Siapkah ber-HMI? Sebaiknya Dipikir Kembali

Siapkah ber-HMI Sebaiknya Dipikir Kembali
Hanafi

MUDANEWS.COM – Tahun ajaran baru di perguruan tinggi sudah tiba. Masa studi orientasi kemahasiswaan pun sudah mulai diselenggarakan di beberapa kampus di Indonesia baik perguruan tinggi negeri hingga swasta. Model maupun beragam konsep lainnya dalam penerapan masa orientasi kali ini di tengah pandemi akan menjadi kebijakan sendiri yang dikemas dengan hasil dialog bersama di berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

Masa studi orientasi mahasiswa ini sangat penting bagi mahasiswa baru untuk diikuti yang sudah resmi diterima di beberapa perguruan tinggi yang ada. Pengenalan budaya akademik di lingkungan kampus menjadi momentum bagi mahasiswa baru agar dapat menyelaminya dengan seksama maupun beradaptasi di lingkungan baru yang kental dengan dunia keintelektualan mahasiswa. Menjadi mahasiswa sendiri sangat didamba-dambakan oleh kebanyakan orang.

Dari berbagai golongan di strata sosial baik golongan atas hingga golongan paling bawah berlomba-lomba untuk dapat menyekolahkan putera-puterinya demi bisa mengenyaman pendidikan tinggi meskipun mereka sebagian besar berasal dapat dikatakan dari golongan menengah ke bawah bahkan kurang mampu secara ekonomi namun tetap tidak menjadi alasan bagi ke dua orang tua untuk dapat menyekolahkan anak ke pendidikan tingkat lebih lanjut demi harapan masa depan yang di peroleh dapat lebih cerah dari kedua orang tua.

Pada intinya pendidikan merupakan wadah untuk merekontruksi diri manusia menjadi manusia yang luhur, arif, berbudi pekerti dan memiliki pola pikir maju serta dinamis dalam segala perkembangan zaman. Hal inilah bagi mahasiswa baru yang diterima di perguruan tinggi akan diawali dengan pengenalan budaya akademik melalui kegiatan masa orientasi mahasiswa.

Pada masa orientasi mahasiswa ini merupakan momentum bagi aktivis organisasi ekstra kampus untuk dapat merekrut calon anggota baru yang nantinya memiliki kesamaan misi maupun visi untuk berjuang bersama-sama sebagai estafed ke depan. Sebutlah seperti organ ekstra kampus seperti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) maupun organ ekstra lainnya yang diperkenalkan ke para mahasiswa baru dengan menawarkan visi dan misi dari ideologi masing-masing yang dibawa.

Meskipun saat ini masa orientasi mahasiswa berada di tengah Wabah Covid-19 dan kemungkinan besar kebanyakan pengenalan orientasi studi mahasiswa melalui daring namun tidak akan menurunkan semangat para aktivis organisasi kemahasiswaan untuk tetap berupaya merekrut calon anggota baru. Salah satu di dalamnya dari sekian aktivis organisasi adalah tak terkecuali HMI. Beberapa sebaran pamlfet untuk menyambut mahasiswa baru di media sosial mulai marak dapat dilihat bersama maupun berupa banner (spanduk) penyambutan bagi mahasiswa baru di beberapa halaman kampus sudah mulai dipasang.

Hal ini tidak ada yang salah bagi asumsi penulis karena kegiatan tersebut merupakan momentum yang sangat penting untuk dapat merekrut calon anggota baru yang memiliki kesamaan misi maupun visi serta teruntuk mereka yang telah berhasil di doktrin oleh senior-senior aktivis organisasi mahasiswa yang ada di dalamnya.

Karena mahasiswa baru sendiri umumnya menurut ‘teori tabularasa’ ibarat kertas kosong yang masih labil terhadap lingkungan kampus terutama bendera-bendera organisasi kemahasiswaan sehingga menjadi manifestasi sendiri buat aktivis organisasi untuk dapat mengenalkan atau istilah lain adalah mendoktrin mereka.

Penulis ingin mengajak bagi mahasiswa baru yang saat ini mungkin sedang dalam proses pencarian organisasi ekstra ataupun yang sudah tepengaruh dengan doktrin senior untuk dapat kembali dipirkan secara matang atas kemerdekaan berfikir secara universal oleh setiap individu masing-masing mahasiswa tak terkecuali bagi calon anggota baru yang ingin masuk HMI. Mengapa demikian? Karena HMI dalam sejarah merupakan organisasi mahasiswa tertua dan terbesar di Indonesia dengan memiliki sebanyak 200 Cabang lebih di seluruh daerah tanah air.

Pasalnya, wadah HMI ini didirikan dua tahun pasca Bung Karno dan Hatta memproklamirkan kemerdekaan Republik Indonesia tepatnya, 17 Agustus 1945, artinya HMI berdiri pada tahun 1947. Tepatnya, pada 5 Februari 1947 bertepatan pada, 15 Rabiul Awal 1366 H, yang kelahirannya karena hasil pergulatan hati, pikiran, sosial dari seorang pemuda Tapanuli Selatan, Sumatera Utara yakni Lafran Pane. Didirikan HMI dilatarbelakangi oleh tiga faktor penting.

