Novel Gadis Pembangkang; Universitas Kebebasan Pikir

Novel Gadis Pembangkang; Universitas Kebebasan Pikir
Mualimin Melawan dan Andre Kurniawan

MUDANEWS.COM – Aku tidak bermaksud mengorek-orek lagi kehidupan lampau. Aku dan Mualimin, mulai bersahabat sejak aku diterima kuliah di Fakultas Hukum Universitas Al Azhar Indonesia (UAI). Ia angkatan 2011, aku 2012. Tapi sebenarnya, usianya hanya lebih tua beberapa bulan dariku. Bisa dikatakan kami sebaya.

Suatu kali usai maghrib di masjid kampus, aku bersama Nurianto menuju daerah Pasar Cipete. Di sana, ada bangunan yang diperuntukkan sebagai kos dan hanya bayar 60 persen dari total tagihan. Sebab sisanya, 40 persen ditanggung kampus. Itu asrama mahasiswa UAI. Namun kampus sering telat bayar ke pemilik gedung, imbasnya, air untuk kebutuhan kami distop, dan aku memilih mandi ke masjid depan walau takmirnya sering ngedumel.

Tiap hari, sepulang kampus, kami berjalan kaki menuju terminal Blok M untuk mencari Metromini yang lewat Pasar Cipete. Ia bernomor 67 dengan rute Blok M – Pondok Labu. Suatu saat di dalam perjalanan, Nurianto atau Anto berujar bahwa transportasi ini murah dan cocok dengan kantongku. Angkutan lain banyak, tapi tidak pas dengan keadaan ekonomi kami. Waktu itu ongkosnya hanya Rp. 2.500

Pengurus asrama bikin aturan, siapa yang sudah menempati indekos selama 2 tahun, wajib keluar dan mencari tempat lain agar temen-teman baru dari daerah memiliki ruang kosong. Waktu itu Mualimin sebagai bendahara asrama. Tugasnya menagihi bayaran anak-anak. Tapi, banyak senior yang sudah lebih dari 2 tahun tinggal tak mau keluar. Itu sangat mengganggu kami yang baru saja masuk.

Saat di asrama itulah aku mengenal Muhammad Mualimin, yang di dalam tulisannya menggunakan nama pena ‘Mualimin Melawan’. Di akhir semester 1, ia mempengaruhiku untuk gabung organisasi. Aku dicerahkan dengan suatu gagasan, ideologi, perspektif universal olehnya. Itu adalah ketika ia memasukkanku ke forum LK1 HMI Al Azhar. Forum yang mengubah hidupku.

Mulanya aku menganggap apa yang diutarakan pemateri tidak penting bagiku. Karena sebelumnya aku ditempa di lingkungan yayasan yang dimiliki Purnawirawan TNI AU. Aku masih ingat betul wejangan Babe sebelum menginjakkan kaki di Ibukota; “Nanti kamu akan menjumpai banyak paham yang terlihat islami, tapi sebenarnya mengikis sisi kemanusiaan dan merugikan diri kamu,” ujar Ketua Yayasan Pambudi Luhur.

Aku biasa memanggil beliau Babe Rilo Pambudi. Saya berangkat menuju Ibukota dengan membawa banyak impian dan nasihat darinya. Beliau pula yang menjadi penghubung antara SMA Islam Pambudi Luhur, Bogor, dengan sesepuh Fakultas Hukum UAI, Prof Erman Rajagukguk. Guru besar itu, selaku pemberi beasiswa terhadap saya.

Sebelum LK1, Mualimin berkata, ‘’Dre, siapkan pakaian cukup untuk 3 hari dan peralatan mandi. Juga obat. Kegiatan ini akan memberimu wawasan baru.’’ Belum selesai Mualimin menjelaskan, aku memotong ucapannya, ‘’untuk apa ini semua?.’’ ‘’Kamu tidak usah banyak tanya! Nanti malam habis maghrib, kamu diberangkatkan ke suatu tempat. Pakai Metromini dari kampus,’’ bentaknya. Aku takut, berpikiran aneh-aneh; jangan-jangan aku mau didoktrin jadi teroris atau diajar meledakkan bom.

Di perjalanan, kami terdiri dari berbagai fakultas yang ada di UAI. Semua diangkut dalam satu Metromini. Ada sekitar 45 orang. Aku pikir amanlah, kan banyak orang. Seandainya kegiatan ini melenceng, kami bisa merencanakan kabur bareng. Sesampai di lokasi, aku membaca tulisan di dinding bangunan Graha Insan Cita, Depok. Kami ditempatkan dalam ruangan bawah tanah. Setelah kumpul, kami langsung ditekan agar bikin Perjanjian Kelas, padahal belum juga hilang pegal usai duduk di metromini yang tak berbusa.

Masuklah tiga lelaki seram ke dalam forum. Melihat raut wajahnya, seolah ingin merenggut semua kebebasan kami selaku peserta. Mereka menyatakan diri sebagai Master dan ditugaskan oleh panitia dengan memperlihatkan SK pengangkatan selaku MoT. Kami semua menerima apa yang dikatakan ketiga orang itu. Saat menginjak sesi mencari kesepakatan mengenai tata tertib kelas, terjadi perdebatan sengit. Kami semua angkat tangan untuk memprotes.

