Kaum Millenial Terseret Arus Drakor saat Pandemi Covid-19

Kaum Millenial Terseret Arus Drakor saat Pandemi Covid-19
Ilustrasi Drama Korea.

MUDANEWS.COM, Medan – Pandemi Covid-19 berdampak besar pada berbagai sektor, salah satunya pendidikan. Dunia pendidikan juga ikut merasakan dampaknya. Pandemi Covid-19 ini mengakibatkan seluruh jenjang pendidikan harus bertansformasi melakukan pembelajaran dari rumah melalui media daring (online).

Terkait dengan Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2020 yang dikeluarkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam Masa Darurat Penyebaran Corona Virus Disease (Covid-19).

Para pendidik dapat melakukan pembelajaran bersama di waktu yang sama menggunakan grup di media sosial seperti Telegram, Instagram, Whatsapp (WA), aplikasi zoom ataupun media lainnya. Dengan demikian, pendidik dapat memastikan peserta didik mengikuti pembelajaran dalam waktu bersamaan, meskipun peserta didik berada di tempat yang berbeda.

Cara belajar daring merupakan cara baru di dunia pendidikan Indonesia yang digaungakan secara resmi agar generasi pendidikan tidak menjadi lost generation saat pandemi. Keuntungan yang dirasakan dengan metode belajar daring adalah waktu belajar lebih singkat dan fleksibel.

Aktif selalu di Media Sosial karena stay di rumah saja

Karena banyak tugas dan stress yang menumpuk selama belajar daring (online) membuat para siswa mencari hiburan untuk kebutuhan untuk menghibur diri saat pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) mulai aktif di social media untuk menunjukkan aktifitasnya selama dirumah saja ataupun menghabiskan waktu untuk stereaming video/film di media digital.

Penggunaan smartphone yang paling banyak mengkonsumsi streaming video online dengan durasi 1 sampai 3 jam per hari. Kedisplinan para siswa dalam menggunakan smartphone sangat diutamakan, terutama anak-anak dan siswa masa transisi menuju remaja sebagai penunjang kebutuhan pembelajaran.

Seiring meningkatnya pertumbuhan konsumsi streaming video di apliaksi seperti Iflix, Netflix, Viu, Drakor.id, V-live dan lainnya. Meninggkat pula suatu produk Negara tersebut, salah satu contohnya adalah Maraton Drakor yang saat ini banyak sekali di gemari oleh banyak kaum dari remaja hingga orang dewasa. Fenomena ini kembali eksis di saat pandemi Covid-19.

Maraton Drakor rutin

Drakor atau yang kita sebut drama Korea, salah satu kebiasaan pecinta K-Pop adalah kerap menonton drama Korea secara maraton. Artinya, dalam 2-3 hari, mereka bisa menghabiskan satu season drakor. Tentu saja, ini dilakukan ketika season tersebut sudah tamat. Maka, penonton tak perlu menunggu selama seminggu untuk melihat kelanjutan kisah favorit mereka.

Drama korea tidak hanya tersedia di media digital saja, namun media kontroversional seperti televisi juga menyajikan program dari negeri gingseng tersebut. Dari pagi hingga malam hari dan hampir setiap hari beberapa channel televisi juga menyiarkan “produk Korea” untuk mencari atensi masyarakat Indonesia yang lagi stay #dirumahaja.

Tanpa disadari, terciptalah hegomoni budaya Korea Selatan di Indonesia yang sangat mempengaruhi kebudayaan asli Indonesia. Dapat dilihat saat mereka yang sangat fanatic terhadap kebudayaan korea meniru cara berpakaian, hingga cara berbicara dan mengeluarkan uang demi konser untuk melihat actor yang mereka idolakan.

Kebudayaan negeri gingseng sangat mempengaruhi khususnya kaum millennial yang umumnya mengidolakan mereka mulai dari K-pop K-Drama nya banyak para pengguna sosmed yang membuat video seperti cover lagu boy band/girl band, video tiktok berbahasa korea, bahkan ada meme video cuplikan K-drakor yang lagi trending dan ini menjadi hiburan bagi pengguna media social.

Penulis : Nadra Hafifah Sahid (Mahasiswi Ilmu Komunikasi Semester VI Fakultas Ilmu Sosial UIN-SU Peserta KKN-DR Kelompok 123)