68 Tahun UISU, Masihkah Kampus Perjuangan atau Per-uangan?

68 Tahun UISU, Masihkah Kampus Perjuangan atau Per-uangan?
Kampus Universitas Islam Sumatera Utara (UISU)

MUDANEWS.COM – Hari ini, Selasa 7 Januari 2020, Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Medan genap berusia 68 tahun. Jika kita ibaratkan UISU ini sosok manusia, ia tidak lagi dapat dikatakan muda, ia mulai tua renta dan fisiknya mulai melemah, dan wajah-wajah sudah keriput. Di usia 68 tahun ini, sejak berdirinya tahun 1952, UISU Medan menjadi kampus tertua di Indonesia, di luar Pulau Jawa.

Dalam sejarahnya, UISU Medan di dirikan oleh Bahrum Dzamil beserta kawan-kawannya atas niatan kepedulian pada pendidikan ummat Islam. Hal ini pun di sambut baik oleh masyarakat Medan dan khususnya Kesultanan Deli pada masa itu. Terlebih-lebih sangat disambut baik oleh tokoh pendidikan Islam yang sudah tidak asing lagi dalam sejarah Republik ini, yaitu M. Natsir. Bukti prasastinya masih tertempel di dinding Kampus UISU saat ini.

Tujuan pendirian Perguruan Tinggi Islam ini (UISU) adalah bentuk perjuangan Bahrum Dzamil dkk. untuk tetap berdakwah dalam dunia pendidikan. UISU pun disebut-sebut kampus perjuangan, sebagaimana penyebutan pada beberapa kampus yang semisi dengannya untuk memperjuangkan ummat dalam mendapatkan pendidikan di perguruan tinggi, seperti UII Yogyakarta, UMI Makassar, UNISBA Bandung, UIR Riau dan UNISSULA.

Kampus-kampus Islam ini berdiri adalah memperjuangkan agar supaya ummat Islam yang tidak mampu belajar di perguruan tinggi. Tidak heran jika kita pernah mendengar bahwa UISU dahulunya dibantu oleh ummat di awal-awal pendiriannya. Atas dasar ini pulalah, UISU sering disebut kampus ummat.

UISU bukanlah milik pribadi dan bukan pula milik keluarga. Perlu kita tekankan lagi bahwa UISU Medan adalah kampus ummat. Sesuatu yang aneh memang, sampai hari ini UISU belum di daftarkan ke Badan Wakaf Indonesia (BWI) sehingga sering mengalami gejolak internal di dalam Kampus UISU, baik tingkat Yayasannya maupun Akademisnya. Mengapa ini terjadi? Jawabannya sudah menjadi rahasia umum, bahwa aset-aset UISU baik milik UISU maupun dana bantuan untuk UISU lah menjadi faktornya. Jika tidak itu, tidak mungkin terjadi perebutan kekuasaan di UISU yang sampai ke ranah hukum.

Kampus UISU ini pun pernah jaya dan menjadi kampus favorit masyarakat di Sumut. Bahkan, beberapa negara di Timur Tengah melirik kampus Islam ini dan bersedia memberi bantuan untuk membangun UISU. Entah sekarang itu masih ada atau tidak. Tapi, setelah konflik UISU 2006, UISU pun terpuruk. Terjadi dualisme, hingga menyatu kembali tahun 2014 sampai sekarang.

Setahu penulis, dalam sejarah UISU didirikan untuk membantu ummat agar dapat mengenyam pendidikan di dunia perguruan tinggi, sehingga UISU benar-benar membantu ummat. Bagi siapa yang tidak mampu secara biaya, maka UISU siap menerimanya sehingga uang kuliah tidak dibuat mahal.

Mahasiswa tidak diperas untuk membiayai kampus, tapi Yayasan UISU bekerja untuk mengelola kampus dengan baik. Birokrasi UISU tidak memeras mahasiswa UISU dengan menaikkan uang kuliah. Bagaimanakah dengan sekarang?

Kampus pun dikelola secara profesional dan mengedepankan kualitas bukan nepotisme. Pegawai-pegawainya adalah orang yang siap bekerja dan mengabdi di UISU. Dosen-dosennya adalah mereka-mereka yang tidak gila gaji tapi benar-benar memberi hasupan ilmu pengetahuan pada mahasiswa. Saya masih ingat bagaimana penjelasan Prof. Subanindiyo sebelum beliau wafat. Saya masih ingat bagaimana cerita kejayaan UISU dari M. Yamin Lubis yang wafat beberapa hari lalu. Serta cerita-cerita kejayaan UISU dari berbagai orang yang saya temui.

Mereka dulu yang mengelola kampus UISU adalah yang benar-benar cinta pada UISU dan tahu betul sejarah untuk apa UISU di dirikan. Mereka tahu betul bahwa UISU didirikan untuk memajukan pendidikan Islam dan bentuk pengabdian pada agama dan negara lewat pendidikan. UISU bukan mereka jadikan sebagai tempat mengeruk materi mengisi periuk-periuk yang sudah terisi. UISU adalah tempat pengabdian. Bukan tempat bisnis mencari materi dengan gaji yang diperas dari mahasiswa. Apakah itu masih terjadi saat ini di UISU?

Dahulu, sebelum keterpurukan UISU seperti saat ini, walau menurut LLDIKTI UISU salah satu kampus swasta terbaik, mahasiswanya luar biasa banyaknya. Jauh melebihi UMSU dan beberapa kampus swasta lainnya. Tapi sekarang, kita dapat menyaksikannya sendiri. Apa sebab ini terjadi? Silahkan cari sendiri jawabannya. Orang-orang yang ada di UISU saat ini pasti bisa menjawabnya.

UISU dahulu dikenal dan jaya karena kedekatannya pada ummat dan prestasinya. Saya masih ingat cerita orang tua di kampung saya, bahwa ia mengenal UISU dari program pengabdian masyarakat dan mahasiswa-masiswanya yang dekat dengan ummat. Bagaimanakah saat ini? Tanyakanlah jawabannya pada mereka yang saat ini ada di kampus UISU.

Di usia 68 tahun sekarang, masihkah UISU kampus ummat atau kampus elit?
Di usia 68 tahun sekarang, masihkah UISU kampus perjuangan atau kampus Per-uangan?

Jika boleh menyarankan, jadikanlah UISU menjadi badan wakaf dengan mendaftarkannya ke BWI. Jadikanlah UISU kampus yang dapat dinikmati oleh ummat yang miskin. Murahkanlah biaya pendidikan di UISU. Perbaiki dan robahlah sistim kapitalis pendidikan yang ada di UISU saat ini. Dan pada kita mahasiswa harus selalu mengkritik apa kebijakan yang menyalah di kampus UISU. Kita (mahasiswa) jangan mau diperas bagai sapi perah. Jika ini terjadi, Allah Swt. dan ummat akan membantu kita semua. Amin.

Mohon maaf jika ada yang salah ketik, penjelasan yang tidak lengkap dan kurang berkenan dalam tulisan curhatan ini. Tulisan ini semata-mata ditulis karena kegembiraan bahwa UISU masih ada sampai hari ini dan juga sekaligus kesedihan melihat keadaan UISU saat ini.

Yaumil milad UISU. Yukusa!!![]

Penulis: Ibnu Arsib (Penggiat Literasi di Sumut dan Mahasiswa Abadi di UISU)