Ilmu Pengetahuan Dalam Perspektif NDP HMI

MUDANEWS.COM – Sebelum kita membicarakan lebih jauh tentang isi sebagaimana judul tulisan sederhana ini, terlebih dahulu kita bicarakan secara dasar dan singkat mengenai ilmu pengetahuan itu sendiri. Barang kali ini berguna sebagai kontruksi dasar kita dalam memahami ilmu pengetahuan dalam perspektif Nilai-Nilai Dasar Perjuangan Himpunan Mahasiswa Islam (NDP HMI) yang terdapat pada Bab 7; Kemanusiaan dan Ilmu Pengetahuan, juga yang berkaitan dalam bab lain.

Dalam khazanah filsafat, baik itu filsafat pengetahuan (epistemologi), filsafat ilmu, dan logika, pengetahuan dan ilmu itu terlihat ada perbedaan. Pengetahuan (knowledge) dalam filsafat disebut pengetahuan biasa. Sedangkan ilmu (science) disebut sebagai ilmu pengetahuan atau pengetahuan ilmiah.

Mundiri (2014) menjelaskan bahwa pengetahuan (knowledge) merupakan hasil dari aktivitas mengetahui, yakni terbukanya suatu realitas ke dalam jiwa hingga tidak ada keraguan di dalamnya. Aktivitas mengetahui ini berangkat dari keraguan. Setelah keraguan itu sudah terpuaskan dengan hanya mengetahui kenyataan sesuatu, maka itulah yang disebut pengetahuan. Sedangkan, ilmu pengetahuan (science) tidak hanya cukup sekedar mengetahui saja. Ilmu (science) akan mencari penjelasan lebih lanjut dari sekedar menjawab keraguan atau sekedar apa yang dituntut oleh pengetahuan biasa (knowledge).

Pendapat di atas semakna dengan penjelasan Burhanuddin (2012) yang mengatakan bahwa, pengetahuan biasa hanya cukup mengetahui dari apa yang dialami, tidak memandang sebab-sebabnya, tidak menyelidiki secara lengkap dan tidak mendalam, serta tidak menggunakan metode dan sistem. Sedangkan, ilmu pengetahuan (science) kebalikan dari pengetahuan biasa (knowledge).

Dari dua penjelasan singkat tadi, pastinya kita dapat menarik perbedaan antara pengetahuan biasa (knowledge) dengan ilmu pengetahuan (science). Perlu juga kita ketahui, walau pengetahuan biasa (knowledge) dan ilmu pengetahuan atau pengetahuan ilmiah (science) ada perbedaan, keduanya tidak bisa dipisahkan. Keduanya memiliki keterkaitan yang sangat erat. Ilmu pengetahuan biasanya mensistematisasikan pengetahuan biasa dengan metode-metode ilmiah. Artinya, pengetahuan biasa dapat dijadikan bahan dasar atau langkah awal untuk menelitinya atau mendalaminya dengan berbagai kaidah-kaidah pengetahuan ilmiah (science) secara sistematis, mendalam, terukur, teruji dan dapat dipertanggungjawabkan atau dibuktikan secara jelas, bukan sekedar asumsi atau pendapat biasa.

Nah, tentunya penjalasan singkat di atas tadi memunculkan pertanyaan-pertanyaan; yang manakah yang dimaksudkan NDP HMI, apakah pengetahuan biasa (knowledge) atau ilmu pengetahuan (science)? Bagaimanakah NDP HMI memandang keduanya? Serta pertanyaan praktis adalah apakah guna ilmu pengetahuan itu?

Ilmu Pengetahuan Dalam Perspektif NDP HMI

Sebagaimana yang telah kita bicarakan di atas tadi, walau kedua-duanya ada perbedaan, akan tetapi memiliki keterhubungan yang sangat dekat. Saya sering menyebutkannya, “kedua-duanya dalam satu ikatan”, yaitu dalam ikatan filsafat pengetahuan (epistemologi), filsafat ilmu atau pun dalam logika.

Nah, dari landasan berpikir ini, NDP HMI tidak lagi membeda-bedakannya dalam artian berkontradiksi dalam fungsinya. Walaupun kita akan temukan terminologi yang digunakan itu “ilmu pengetahuan” akan tetapi secara fungsinya dijadikan alat untuk mencari dan menemukan kebenaran-kebenaran. Dalam NDP HMI, Ilmu pengetahuan ini juga dijadikan perkakas untuk mengetahui, memahami apa yang ada di dunia sekitarnya, memahami sejarah, dan bahkan dirinya sendiri. Pastinya dengan berbagai metode agar lebih dimudahkan dalam proses pencarian, pemahaman menyelesaikan permasalahan yang ada, dan juga mengungkap hukum yang tetap (sunnatullah) dan kebenaran-kebenaran; baik kebenaran yang sifatnya relatif maupun kebenaran yang mutlak.