Pertama, kondisi umat Islam Indonesia mengalami kejumudan dan terbelakang.

Kedua, kondisi perguruan tinggi di Indonesia yang jamak menganut sistem sekuler. Dan yang ketiga, mewabahnya organisasi komunis di perguruan tinggi Islam. Pergulatan demikian membuat Lafran Pane memiliki peran andil besar dalam memprakasai berdirinya HMI, yang murni atas kegelisahan carut-marutnya kondisi kala itu tanpa adanya dorongan dari aliran manapun, tentu bukan tanpa bantuan orang lain yang di antaranya sebanyak 14 orang tokoh yang turut pula membantu berdirinya HMI.

“Sesungguhnya, tahun-tahun permulaan riwayat HMI adalah hampir identik dengan kehidupan Lafran Pane sendiri. Karena dialah yang punya andil terbanyak pada lahirnya HMI, kalau tidak boleh kita katakana sebagai tokoh pendiri utamanya, “(Media, No.7 Tahun.III. Rajab 1376 H/Februari 1957, Hh.32).

Kenapa perlu dipirkan apabila gabung HMI? Di dalam tubuh HMI terdapat pluralitas yang tinggi berasal dari berbagai ormas islam sehingga mendorong kader yang tergabung dalam HMI untuk bagaimana mengajak kader berfikir mendalam agar tidak hanya condong terhadap ormas yang diikuti melainkan mengajak berfikir kritis dan independen etis yang berpusat pada kebenaran.

Sejak berdirinya HMI hingga hari ini, HMI tidak pernah berada di bawah ketiak ormas Islam mana pun. Ia berdiri tegak di bawah indepedensinya. Ia turut AL-Quran dan Hadis. HMI mengajak bagaimana menjujung tinggi pluralitas terlebih Islam itu sendiri untuk bagaimana membangun Islam Rahmatan Lil Alamin.

Semisal kalian yang berasal dari ormas NU, Muhammaddiyah, Persis, FPI maupun ormas yang lain untuk tetap tidak melepaskan identitas ormas yang dimiliki namun ketika berada di tubuh himpunan bagaimana dapat mencocokkan dengan indepedensi etis himpunan yang saling merangkul bersama, bertukar ide dan gagasan dan yang terpenting adalah meningkatkan ukhuwah Islamiyah di dalamnya.

Perbedaan bukanlah masalah melainkan perbedaan merupakan kekuatan sendiri membangun kekuatan keummatan dan kebangsaan dengan semangat keislaman dan keindonesiaan.

Selain itu HMI didirikan bukan hanya sekedar menjadi perkumpulan mahasiswa saja, bukan hanya untuk menjadi tempat bagi mahasiswa baru sebatas mencari pengalaman berorganisasi dan tidak didirikan sebagai tempat yang seyognya di era digitalisasi hari ini mahasiswa untuk tergerus karakter tidak progres karena lebih mementingkan game online.

Tidak pula hanya sebatas obrolan receh, dan tidak pula didirikan sebagai tempat lembaran ijazah (tanda masuk HMI) saja namun selepas itu apatis dengan kegiatan HMI. HMI menjadi tempat bahaya bagi mahasiswa, artinya bahaya apabila apatis tidak melawan kolusi di negeri ini, apatis terhadap problematika hiruk-piruk di negeri ini, apatis terhadap kondisi sekitar, memikirkan diri sendiri dan yang lebih penting apatis untuk merangkul semua golongan.

Apalagi masuk HMI hanya karena melihat banyaknya senior HMI di jajaran pemerintah dengan dalih tersyirat ingin diperhatikan lebih bukan karena ingin diperhatikan atas dasar Ridho Ilahi yang menjadi Islam sebagai asas HMI.

Apalagi jika kita bicara lagi tentang Nilai Dasar Perjuangan (NDP) HMI yang disebut-sebut sebagai ideologinya. Yang seharusnya mempunyai tujuan sangat mulia untuk memperbaiki manusia menjadi manusia (Dimensi Horizontal), juga memperbaiki manusia dengan Tuhannya (Dimensi Vertikal). Jadi silahkan pertimbangkan kembali apabila mau bergabung HMI. Walaupun keadaan kader-kader masa kini sudah jauh dari apa yang diharapkan oleh Bapak Lafran Pane.

Bersihkan pikiran dan jiwa jika ingin masuk HMI untuk tulus memperbaiki diri, karena kecintaan terhadap HMI akan memberikan energik positif untuk proaktif terhadap keummatan dan kebangsaan sebaliknya kekecewaan terhadap HMI akan memberikan jiwa yang apatis terhadap sekitar. Jadi siapkah ber-HMI? Sebaiknya pikirkan kembali.

Oleh : Hanafi
Kader HMI Tarbiyah IAIN Madura