Ketua SAMURAI : Penutupan Sekolah Tak Bisa Diterima Logika

Ketua SAMURAI : Penutupan Sekolah Tak Bisa Diterima Logika
Ketua Samurai, Abdul Salim

MUDANEWS.COM, Sergai – Berkaitan dengan wabah yang melanda negeri ini, sudah lebih setengah tahun pembelajaran di ruang sekolah dinon-aktifkan di Kabupaten Serdang Bedagai. Kita sadari bersama bahwa usaha pemutusan mata rantai dan strategi mengurangi penyebaran virus perlu terus diterapkan agar bisa memutus rantai penularan Covid-19.

Secara konkret, langkah pengurangan penyebaran dapat dilakukan dengan berbagai cara yang saling berkaitan, mulai dari pengetesan, isolasi, karantina, penelusuran kontak, identifikasi kontak, dan yang sering terdengar di masyarakat mencegah penularan Covid-19 adalah dengan melakukan perilaku jaga jarak, mungkin ini salah satu alasan kuat mengapa sekolah harus ditutup.

Namun fakta diluar sekolah memberikan hidangan dan perasaan yang membingungkan bagi pandangan mata, dimana keramaian masih banyak kita temukan, bahkan keramaian itu ada yang sengaja di ciptakan dengan dalih berbagai alasan kegiatan.

Menyikapi hal ini Abdul Salim selaku Ketua SAMURAI menyatakan penutupan sekolah tidak bisa diterima logika.

“Menjaga jarak sebagai alasan penutupan sekolah sudah tidak bisa diterima oleh logika, hal ini didasari pada kenyataan masih banyaknya kerumunan dan keramaian diberbagai tempat,” jelasnya, Selasa (16/09).

Menurutnya, sangat banyak kerumunan masih dibiarkan di luar sana, bahkan untuk kegiatan yang tidak berguna.

“Kita bisa melihat dipinggiran jalan, di pasar, diberbagai kegiatan, anak anak usia sekolah ataupun mereka yang sudah lanjut usia berkumpul dengan jumlah yang cukup besar,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa penutupan sekolah berpotensi untuk menimbulkan problematika baru di tengah kehidupan masyarakat, tidak melakukan pembelajaran sama saja dengan membiarkan anak-anak bangsa menutup kesempatan untuk menambah kecerdasan individu, termasuk didalamnya lahirnya masyarakat miskin baru serta terbengkalainya pekerjaan orang tua karena harus lebih banyak waktu mengurus anak.

Salah satu contoh potensi lahirnya masyarakat miskin baru akibat penutupan sekolah misalnya adalah mereka yang biasanya mencari pemasukan dari kantin sekolah, tentu dengan ditutupnya sekolah maka penghasilannya akan ikut serta tertutup.

“Maka saya selaku salah satu individu yang ikut dalam mewujudkan tujuan Negara Indonesia mencerdaskan kehidupan bangsa, ini tercantum didalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Indonesia 1945, mempertanyakan masih adakah alasan yang logis untuk menutup sekolah?

Bukankah sebaiknya sekolah tetap dibuka dengan menyediakan protokol kesehatan yang maksimal di sekolah? Sehingga persoalan kesehatan, pendidikan dan persoalan ekonomi sama sama terselesaikan,” tegasnya. Berita Sergai (red)