yang gersang akan makna. Ikhlas dalam lirik Hymne HMI itu memberi motivasi dan sebuah pengajaran bahwa ber-HMI harus ikhlas. Dalam melaksanakan aktivitas-aktivitas HMI harus ikhlas tanpa pamrih. Dalam NDP HMI bagian Bab II, disana dijelaskan ikhlas akan memberi kebahagiaan yang hakiki pada diri manusia.

Kerja-kerja tanpa pamrih akan meningkatkan prestasi seorang kader. Karena sebenarnya apa yang diaktivitaskan adalah untuk meningkatkan kualitas kader-kader itu sendiri. Dengan catatan, aktivitas ber-HMI itu sebenar-benarnya aktivitas HMI. Dalam pedoman perkaderan HMI tentu sudah dijelaskan. Setiap kader HMI wajib membaca dan memahami itu.

Ber-HMI bukan ngikut-ngikut tanpa mengetahui apa yang dilakukannya itu. Apa yang dikerjakan harus diketahui kemana dan bagaimana tujuannya. Sebab itu setiap menjalankan aktivitas kepengurusan dalam setiap tingkatan ada program dan proyek kerja. Kemudian ada aktivitas kader secara individual yang meningkatkan kualitas kader HMI secara pribadi. Seperti membaca tanpa harus disuruh membaca. Menulis tanpa harus dipaksa dan berdiskusi tanpa harus diseret-seret ke dalam forum diskusi.

Kalimat; “Hasil tidak tidak akan pernah mengkhianati proses”, mungkin sudah sering kita dengar di HMI. Nah, kata proses ini adalah aktivitas. Bagaimana kita berproses jika di HMI tidak ada aktivitas. Dan aktivitas inilah yang nantinya membentuk karakter kita masing-masing.

Dalam aktivitas ini pulalah yang selalu membuat kita bosan dan jenuh. Hal itu sudah biasa, karena yang kita kerjakan berulang-ulang. Akan tetapi, perlu untuk kita ketahui tidak selamanya yang berulang-ulang itu buruk. Pepatah bijak mengatakan; “Alah bisa karena biasa”, “Lancar kaji karena di ulang”, dan pepatah bijak sejenisnya.

Jika kita membaca buku yang berjudul “HMI Candradimuka Mahasiswa” tentu kita paham dengan apa yang saya sebutkan tadi.

Untuk memelihara semangat ber-HMI tidak dilarang melakukan kegiatan berbentuk hiburan asal masih dalam koridor kebaikan. Kegaitan tidak melulu dalam aktivitas keintelektualan, seperti diskusi. Tapi jangan sampai pula melupakan tradisi intelektual. HMI sebagai organisasi mahasiswa, itu menjadi ciri khasnya.

Terkadang kita juga miris dan jengkel melihat orang-orang yang menciderai HMI. Ada rasanya ingin meninggalkan HMI. Nah, tentunya sikap itu tidak bijak. Jika orang-orang jahat berkumpul di HMI untuk merusak anak rohani-pikiran Lafran Pane ini, maka orang-orang baik pun harus berkumpul untuk menyelamatkannya. Mengapa demikian? Ingat saja apa yang dikatakan oleh Ali bin Abi Thalib; “Kejahatan yang terorganisir akan mengalahkan kebaikan yang terorganisir”, dalam Quran kita diperintahkan agar merapakat barisan. Tujuannya untuk apa? Pastinya melawan orang-orang jahat yang ingin menghancurkan HMI karena telah mengangkangi konstitusi dan independensi HMI.

Jadi bagaimana jika terlebih dahulu dibuang oleh orang-orang jahat dari kepengurusan? Jawabnya, santui saja. Ber-HMI tidak mesti menjadi pengurus. Kita masih bisa melakukan kultural-kultural atas nama HMI. Jika mereka (orang-orang jahat) itu melarangnya, berarti semakin tampaklah keburukannya. Persetan dengan aturan-aturan hukum jika kebenaran dan kebaikan dilarang. Itu artinya bukan hukum atau aturan, tapi egoisme atau kehendak ingin berkuasa.

Menjadi kader HMI tentunya tugas yang sangat berat. Akan tetapi akan ringan jika pahami apa yang menjadi hakikat seorang kader HMI itu. Ber-HMI bukan sekedar berorganisasi tanpa orientasi dan aktivitas meningkatkan kualitas diri sebagai kader HMI yang notabenenya sebagai mahasiswa.

Menjalin Persahabatan

Menjaga agar tetap semangat ber-HMI adalah dengan cara menjaga persaudaraan di HMI. Kalimat; “Di HMI Kita Berteman Lebih Dari Saudara”, adalah sebuah ungkapan kalimat yang memiliki makna yang sangat dalam. Jika persaudaraan dan atau persahabatan telah terjalin, maka tidak tidak ada lagi praktis membunuh potensi kader. Walau memang harus ada tindakan tegas pada kader-kader yang melenceng dari orientasi HMI.

Hari banyak sekali kita mendengar sesama kader HMI saling menjegal, karena tidak berasal dari gerbong atau kelompoknya. Nampaknya, di HMI sudah menjamur persekelompokan yang tidak jelas tujuannya untuk HMI. Jika berkelompok dalam diskusi-diskusi atau lembaga bidang minat dan bakat, masih dapat diterima. Akan tetapi jika saling menjatuhkan, nampaknya HMI mulai dijadikan organisasi pribadi atau sekelompoknya saja. Hal ini kita semua perlu untuk berbenah diri.

Penutup

Agar tetap semangat ber-HMI, bukan hanya melakukan apa yang saya jelaskan di atas tadi. Hal-hal yang baik sesuai kreativitas kita dapat juga menambah semangat ber-HMI. Dengan catatan, aktivitas itu tidak mencinderai nilai-nilai dan konstitusi HMI.

Demikian, mudah-mudah bermanfaat. Lain kesempatan kita sambung lagi. Terimakasih telah membaca tulisan ini. Jika ada kata-kata yang salah ketik dan menganggu perasaan, saya mohon maaf. Jika berkenan bantu membagikannya kepada teman-teman yang lain. Yakin Usaha Sampai…!!!(Dalam Bus, perjalanan dari Kisaran menuju Medan. Selasa, (10/12/2019).

Penulis: Ibnu Arsib (Instruktur HMI dan Penggiat Literasi)