Pejuang Islam Nusantara Sumut, Kunjungi Tokoh Marhaenis dan Pergerakan Era 60-an

Pejuang Islam Nusantara Sumut, Kunjungi Tokoh Marhaenis dan Pergerakan Era 60-an
Ustaz Martono dan Noerwahid

MUDANEWS.COM, Medan – Sekretaris Pejuang Islam Nusantara Sumatera Utara Ustaz Martono pada Minggu (7/6/2020) mengunjungi kediaman Bapak Noerwahid yang telah berusia 80 tahun lebih, seorang tokoh marhaenis dan tokoh pergerakan di era tahun 60 an serta pengagum bung karno, guna bersilaturahmi dalam rangka berlebaran dan memperingati hari kelahiran Pancasila 1 juni 2020 serta untuk berbagi pengalaman beliau sebagai tokoh pergerakan GMNI di almamater kampus beliau sebagai mahasiswa fisika di ITB Bandung di era tahun 60 an.

“Di sela-sela perbincangan yang akrab dan santai dikediaman beliau yang sangat sederhana di kawasan Payabakung Sunggal seperti ayah dengan anak dan guru dengan murid beliau banyak berbicara tentang Pancasila dan Nasionalisme, di usia yang telah memasuki senja Noerwahid menghabiskan sisa hidupnya untuk menulis dan sebagai nara sumber di seminar-seminar tentang ideologi, pandangan hidup, falsafah pancasila,” ungkapnya.

Di tengah-tengah perbincangan dengan ustadz Martono, Noerwahid bercerita pengalaman hidupnya yang dramatis dan tidak akan terlupakan sepanjang hidupnya saat beliau akan dibunuh oleh pemuda rakyat, underground PKI karena beliau dianggap sebagai musuh dan mata mata dikalangan pemuda rakyat, tetapi alhamdulilah pembunuhan tersebut tidak sempat terjadi pada dirinya berkat pertolongan sahabat beliau dan mengungsikan beliau di daerah yang aman.

“Namun setelah tahun 65 justru Noerwahid dicekal oleh pemerintah saat itu, pencekalan yang tidak jelas apa sebabnya sehingga noerwahid tidak diperbolehkan meneruskan pendidikan di ITB sehingga program sarjana fisikanya tidak tuntas alias tidak selesai dan kehidupannya saat ini hanya bergantung kepada anak anaknya,” katanya.

Ustaz Martono mendengarkan pengalaman hidup sesepuh pergerakan di era tahun 60 an tersebut ustaz Martono merasa sangat sedih dan berharap agar pengalaman kelam yang dialami oleh Noerwahid tidak terulang kembali pada generasi generasi berikutnya dan jangan hanya pergolakan politik mengorbankan putra putra terbaik sesama anak bangsa, padahal disiplin ilmu fisika yang digali oleh Noerwahid di almamaternya sangat berguna untuk membangun negeri ini. Berita Medan, red