Kami diskusi dan debat berjam jam, sehingga panitia menurunkan Ketua Umum HMI Cabang Jakarta Selatan yang galak, untuk membantu mencapai kesepakatan forum. Kami mengultimatum tidak akan mengikuti kelas jika peraturan tidak adil. Setelah semua orang keukeuh pada prinsip masing-masing, terdengar azan subuh. Kami semua lelah, lalu akhirnya kami sepakat usai subuh.

Setelah jadi kader, Mualimin sering mengajakku kegiatan. Seperti menyimak Kenduri Cinta (KC) di TIM hingga subuh, mengikuti pengajian JIL (Jaringan Islam Liberal) setiap akhir pekan di Utan Kayu, juga kajian Titik-Temu NCMS (Nurcholish Madjid Society). Pernah juga aku diajak pelatihan yang diadakan Disorda di Puncak Bogor. Itu sekalian menghilangkan kepenatan usai rutinitas kuliah. Itu seperti piknik gratis, makan enak, pulangnya pun dapat akomodasi.

Dalam berbagai kesempatan, kami sering sekali kumpul di Indomaret Jalan Ampera. Di Cilandak Timur, Jaksel. Hanya sebatas ngobrol, ngopi, saling bertukar buku, atau bercanda ngalor-ngidul tak tentu. Buku-buku itu, kami lahap di tempat tinggal masing-masing. Kami juga bahas ketidakbecusan pemerintah mengelola negeri ini. Ragam buku yang kami baca, memperkaya ide yang kami lontarkan.

Saya tahu Mualimin menulis buku, saat ia diterpa masalah semasa menyelesaikan S1-nya. Ia berkelahi dengan dosen. Ia anggota Forum Lingkar Pena. Karya pertamanya terbit pada 2016. Berjudul ‘Demonstran Payah!’. Aku senang mendengar sahabat meluncurkan buku hasil olahan pikir sendiri. Aku tidak mau dapat gratis, aku membelinya. Karena aku tahu, ia telah menghabiskan waktu cukup lama untuk menuangkan gagasan. Halaman demi sehalaman, ia lewati untuk menjadi sebuah buku.

Mendengar Mualimin menerbitkan buku kedua, Gadis Pembangkang, yang tebalnya mencapai 231 halaman, saat itu aku putuskan memesan dan melunasi lebih awal walau masih pracetak. Hingga akhirnya buku itu ku dapatkan. Aku telah melahap bab demi bab. Jika boleh ku mengutip, sepenggal babnya berjudul; Siapa mengatur Aku, Dia musuhku! Salah satu kalimatnya mengatakan begini;

“Aku lahir di zaman bergolak, anak kandung reformasi. Era baru yang menjanjikan kebebasan, pemerintahan bersih dan kemakmuran. Rezim yang katanya menjunjung tinggi, tapi faktanya tak beda dari Orde baru, hanya menggunakan kamuflase UU ITE…” ini cuplikan pendek dari redaksi yang membukakan pikiran pembaca. Gagasan lain yang tertuang pada bab-bab, terkesan tanpa tedeng aling-aling. Ia kasar, tajam, tak memperhalus kata-katanya. Itulah ciri khas Mualimin.

Aku selalu mendapat dukungan moril dari Mualimin. Pada 2018, ia mendorongku agar ikut LK II HMI di Banyuwangi. Lalu daftar Senior Course HMI Cabang Purwakarta. Saat aku ikut LKII, ia menjabat Ketua Umum BPL HMI Cabang Jakarta Selatan. Karir tertinggiku, Sekretaris Umum BPL HMI Cabang Jakarta Selatan 2018-2019. Aku baru demisioner 7 bulan lalu.

Saat jadi sekretaris BPL, aku menyelenggarakan Senior Course (SC) yang diikuti 20 peserta. Terjauh datang dari Aceh, tepatnya dari Sigli. Dari wilayah barat sana. Lalu ada juga dari HMI Cabang Sorong Papua, dari perwakilan daerah Timur. Saat Mualimin jadi Instruktur, karena alasan objektivitas, ada 3 peserta dipulangkan karena tandatangannya kurang. Mereka berasal dari Bima, Palembang, dan Tebo.

Pada 18 Desember 2019, ia meminang perempuan Subang. Kami hadir bersama kawan-kawan, ada Nur Cahyono selaku Ketua Umum BPL PB HMI, eks Ketua Umum BPL HMI Cabang Jakarta Selatan, Nurhidayah Rangkuti, juga ada Muhammad Nurianto yang jadi Staf BAWASLU RI. Ada juga Muhammad Zafi Zulkarnain selaku pengurus HMI Cabang Jakarta Selatan. Juga Bang Afrianto, Aktivis LBH Jakarta beserta istrinya.

Kami berombongan mobil menuju kediaman mempelai perempuan. Aku bahagia sahabatku berpindah status. Pada akhirnya, masing-masing kita melanjutkan kehidupan yang telah dipilih secara sadar. Demi kemajuan diri dan keluarganya. Ia, Mualimin, sosok merdeka yang menjunjung tinggi rasionalitas. Apapun yang tak masuk, pasti akan ditinggalkannya. Selamat atas novelnya.

Ditulis oleh; Andre Kurniawan, mantan Sekretaris Umum BPL HMI Cabang Jakarta Selatan