Hutang Indonesia Menggunung, Memangnya Masalah Buat Kita?

Hutang Indonesia Menggunung, Memangnya Masalah Buat Kita?
Gunawan Benjamin

MUDANEWS.COM, Medan – Analis Pasar Keuangan Gunawan Benjamin mengatakan saat ini media kembali diramaikan dengan isu hutang yang menggunung. Isu hutang ini memang sangat seksi jika dibahas di ranah publik dan selalu jadi gorengan politik. Kerap menimbulkan pro dan kontra.

“Padahal tidak memberikan dampak apa-apa bagi masyarakat. Saya sebagai contohnya sendiri. Saat jaman krisis 97/98 di era pak Suharto lengser. Saya pastikan kala itu saya dapat kabar atau isu dari orang orang yang bilang bahwa setiap warga Negara Indonesia menanggug hutang 12 juta,” ungkap Analis Pasar Keuangan Gunawan Benjamin di Medan, Sumatera Utara, Rabu (21/10/2020) di Medan, Sumatera Utara.

Gunawan menambahkan, untuk angkanya saya kurang begitu hafal, karena ada beberapa variasi hitungan, dalam rentang 8 hingga 12 juta kala itu. Dan saya berpikirnya kala itu, meskipun saya tidak punya hutang, tapi saya otomatis berhutang karena Negara. Sempat kuatir dan takut juga kalau suatu saat nanti akan di tagih. Tapi sampai sekarangpun besaran hutang itu tidak pernah ditagihkan ke saya.

“Jadi memang pada dasarnya hutang Negara itu tidak bisa dihitung perkepala atau perkapita. Namun, kalau di hitung hitung dengan cara matematika sih ya bisa-bisa saja. Jadi pada dasarnya masyarakat tidak perlu kuatir atas besaran hutang pemerintah tersebut,” ujarnya.

Saat ini, menurut menteri keuangan Sri Mulyani, masyarakat Indonesia berhutang sekitar 13 juta rupiah per orang tahun 2017. Namun ada versi yang menghitung sampai 20 juta saat ini. Kita jangan bahas kesana. Tetapi saya memberikan masukan ke pemerintah agar hutang dalam bentuk valas ada baiknya bisa dikendalikan.

“Hutang dalam mata uang asing perlu dikendalikan mengingat sangat erat hubungannya dengan kinerja mata uang rupiah dan bisa merusak tatanan makro ekonomi nasional. Hutang luar negeri Indonesia saat ini sebesar $402 milyar, Kalau dikalikan kurs 14.650 maka didapat sekitar 5800 trilyun. Kalau dibagi 273 juta jiwa penduduk, setiap penduduk nanggung hutang sekitar 21 jutaan,” imbuh Gunawan.

Gunawan juga membeberkan, hutang ini ada banyak pemicunya. Mulai dari kebutuhan investasi, pembelian barang konsumsi, barang modal, bahan baku atau yang berkorelasi terhadap pembangunan. Tapi ingat, hutang tidak selalu buruk. Karena banyak pengusaha sukses karena hutang, dan banyak Negara kaya juga hutangnya banyak. Bahkan jauh lebih banyak dari yang kita punya.

“Covid-19 yang membuat ekonomi melambat juga diperlu ditambal dengan cara berhutang. Jangan salah, Bansos yang kita dapatkan bisa jadi karena hutang. Jadi jangan salah menafsirkan. Yang penting rasio hutang tetap dijaga dengan baik, dan hutang digunakan untuk hal yang produktif,” kata dia.

Ia menghimbau, masyarakat jangan ikut pusing dengan masalah hutang tersebut. Hutang bukan barang asing di bidang ekonomi. Dan masyarakat kita tidak akan mendapatkan tagihan hutang tersebut, jadi jangan terbebani pikiran kalau hutang lantas nanti dibayar pakai jual pulau atau rakyatnya tanggung renteng bayar hutang. Saya pastikan ini persepsi yang salah. Tapi sayangnya banyak opini yang dikembangkan kearah yang ngawur tersebut.

“Saya juga ada baca, hutang Indonesia akan lunas jika setiap masyarakat bayar hutang sebesar sekian rupiah. Saya pastikan itu hanya asumsi. Prakteknya sekalipun masyarakat Indonesia mampu membayar hutang, lantas mau dilunasin dibayar ke negara lain. Yang ada malahan Rupiah bisa melemah terhadap US Dolar, dan membuat kita memiliki tambahan hutang baru,” jelasnya.

Nah, lanjut Gunawan, pasti pada bingung kan kok bisa begitu. Jadi biarkan yang ahli saja yang membahas ini. Masyarakat jangan terlalu memikirkan hutang Negara yang jelas-jelas diluar kapasitas kemampuan kita untuk memahaminya.

“Satu hal yang perlu diingat, itu bukan hutang yang kita akan menanggungnya. Jadi buat masyarakat jangan terlalu dipikirkan. Biarkan masalah ini jadi tanggungan para elit di negeri ini,” ujarnya. Berita Medan, red