Ilmu pengetahuan dalam perspektif NDP HMI dalam bab pertama menyebutkan bahwa ilmu pengetahuan menjadi wewenang manusia untuk mengusahakan dan mengumpulkannya dalam kehidupan di dunia ini. Ilmu pengetahuan ini meliputi ilmu alam dan ilmu tentang manusia (sejarah). Ilmu juga dikatakan bagian dari faktor terwujudnya kehidupan yang baik, selain perlunya iman dalam kehidupan manusia. Dalam perspektif NDP HMI, antara Iman dan ilmu (knowledge dan science) tidak saling berkontradiktif. Jadi tidak perlu dipertentangkan, karena iman dan ilmu memiliki ranahnya masing-masing. Tidak perlu dibuat prioritas mana yang primer dan mana yang sekunder. Dua-duanya perlu dan harus ada dalam diri kita.

Selanjutnya, dalam Bab 8; Kesimpulan dan Penutup, poin kelima ditegaskan bahwa betapa pentingnya ilmu pengetahuan bagi manusia, “Kerja kemunusiaan atau amal saleh itu merupakan proses perkembangan yang permanen. Perjuangan kemanusiaan berusaha agar perubahan dan perkembangan dalam masyarakat selalu mengarah kepada yang lebih baik, lebih benar. Oleh sebab itu, manusia harus mengetahui arah yang benar dari pada perkembangan peradaban di segala bidang. Dengan perkataan lain, manusia harus mendalami dan selalu mempergunakan ilmu pengetahuan. Kerja manusia dan kerja kemanusiaan tanpa ilmu tidak akan mencapai tujuannya, sebaliknya ilmu tanpa rasa kemanusiaan tidak akan membawa kebahagiaan bahkan mungkin menghancurkan peradaban. Ilmu pengetahuan adalah karunia Tuhan yang besar artinya bagi manusia. Mendalami ilmu pengetahuan harus didasari dengan sikap terbuka, mampu menangkap perkembangan pemikiran tentang kehidupan berperadaban dan berbudaya, kemudian mengambil dan mengamalkan diantaranya yang baik.”

Nurcholish Madjid atau yang akrab di sapa dengan Cak Nur dan sebagai penyusun utama NDP HMI, juga menjelaskannya dalam buku yang berjudul “Islam Doktrin dan Peradaban”. Buku yang menurut saya sebagai bahan bacaan paling pokok dalam memahami lebih isi NDP. Bahan bacaan pokok ini maksudnya tidak melepaskan bahan bacaan lainnya.

Cak Nur mengatakan bahwa ilmu dalam pandangan Islam sangat di anjurkan, berbagai firman Allah Swt. dan sabda Muhammad Saw. baik secara langsung maupun tidak langsung adalah menegaskan supaya manusia harus berilmu pengetahuan. Manusia sangat Tuhan dianjurkan untuk berpikir, merenung, menalar dan mengamati, yang mana hal ini merupakan bagian daripada metode-metode dalam mendapatkan kebenaran. Dan senada dengan NDP HMI ilmu pengetahuan dapat mewujudkan peradaban manusia.

Dari fakta sejarah yang dijelaskan Cak Nur, bahwa peradaban manusia umumnya, dan khususnya peradaban Islam pernah jaya berabad-abad lamanya tidak bisa dilepaskan dari penguasaan ilmu pengetahuan setelah Peradaban Yunani dan Peradaban Romawi mengalami keterpurukan, serta saat iti Eropa masih dalam “kegelapan”. Tanpa bersikap apologetis, Cak Nur menjelaskan perkembangan ilmu pengetahuan saat ini tidak lepas dari peran ilmuwan-ilmuwan Muslim dahulu yang banyak mengembangkan metode yang lebih progres dibanding zaman filosof Yunani. Akan tetapi, ilmuwan-ilmuwan atau filsuf-filsuf muslim tidak bisa melepaskan diri dari pengaruh dari filsuf-filsuf atau ilmuwan-ilmuwan sebelumnya.

