Mualimin Melawan, Pemberi Warna HMI

Mualimin Melawan, Pemberi Warna HMI
Fauzul Imam Syafi'i dan Mualimin Melawan di Bukit Watu Lawang, Cilegon. (Dok. Istimewa)

MUDANEWS.COM, Jakarta – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) makin berwarna ketika memilliki kader yang bernama lengkap Muhammad Mualimin, atau biasa dijuluki Mualimin Melawan. Ia, merupakan kader HMI Cabang Jakarta Selatan dan juga anggota BPL.

Ia, pernah menjadi Ketua Umum HMI Komisariat Al-Azhar, Cabang Jakarta Selatan dan sempat jadi Ketua Bidang Hukum dan HAM semasa kepemimpinan Ari Shafari Mau. Lalu, ia mengundurkan diri sebagai pengurus cabang dan memilih jadi Ketua Umum BPL HMI Cabang Jakarta Selatan. Ia, sekarang menjadi pengurus BPL PB HMI.

Pertama kali mengenal beliau saat saya telah menyelesaikan Latihan Kader 2 (LK2) di Cabang Pandeglang. Saya memiliki teman dari Cabang Jakarta Selatan, Syahrul Rizal.

Temanku itu sering update tentang seorang yang bernama Mualimin Melawan, kemudian saya menambahkan sebagai teman di Facebook saya. Saat itu saya belum berani menyapa beliau karena di setiap postingan, Mualimin selalu melontarkan nada-nada kritikan pedas. Tidak peduli siapa yang dikritiknya.

Pertama kali bertemu beliau ketika HMI Cabang Cilegon mengadakan LK2 tahun 2017. Saat itu Ketua Umumnya Mashuri. Karena ia jadi Master untuk kegiatan LK2 kami, sebagai panitia penjemputan peserta dan para narasumber serta instruktur, saya mendapat telpon dari Mualimin yang sebelumnya diarahkan oleh panitia acara untuk menelpon saya.

Saat itu saya belum pengurus Cabang, tapi masih menjadi ketua umum komisariat. Akhirnya saya menjemput Lelaki bernama Mualimin itu dengan motor pejuang saya, Jupiter Z, warna orange, dan butut. Saat bertemu dengan Mualimin di Terminal Seruni, saya terkaget-kaget karena nada bicaranya sangat kental logat Jawanya. Padahal kalau di tulisan, nadanya keras dan terkesan lantang.

Mulai dari situ, saya sering komunikasi dengan Mualimin. Suatu hari ketika ia mengadakan Senior Course (SC) tahun 2018, saya dikontak beliau untuk mengirim sindikat dan video mengaji sebagai syarat pendaftaran. Akhirnya saya mengikuti SC Jakarta Selatan. Dari situ saya semakin akrab dengan Mualimin.

Ketika selesai SC dan saya berkarir jadi Instruktur, Mualimin sering sekali menanyakan tentang magang sudah berapa dan bagaimana progresnya. Hingga akhirnya, saya dapat kesempatan mengelola LK1 HMI di Komisariat FISIP-IISIP, Cabang Jakarta Selatan. Itu berkat dukungan Mualimin Melawan.

Mualimin Melawan tinggal di Jakarta, tapi ia sering main ke Cilegon. Setiap ia ke Kota Baja, saya selalu menemaninya. Saya selalu mengawalnya kemanapun ia mau pergi. Bahkan ia pernah memberi saya kaos dan kalung kesayangannya. Ia, juga hadir di acara wisuda saya dan mengucapkan selamat seperti layaknya seorang tamu wisuda.

Pokoknya di balik tulisan-tulisan di media sosialnya yang keras, sebenarnya Mualimin Melawan sangat baik dan menyenangkan. Ia, selalu memberi warna terhadap HMI dengan kritik-kritik pedasnya. Sampai-sampai salah satu senior HMI di Banten marah dengannya. Ia biasa berkonfrontasi dengan generasi tua.

Senior itu marah, karena Mualimin ketika mengkritik tidak pandang bulu. Walau beda cabang, ia tetap melontarkan kritik. Di cabangnya sendiri pun, senior yang tidak benar habis dikritiknya. Bahkan, Mualimin ini pernah di skors oleh kampus karena mengkritik. Namun, ia tidak gentar dengan itu semua. Dan dari situ ia malah menghasilkan karya buku.

Namun, saat ini Mualimin jarang sekali mengkritik HMI, khususnya ke BPL PB HMI yang sebelumnya sering sekali ia kritik. Apa mungkin lelah? Apa mungkin karena ia bagian pengurus? Dan apa mungkin karena ketuanya teman sendiri? Ah, saya tidak tahu mengapa.

Tiba-tiba, beberapa bulan belakangan publik gaduh dengan munculnya novel Mualimin berjudul “Gadis Pembangkang’’. Ku lihat, banyak sekali peminat dan kader dari seluruh Indonesia menginginkannya. Tokoh dan cerita dalam novel terasa nyata seolah-olah benar terjadi. Walau saya belum baca, tapi dari review pembaca sangat menarik. Itu novel yang realistis.

Sebelum novel itu muncul, publik HMI sering digegerkan oleh kritikan-kritikan Mualimin. Melalui tulisan di media, ia melontarkan kritik keras untuk menyerang kebobrokan HMI. Ia, selain Aktivis HMI, juga dikenal dengan jurnalismenya yang sangat idealis dan pantang menghapus atau mengedit tulisan yang kontroversial.

Namun di balik kerasnya ia dalam mengkritik, menurutku jiwanya sangat lembut. Mungkin karena Mualimin Orang Jawa asli, yang terkenal dengan kelembutannya. Tapi, saya sangat bangga dengan beliau. Walau lembut, tapi masih lantang dalam menyuarakan ujaran kebenaran.

Penulis : Fauzul Imam Syafi’i (Sekretaris Umum HMI Cabang Cilegon)