Ketegasan Sang Pahlawan Lafran Pane
Net/Prof Lafran Pane

MUDANEWS.COM – Mengenai ketegasan Lafran Pane, Prof. Dr. Syafi’i Ma’arif menuliskan dalam buku otobiografinya. Ia mengatakan, selepas ujian negara dan sudah mempunyai ijazah negeri tingkat Sarjana Muda, ia kemudian melanjutkan kuliah dan mendaftarkan diri ke Fakultas Keguruan Ilmu Sosial (FKIS) – Ilmu Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Yogyakarta, jurusan Pendidikan Sejarah. Drs. Lafran Pane pada waktu itu sebagai Pembantu Dekan I, dengan tidak mudah menerimanya. Syafi’i tidak tahu entah apa sebabnya.

Dengan kegigihan dan semangat tinggi ingin kuliah di FKIS-IKIP Yogyakarta, berbagai upaya terus ia lakukan agar bisa meneruskan kuliah di FKIS-IKIP Yogyakarta jurusan Pendidikan Sejarah. Syafi’i Ma’arif meminta bantuan kepada Drs. Wuryanto, Ketua Jurusan Pendidikan Sejarah FKIS-IKIP Yogyakarta pada masa itu.

Drs. Wuryanto memberinya surat rekomendasi agar diterima oleh Lafran Pane. Tidak cukup dengan hanya surat rekomendasi, Syafi’i Ma’arif juga meminta bantuan kepada Komandan Laskar Ampera, Padamulia Lubis. Komandan itu mengantarkan Syafi’i langsung menemui Lafran Pane. Drs. M. Sanusi Latief yang pada saat itu sudah menjadi Dosen Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta dan sekarang nama kampus tersebut dikenal Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, pernah menuliskan juga surat kepada Lafran Pane agar Syafi’i Ma’arif diterima.

Walaupun Syafi’i Ma’arif waktu kuliah di Solo sudah menjadi Kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Lafran Pane sebagai tokoh utama Pendiri HMI bersama teman-temannya tahun 1947, tidak terpengaruh dengan asas itu. Lafran Pane tidak terpengaruh dengan nepotisme karena satu organisasi di HMI.

Lafran Pane menunjukkan ketegasannya dengan sikap profesionalismenya sebagai Pembantu Dekan. Waktu itu, hampir-hampir saja Syafi’i tidak jadi kuliah di FKIS-IKIP Yogyakarta, jika tidak serius berusaha terus supaya diterima oleh Lafran Pane.

Namun, situasinya terbalik ketika Lafran Pane benar-benar telah mengetahui keseriusan Syafi’i Ma’arif serta semangatnya dalam dunia keilmuan. Dalam catatan Otobiografinya tersebut, Syafi’i mengenang dengan menuliskan:

“Berbeda dengan situasi sewaktu akan masuk IKIP Yogyakarta, yang menghadapi banyak sekali kendala, justru sekarang Pak Lafran yang mengusulkanku untuk diangkat sebagai Pegawai Negeri. Sejak itu, hubunganku dengan Pak Lafran ibarat hubungan bapak-anak, baik sekali, sampai ia wafat beberapa tahun setelah dikukuhkan menjadi Guru Besar Hukum Tata Negara pada FKIS-IKIP Yogyakarta. Dengan kenyataan ini, Pak Lafran Pane juga turut melicinkan karierku sebagai tenaga pengajar di Perguruan Tinggi. Rasa terimakasihku kepadanya sungguh besar, sebab jika sikapnya tetap seperti ketika aku mau meneruskan kuliah di FKIS, tentu akan menjadi tidak jelas pula akan kemana aku setelah gelar sarjana kuperoleh.” (Hariqo, 2011: 80).

Membaca dua rangkaian kisah yang dituturkan Syafi’i Ma’arif lewat otobiografinya (saat ingin kuliah dan setelah mendapat gelar sarjana dari FKIS-IKIP Yogyakarta), dapat kita tarik nilai yang harus kita pelajari dan kita teladani.

Dari dua rangkaian cerita yang berbeda terhadap tokoh yang sama, saya menyoroti beberapa hal dari sifat atau ketergasan Lafran pane. Pertama, Lafran Pane bersifat profesional atau menjunjung tinggi sifat profesionalisme dan tidak mau nepotisme. Walau Syafi’i Ma’arif sudah menjadi Kader HMI sewaktu kuliah di Solo, tapi Lafran Pane tidak melihatnya dari sana. Akan tetapi, Lafran Pane akhirnya menerima Syafi’i itu dikarenakan melihat keseriusan dan semangatnya ingin benar-benar menimba ilmu di FKIS-IKIP Yogyakarta.

Kedua, Lafran Pane sangat mengapresiasi dan mendukung penuh pada orang-orang yang mendalami dunia ilmu pengetahuan. Lafran Pane, seperti yang diceritakan Syafi’i, turut melicinkan kariernya Syafi’i dalam dunia akademik. Perlu dicatatat, bukan karena unsur nepotisme satu organisasi, tapi karena melihat kecintaan Syafi’i pada ilmu pengetahuan.