Pengaruh ilmu pengetahuan yang tak melepaskan pengaruh iman dan amal sholeh benar-benar menjadikan manusia dapat mewujudkan kemanusiaan dan peradaban. Jelas bahwa, ilmu menjadi menjadi alat bagi manusia untuk mengelola dunia ini secara baik dan benar. Hal ini sangat dianjurkan oleh Cak Nur dan begitu juga ditegaskan dalam NDP HMI.

Azhari Akmal Tarigan yang akrab dipanggil Bak Akmal dalam bukunya yang berjudul “Nilai-Nilai Dasar Perjuangan HMI; Teks, Interpretasi dan Kontekstualisasi” memberikan penjelasan tentang ilmu sebagai bentuk interpretasi dan kontekstualisasinya. Sehingga berdasarkan maknanya, ilmu adalah pengetahuan yang jelas tentang sesuatu. Dalam ilmu, sebut Bang Akmal, setidaknya ada tiga makna yang terkandung, yaitu pengetahuan, aktivitas, dan metode. Dan yang tiga makna ini adalah kesatuan logis yang harus ada secara berurutan. Ilmu harus diusahakan dengan aktivitas manusia, aktivitas harus diusahakan dengan metode ilmiah tertentu, dan akhirnya metode mendatangkan pengetahuan yang sistematis.

Secara fungsinya, menurut pensyarah NDP HMI ini dan juga sekaligus Penceramah NDP HMI Tingkat Nasional, “Ilmu merupakan alat manusia yang paling mungkin untuk mengelola alam dan memanfaatkannya untuk kesejahteraan manusia serta semesta. Ilmu pengetahuan juga berguna untuk membuat kehidupan manusia lebih mudah.

Ilmu pengetahuan akan memastikan manusia mengelola alam dengan cara benar. Tidak boleh sembarangan, asal-asalan, atau asal jadi. Kesalahan dalam mengelola alam, bukan saja membuat manusia tidak berhasil meraih banyak manfaat, melainkan alam akan “menyerang balik” manusia dan mengakibatkan kehancuran manusia serta semesta.”

Penutup

Sebagai bentuk penutup tulisan sederhana ini, ada sebuah penegasan bahwa dalam NDP HMI tidak memisahkan pengetahuan biasa (knowledge) dengan pengetahuan ilmiah atau ilmu pengetahuan (science), disebabkan karena keduanya adalah alat untuk mengungkap kebenaran dan tidak kontradiktif. Ilmu pengetahuan ini menjadi alat manusia untuk memudahkan kehidupannya dan membangun peradabannya. Hal ini pun terwujud pabila ilmu pengetahuan tidak boleh menyampingkan unsur-unsur kemanusiaan.

Ilmu pengetahuan tidak boleh lepas dari persahabatannya bersama iman. Iman dan ilmu tidak berkontradiktif sehingga tidak perlu mana yang terlebih dahulu diprioritaskan. Hal ini tidak perlu karena iman dan ilmu mempunyai ranahnya masing-masing dan metodenya yang berbeda-beda. Iman dan pencabangannya adalah wewenang wahyu. Sedangkan bidang ilmu pengetahuan adalah wewenang manusia untuk mengusahakan dan mengumpulkannya dalam kehidupan di dunia ini. Dengan catatan, tanpa harus mempertentangkan yang bukan ranahnya.

Yang terakhir, ilmu pengetahuan menjadi alat bagi manusia untuk menopang kehidupannya yang berkemajuan dan dapat mengelola alam dengan baik serta benar tanpa melawan ketetapan-ketetapan yang telah ada (sunnatullah). Dalam hal ini bukan ingin mengatakan bahwa ilmu itu tidak bebas, maksudnya adalah sunnatullah atau hukum-hukum Tuhan itu telah ada dan metode ilmu pengetahuan yang digunakan tidak bertentangan. Sehingga, jelas bahwa ilmu pengetahuan itu dapat bermanfaat bagi kehidupan serta membantu mewujudkan peradaban manusia.

Sekian tulisan sederhana ini, semoga ada manfaatnya buat kita semua. Terkhususnya saya secara pribadi dan Kader-kader HMI yang terus memperdalam ilmu pengetahuannya di Himpunan ini. Jika boleh berpesan, memberi saran dan atau lebih tepatnya mengajak, mari kita jadikan HMI sebagai wadah yang meningkatkan kualitas diri kita. Sehingga nantinya di masyarakat kita menjadi insan-insan yang bermanfaat. Amiin.[]

Penulis: Ibnu Arsib (Instruktur HMI dan Penggiat Literasi di Sumut).