Muslim Tionghoa di Indonesia

Muslim Tionghoa di Indonesia
Hasanuddin

MUDANEWS.COM – Bisa jadi karena ulah Komunis China pimpinan Xi Jinping sehingga citra orang Tionghoa jadi negatif. Kerakusan dan kemunafikan Komunis China memang mempropagandakan anti kapitalisme, namun jutaan petinggi Komunis itu menimbun harta kekayaan mereka, termasuk merumahkan keluarga mereka, menuntut ilmu di negeri-negeri Kapitalis seperti Amerika, dan di sejumlah negara Eropa.

Kerakusan nampak dari klaim mereka terhadap Laut Cina Selatan yang tidak sesuai hukum laut internasional. Agresifitas inteligen mereka di berbagai negara, terutama di Amerika telah memicu anti Asia. Mahasiswa China, para pengusaha asal China terbukti banyak yang melakukan aksi spoinase di Amerika sehingga menimbulkan reaksi dari otoritas Amerika, serta aksi dari masyarakat Amerika terhadap warga Asia di Amerika.

Bukan hanya sampai disitu, kebengisan pemerintahan Komunis China telah memaksa sejumlah pengusaha besar China seperti Jack Ma, dan sejumlah konglomerat China lainnya untuk melepas saham mereka. Di lain pihak, mereka juga menindas aktifis pro demokrasi di Hongkong, Xinjiang, Uighur, maupun para aktifis buruh di Shanghai, Gwandong, hingga Hongkong.

Manipulasi informasi dan berbagai kejahatan kemanusiaan yang dilakukan rezim Komunis China berimbas kepada munculnya stigma buruk terhadap warga China perantauan. Termasuk mereka yang sebenarnya tidak ikut terlibat dalam mata rantai kejahatan Komunis China itu.

Ideologi Komunis memang dimana-mana melakukan penindasan. Tidak saja di China, di Korea Utara, di Vietnam, para penguasa diktator Komunis ini melakukan kejahatan kemanusiaan.

Menolak Komunis

Warga Muslim tentu tidak menerima ideologi Komunis. Termasuk warga Muslim di China, sebab itu mereka selalu jadi pesakitan, ditindas oleh warga China yang berhaluan Komunis. Di luar negeri China, banyak warga etnis keturunan China yang beragama Islam, termasuk di Indonesia.

Di Indonesia, warga Muslim keturunan Tionghoa, yang tergabung dalam Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) hidup berdampingan dengan warga negara yang lain. Mereka memiliki karakter dan akhlak yang baik. Mereka patut menjadi tauladan dalam hal pelaksanaan akhlak Islam. Sayangnya memang jumlahnya belum begitu besar.

Mungkin karena warga Muslim Tionghoa, seperti halnya Muslim pada umumnya, tidak begitu menaruh penting untuk menumpuk harta benda sehingga kehidupan Muslim pada umumnya tidak menonjol dari sisi kepemilikan harta benda. Sebab itu, tidak nampak adanya warga muslim yang masuk dalam kategori konglomerat papan atas.

Situasi itu sesungguhnya biasa saja.Namun karena terjadi dalam masyarakat yang secara ekonomi memang tidak seimbang, karena ratio antara yang kaya dengan yang miskin terlalu tinggi ketimpangannya, sehingga rentan menimbulkan kecemburuan sosial.

Akhir-akhir ini, muallaf warga keturunan Tionghoa, Jepang, Korea yang masih serumpun, makin banyak. Mereka intens mempelajari ajaran Islam. Mereka memperlihatkan bagaimana mesti menjadi seorang Muslim yang baik, dan banyak di antara mereka yang patut diteladani.

Karena itu, di tengah stigma buruk atas sepak terjang Komunis China, kita tidak boleh melakukan generalisasi terhadap semua etnis keturunan Tionghoa, dengan menuduh bahwa mereka semua adalah agen-agen Komunis. Warga Muslim keturunan Tionghoa umpamanya, mereka sudah pasti bukan penganut ajaran ideologi Komunis.

Hubungan baik antara sesama warga Muslim tentu saja mesti terus diperbaiki di kalangan umat Islam. Demikian halnya dengan hubungan dengan pemeluk agama lain. Namun, dalam hal ideologi Komunis, kita memang patut waspada. Karena di manapun komunis ini berkuasa, dimana pun mereka banyak beraktifitas selalu terjadi penistaan, terhadap para pemeluk agama.

Di sisi lain, peran saudara kita yang Muslim Tionghoa dalam menjembatani perbedaan-perbedaan kebudayaan dengan warga negara dari beragam etnis yang lain, tentu perlu ditingkatkan. Warga Muslim Tionghoa dapat berinisiatif melakukan berbagai upaya guna memperbaiki hubungan antara etnis keturunan China pada umumnya dengan etnis lain di Nusantara.

Hal ini perlu di tengah meningkatnya stigma negatif terhadap warga etnis keturunan akibat ulah Partai Komunis Tiongkok di berbagai belahan dunia. Dunia ini terlalu kecil dengan kemajuan teknologi informasi. Sehingga kejadian di tanah Tiongkok dapat diketahui dalam hitungan jam, bahkan menit di berbagai belahan dunia lainnya.

Semoga Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang senantiasa menjaga ukhuwah islamiyah kaum Muslimin. Sesungguhnya Dialah yang telah menurunkan ketenangan dalam hati orang-orang yang beriman.

Depok, Sabtu, 24 April 2021

Oleh : Hasanuddin
Ketua Umum PB HMI 2003-2005