Antisipasi Dampak Covid-19 (8), New Normal : Pembukaan Rumah Ibadah

Antisipasi Dampak Covid-19 (8), New Normal : Pembukaan Rumah Ibadah
Ilustrasi

MUDANEWS.COM – Selasa yang lalu Bapak Presiden Jokowi berkunjung ke Masjid Istiqlal Jakarta. Presiden didampingi Imam Besar Masjid Istiqlal Prof Dr Nazaruddin Umar, meninjau renovasi masjid Istiqlal yang sudah mencapai 90% sekaligus melihat dan mempertimbangkan untuk pembukaan Masjid untuk kegiatan ibadah umum.

Istiqlal yang artinya Merdeka, adalah masjid terbesar di Asia Tenggara yang didirikan atas ide Bung Karno mulai Agustus 1961 dan selesai 17 tahun kemudian diresmikan Presiden Soeharto 22 Februari 1978.
Mesjid Istiqlal berlokasi berdampingan dengan Gereja Katedral yang sudah terlebih dahulu berdiri sejak 1901. Terletak tidak jauh dari Istana Negara dan Monumen Nasional (Monas).

Dewan Masjid Indonesia (DMI) bergerak cepat dengan berdasar Surat Edaran Menteri Agama RI No.SE.15/2020 dan Fatwa MUI No.14/2020 yang menyangkut peribadatan dimasa Pandemik Covid-19, langsung menerbitkan Surat Edaran ke-III No.104/PP/2020 tertanggal 30 Mei 2020 menyerukan kepada seluruh Pengurus DMI dan Ta’mir Masjid se Indonesia (hampir 1.000.000 masjid), agar membuka Masjid untuk ibadah 5 waktu dan sholat jumat sesuai perkembangan situasi setempat dengan mematuhi seluruh isi Protokol Kesehatan yang ditetapkan Pemerintah. Menjaga kapasitas maksimum 40% dari daya muat biasa Masjid.

Untuk daerah dengan jamaah padat, boleh mengatur sholat jumat dalam 2 gelombang.
Dan bagi jamaah yang sedang sakit diminta sholat dirumah. Juga mensiagakan Masjid sebagai Pos Reaksi Cepat (PRC) jika ada jamaah yang dicurigai terpapar wabah, dan memperkuat motto “Memakmurkan dan Dimakmurkan Masjid”.

Pak JK, Ketua Umum DMI selepas meninjau persiapan Normal baru di Masjid Agung Al Azhar, Jakarta Selatan, mengatakan “Masjid dibuka lebih dahulu jumat kemudian Gereja dihari minggu, karena suatu Negara harus ada ROH nya, roh keagamaan kita mesti ber-DOA, setelahnya baru buka kantor, mal dll”

Tensi dan Atensi

Sebahagian masyarakat sangat dekat kejiwaan dan pola aktivitas hidupnya dengan Rumah Ibadah. Tidak sedikit TENSI “penolakan atau perlawanan” atas kebijakan penutupan Rumah Ibadah, baik pada fase sebelum era Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) maupun saat penerapan PSBB.

Di jalur terbuka, dalam hal ini masjid menjadi contoh paling mudah, sebahagian jamaah sholat 5 waktu terutama untuk sholat dhuhur, ashar dan maghrib adalah orang yang singgah untuk sholat di Masjid.

Tidak dapat dijamin seberapa terpapar mereka dengan virus Covid-19 sebelum tiba di masjid.

Kalau kita perhatikan ledakan paparan Covid-19 didunia, salah satu yang menonjol berawal dari aktivitas Keagamaan seperti di India, Iran, Korea, Malaysia, Amerika Serikat.

Bahkan untuk menghindari penyebaran, tempat ibadah terbesar didunia pun ditutup seperti Masjidil Haram di Makkah, Masjid Nabawi di Madinah, Basilica Santo Petrus di Vatican, demikian juga aktivitas dalam ruang ibadah agama Yahudi, Kristen dan Islam di Jerusalem, dll.

Mengapa begitu besar Atensi, perhatian, kepedulian, peran aktif Pimpinan organisasi keagamaan diseluruh dunia, tidak hanya di Indonesia.

Penulis lebih paham menjelaskan aktivitas ibadah di Masjid, dalam rukun/ritual sholat ada sujud, dimana bahagian wajah mulai kening, alis/pelupuk mata, hidung dan bibir/mulut menyentuh sajadah/ lantai, begitu juga kedua telapak tangan. Kita tidak bisa menjamin Lantai atau Sajadah yang disentuh bahagian wajah dan telapak tangan benar-benar bersih dari kuman atau virus. Ini adalah bahagian Paling Berisiko di masjid.

Banyak orang yang terpapar virus Covid-19 Tanpa Gejala, karena fisiknya baik dan imunitasnya tinggi, namun saat yang sama dia membawa virus (sebagai carrier) yang sama ganasnya dan dapat menularkan kepada yang lain.

