Harga Kebutuhan Pokok Januari Naik, Sumut Berpeluang Mencetak Inflasi

Harga Kebutuhan Pokok
Gunawan Benjamin

MUDANEWS.COM, Medan – Kinerja harga sejumlah kebutuhan pokok selama Januari masih menunjukan tren kenaikan dibandingkan dengan bulan Desember 2020. Beberapa komoditas yang mengalami kenaikan salah satunya adalah daging ayam. Dimana daging ayam mengalami kenaikan hingga rata-rata sebesar 5%. Selanjutnya telur ayam naik sekitar 3%, bawang merah naik sekitar 5.8%, bawang putih naik sekitar 3.5%.

“Selanjutnya cabai rawit mengalami kenaikan rata-rata sebesar 23%. Dan terakhir gula pasir mengalami kenaikan kurang dari 2%, namun untuk gula pasir hanya gula pasir premium yang naik. Untuk komoditas yang mengalami penurunan diantaranya adalah cabai merah. Cabai merah yang kerap menjadi penyumbang inflasi besar, di Januari turun sekitar 17%,” imbuh Analis Pasar Keuangan Gunawan Benjamin di Medan, Sumatera Utara, Jumat (29/1/2021).

Benjamin mengatakan, dari beberapa komoditas yang saya sebutkan tersebut. Masih ada beberapa komoditas lain khususnya sayur sayuran yang mengalami kenaikan selama Januari. Diantaranya adalah kol, dan beberapa jenis sayur-sayuran lain baik dari gunung maupun darat. Dan kenaikan harga bahan pokok selama Januari bukan dikarenakan pulihnya daya beli. Tetapi lebih dikarenakan gangguan stok akibat cuaca maupun kenaikan komponen biaya produksi dan distribusi karena pandemic.

“Meskipun sejumlah harga yang saya sebutkan mengalami kenaikan tersebut, faktanya di akhir Januari justru mengalami penurunan yang signifikan. Namun selama perjalanan Januari 2021. Rata-ratanya masih naik. Jadi kalaupun penurunan harga komoditas belakangan ini akan memicu terjadinya deflasi. Maka bulan Februari ini baru dampaknya akan terlihat ke tren penurunan harga atau deflasi,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, untuk Januari saya melihat Sumut berpeluang mencetak inflasi dalam rentang 0.1% hingga 0.15%. Pada dasarnya masih sangat rendah. Dan saya melihat tren harga hingga menjelang ramadhan tahun 2021 masih akan bergerak landai. “Tidak akan begitu bergejolak, dan cenderung lebih terkendali. Namun kedepan sebaiknya kita mewaspadai potensi penurunan harga yang diakibatkan oleh tren pelemahan daya beli,” ujarnya. (red)