Ketiga, yang perlu kita pelajari dari cerita di atas tadi, bahwa Lafran Pane tidak langsung begitu saja dengan apa yang telah direkomendasikan oleh teman-temannya. Ia tidak langsung meyakini apa yang dikatakan oleh orang-orang yang merekomendasikan Syafi’i tanpa langsung melihat bagaimana karakter langsung dari yang direkomendasikan. Bukan berarti dia tidak menghargai dan menghormati rekomendasi itu, akan tetapi ia tidak ingin menerimanya karena pertemanan, tapi karena potensi dari seorang yang direkomendasikan. Bukan hanya itu, Lafran juga tidak pernah melakukan suatu rekomendasi supaya anak-anaknya mendapatkan pekerjaan di suatu tempat pekerjaan yang dikelola oleh Alumni-alumni HMI. Jika dia mau, tentu bisa saja tanpa ada penolakan. Akan tetapi, biar potensi atau kualitas seseorang tersebutlah yang membuat ia maju dan berkembang.

Sungguh sangat relevan jika tarik ke masa sekarang. Dari tiga nilai yang dapat penulis soroti (mungkin masih ada lagi), perlu kita contoh dan aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Kita implikasikan dalam dunia pekerjaan kita, baik sebagai seorang Kader HMI, bisa meniru apa yang dilakukan oleh Syafi’i atas kecintaannya pada ilmu, dan juga dari Lafran Pane, tidak mengandalkan unsur karena HMI-nya. Dan untuk Alumni-alumni, dapat kiranya meniru apa yang dilakukan Lafran Pane.

Akan tetapi, saat ini sangat banyak yang tidak meniru sifat-sifat yang dipraktekkan oleh Lafran Pane, baik dari kalangan Alumni dan Kader HMI. Dapat kita temukan contoh kasus di masa saat ini. Di mana unsur nepotisme satu organisasi itu sangat kental dalam dunia pekerjaan. Bukan melihat dari sisi potensi atau kualitas kader atau alumni itu sendiri.
Kader HMI hari ini juga sudah banyak tidak mampu mandiri dalam berorganisasi sehingga ketergantungan yang amat sangat pada senior-senior atau alumni-alumninya sendiri. Mungkin penulis, secara sadar dan tidak sadar masuk dalam perangkap nepotisme organisasi ini juga. Jikalau dalam hal yang wajar, bagi penulis itu tidak menjadi masalah. Akan tetapi, jika sudah tidak karena kualitas dan potensi lagi ukurannya, itu sudah jauh dari nilai-nilai kebenaran yang diajarkan di dalam HMI.

Di tingkat Alumni HMI juga demikian, walaupun tidak seluruh Alumni HMI. Alumni-alumni kita menerima adik-adiknya di suatu lapangan pekerjaan bukan karena melihat dari kualitas atau kepribadian yang baik. Akan tetapi unsur nepotisme satu organisasi. Bahkan, sesama keluarga organisasi pun melakukan transaksi keuangan dan lobi jabatan agar diterima disuatu pekerjaan atau instansi.

Jika hal negatif itu terus terjadi, maka akan merugikan HMI dan orang banyak. Nilai-nilai kebaikan yang diajarkan dalam perkaderan-perkaderan HMI, baik secara formal maupun informal tidak ada gunanya lagi. HMI yang kita katakan bertujuan (yang terakhir) mewujudkan masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah Swt. tidak akan pernah terwujudkan, karena kita sudah tidak berlaku adil pada orang-orang yang mempunyai kualitas, akan tetapi karena tidak satu organisasi dengan seseorang tersebut, ia malah dibuang. Itu suatu perbuatan yang tidak adil dan sangat melanggar norma-norma yang diajarkan di HMI.

Ada suatu istilah di HMI ini yang aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari banyak salah dipraktekkan oleh Kader-kader HMI dan Alumni-alumni HMI. Walaupun ada yang mempertahankan nilai-nilai kebaikan itu, mereka sangat sedikit dibanding jumlah keluarga HMI seluruh Indonesia. Istilah itu adalah “HMI Connection” atau ada yang mengatakan “Koneksi Hijau-Hitam.”

Seharusnya HMI Connection ini dipergunakan untuk mewujudkan tujuan HMI yang tersurat maupun yang tersirat. Tujuan HMI yang tersurat itu dapat kita lihat di Anggaran Dasar (AD) HMI, sedangkan yang tersirat dapat kita lihat pada nilai-nilai kebaikan yang diajarkan oleh HMI. Koneksi ini jangan dimanfaatkan untuk keuntungan keluarga HMI itu sendiri, tapi untuk ummat walaupun dia tidak masuk dalam HMI. Mengukur orang dari potensi atau kuliatasnya, bukan dari dia itu Kader HMI atau bukan, bukan dari dia itu Alumni HMI atau bukan.

Bukankah HMI itu didirikan untuk negara? Di dirikan untuk bangsa atau ummat? Dan untuk kepentingan agama Islam? Untuk itu ketegasan menjalankannya sangat dibutuhkan, sebagaimana Lafran Pane telah menunjukkannya kepada kita semua.[]

Penulis: Ibnu Arsib (Instruktur HMI, Pemerhati Kaum Muda, dan Penggiat Literasi di Sumut).