Semangat Buka Rumah Ibadah di Negara Lain

Presiden Amerika Serikat Donald Trump, pada 22 Mei lalu memerintahkan agar semua Gereja, Masjid dan Sinagog (rumah ibadah agama Yahudi) dibuka diseluruh Negara Bagian. Uniknya AS masih mengalami tekanan luar biasa dari Pandemi Covid-19.

Menjadi Negara dengan kasus positif terbanyak didunia dan dengan jumlah kematian menembus 100.000 orang atau sekitar 28 % dari total kematian akibat Covid-19.
Apa alasan praktisnya?, katanya “Negara Butuh Doa-Doa semua orang yang beribadah untuk menolong Negara”.

Sejumlah Ketegangan meningkat di beberapa Negara Bagian, karena terbelah pada kebijakan membuka dan menutup. Para tokoh berbagai agama sangat berhati-hati dengan pembukaan rumah ibadah. Robert Jeffress, seorang pendeta Evangelis di Dallas mengatakan “tidak berencana membuka gerejanya hingga 7 Juni 2020. Jika dibuka kembali hanya dalam kapasitas 20% dengan protokol Kesehatan dan lanjut usia tetap ibadah dari rumah.

Para tokoh agama di Amerika berkaca dari penyebaran wabah yang bermula dari Gereja seperti di Korea Selatan, maupun di Negara Bagian Arkansas, Texas dan Georgia (republika.co.id). Hampir semua Negara Bagian zona merah, terutama New York, New Jersey, Illinois, California dan Massachusetts dengan kasus semua diatas 100.000 kasus dan jumlah kematian sampai puluhan ribu.

Tepatkah Indonesia Membuka Rumah Ibadah?

Indonesia Masih dalam tekanan berat. Pertambahan perhari kasus masih tinggi, diatas 600 kasus. Jumlah kasus mendekati 30.000 orang, dengan kematian hampir 2.000 orang.
Jika dilihat perwilayah, maka penyebaran kasus paling aktif kini terjadi di Jawa Timur, yang menurut pemberitaan seluruh wilayah sudah zona merah dan menjadi wilayah dengan pertambahan tertinggi.

Jawa Timur menjadi Episentrum baru. Dan tampaknya akan disusul Kota dan Wilayah lainnya.

Sementara itu wilayah Jakarta, angka Reproduksi Efektif (Rt) sejak 25 Mei 2020 menurun bermakna dan kini sudah dibawah angka 1, artinya satu kasus lama tidak lagi menginfeksi kepada orang lain.
Ini suatu kemajuan besar, namun gambaran grafik baru terlihat menurun pada akhir Juni, dengan catatan jika semua berjalan sesuai ketentuan.

Sukses DKI tidak terlepas dari ketegasan Gubernur dan pemeranan para Epidemiolog dan pakar berbagai keahlian, serta Pendisiplinan yang didukung konsisten aparat TNI dan Polri serta Tokoh masyarakat dan Aparat dilapangan.

Kepercayaan kepada Pemerintah mengundang peran aktif masyarakat untuk disiplin dalam penerapan PSBB.

Begitupun, Gubernur DKI tetap memperpanjang PSBB, sembari mulai melakukan relaksasi aktivitas ekonomi secara bertahap dengan penuh perhitungan dengan pengawasan ketat.

Ancaman dan penularan wabah virus Covid-19 di Indonesia belum berakhir, dan sampai saat ini belum tahu berapa lama lagi.

Tetapi yang pasti, Perkembangan. virus Bergantungan pada Kehati-hatian manusia.

Kita harus menjadi insan yang bertanggungjawab, disiplin dan mematuhi Protokol Kesehatan sesuai arahan Pemerintah.

PSBB adalah untuk Keselamatan dan Kesehatan sendiri dan orang disekitar.

Persiapkan diri ke rumah ibadah dengan :
1.Pastikan dari rumah sudah bersih.
2.Bawa perlengkapan ibadah sendiri.
3.Langsung menuju rumah ibadah, jangan singgah sana-sini
4.Pakai Masker
5.Jaga tangan tidak bersalaman, tidak menyentuh barang bukan milik sendiri
6.Tidak berkerumun, jaga jarak
7.Perbanyak doa
8.Setelah selesai, keluar tertib dan langsung pulang.
9.Tiba dirumah, cuci tangan. Ganti pakaian dan sebaiknya mandi.

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling BERMANFAAT bagi Manusia” (Hadist Riwayat Ahmad, Ath Thabrani).

Penulis : Dr.Abidinsyah Siregar

Ahli Utama BKKBN dpk Kemenkes/ Mantan Deputi BKKBN/ Mantan Komisioner KPHI/ Mantan Kepala Pusat Promkes Depkes RI/ Alumnus PHMD, WHO Searo, Thailand/ Mantan Ketua PB IDI/ Ketua PP IPHI/ Ketua PP ICMI/ Ketua PP DMI/ Waketum DPP JBMI/ Ketua PP ASKLIN/ Penasehat BRINUS/ Ketua IKAL FK USU/ Ketua PP KMA-PBS/ Ketua PP IKAL Lemhannas.