Cerpen Kembar
Ilustrasi

MUDANEWS.COM – Keyla mengetuk pintu jati berpelitur itu perlahan, tanpa menunggu jawaban dari dalam gadis itu mendorong pelan sampai posisi pintu terbuka lebar dan pandangannya disuguhkan dengan kondisi ruangan yang super berantakan. Meski semua barang yang menghuni ruangan itu terlihat mewah dan mahal. Ada seseorang yang duduk di sisi pembaringan, spreinya berantakan, banyak gaun berserak di setiap sudut lantai, alat makeupbermerk berceceran di atas sprei putih dan meninggalkan noda di sana. Key kembali menutup pintu. Hati-hati berjalan membawa baki berisi sarapan Keysha, takut-takut kakinya menginjak genangan air yang membuatnya terpeleset. Sepertinya kembarannya itu baru selesai mandi dan membiarkan air membekas di jejak kakinya.

“Hai Sha,” sapa Keyla. Menyimpan baki di meja lalu duduk di samping Keysha. Keysha tidak merespon dia sibuk mempermainkan ujung rambut dengan tangannya.

“Hari ini buruk,” ujarnya pelan. Meraih sisir dan mulai merapihkan rambut Keysha.

“Aku gagal masuk perguruan tinggi negeri favoritku untuk kedua kalinya. Di kantor pekerjaanku tidak menunjukan peningkatan. Papah mungkin kecewa tapi tidak menunjukannya. Sedang di rumah, kau tahulah. Banyak yang aku kerjakan, mengurus ini itu dan memastikan kau dapat makan tiga kali sehari, sedang ibu kita, hanya duduk manis bermain sosmed dan melakukan banyak transaksi onlen yang membuat tagihan kartu kreditnya membengkak.” Lalu Keyla tertawa. Keysha menarik-narik poninya kemudian cekikikan menunjuk ke arah cermin besar yang memantulkan gambar dirinya. Keyla tersenyum masam.

“Alangkah beruntungnya menjadi dirimu. Tak pernah memikirkan hal lain selain bahwa perutmu harus kenyang sebelum terasa lapar. Tidur saat merasa mengantuk. Ibu kita juga sangat memperhatikanmu. Ayah, tentu saja, kau anak kesayangannya. Iya kan? Lalu Sam..” Keyla memeremassprei yang memang sudah berantakan.

“Kau tahu, Sam cinta pertamaku. Aku sering bercerita padamu. Dia ketua OSIS di SMA kami. Rumah kami berdekatan, sering berangkat dan pulang sekolah bersama. Dia baik, perhatian dan selalu melindungiku dari keusilan teman-teman kami yang penasaran ingin mendekati. Kupikir dia menyukaiku.” Keyla tersenyum tawar.

“Saat itu pulang dari pesta kelulusan sekolah kami. Sam bilang dia telah jatuh cinta pada seseorang yang kerap dilihatnya setiap senja, mematung di ambang jendela dengan wajah polos dan senyum sumringah. Mereka sering bercengkrama tanpa kata dan dengan pandangan mengungkapkan banyak hal. Sam ingin melindungi gadis itu. Gadis yang menjadi alat dari seseorang yang ingin memanfaatkan kondisinya. Miris ya?” Keyla menjentik remahan roti di atas pangkuan Keysha.

“Gadis itu ternyata saudara kembarku yang memiliki keterbelakangan mental. Hahaha. Sam pikir dia siapa. Sehebat apa bisa berdialog dengan gadis bodoh yang untuk berbicara dan mengenali orang saja kesulitan.” Keysha melotot. Bukan karena mendengar perkataan saudari kembarnya. Tapi karena ada lalat di atas bubur yang baru saja tadi dibawakan Keyla. Keysha menjerit histeris sambil melompat-lompat. Lalu kemudian tertawa. Menunjuk-nunjuk pada Keyla.

“Du-u-ng-nguuu,” jeritnya. Kemudian dia tergelak. Keyla menarik lengannya sedikit keras menyuruhnya duduk kembali.

“Bersikap dewasalah, sebentar lagi kau akan menikah,” katanya sedikit ketus.

“Astagaa, bagaimana bisa gadis idiot ini akan menikahi laki-laki yang aku cintai. Jelas-jelas segalanya aku lebih baik.” Keyla mengeluh dan menumpahkan bubur itu ke tempat sampah yang ada di sudut kamar. Kesya nampak kembali asik dengan dunianya sendiri. Memandang ke luar jendela dan bersenandung kecil. Keyla meliriknya.

“Kau mau kuantar ke balkon?” Tawarnya. Membuka jendela kaca paling besar dan tinggi. Yang memang di desain untuk penghuni kamar untuk bisa melihat pemandangan dari balkon. Kamar Keysha memang berada di lantai dua. Keysha memperhatikannya dengan mata berbinar.

“Tapi kau harus berganti pakaian dulu. Biar terlihat cantik jika ada orang yang melihatmu dari bawah.”

“Sam!” pekik Keysha.

“Tentu saja. Sam akan melihatmu. Maka kau harus kelihatan cantik.”

“Sam!” Keysa memekik gembira.

**

Keyla terjatuh di balkon, entah bagaimana kronologinya. Kepalanya lebih dulu tiba di lantai batu. Sam yang pertama berlari karena dia sedang memasuki halaman untuk bertemu Keysha pagi itu. Sam bersaksi dia tidak melihat siapapun kecuali Kesyha, gadis authis yang terlihat syock melihat saudara kembarnya terkapar, berdiri di balkon. Mamah histeris dan jatuh pinsan beberapa kali. Sedang Papah membeku seakan kehidupannya berhenti begitu saja. Keyla dilarikan ke rumah sakit dalam keadaan tak bernyawa.

**

Kamar itu gelap. Beberapa hari gadis itu mengunci pintu kamarnya. Tidak melakukan apapun, kecuali sesekali menjerit, menangis kemudian berteriak-teriak. Beberapa kali Mamah, Papah atau Sam membujuknya untuk membuka pintu kamar. Gadis itu tak mengindahkan.

Dia menggigil dalam gelap kamar. Air matanya sudah tidak lagi ke luar. Mengering bekasnya di pipi. Dia ingat pagi itu. Membujuk saudarinya untuk berpakaian serupa.

“Kita cantik.” Kemudian mereka tertawa. Mereka terlahir kembar dan prematur. Ibu mereka meninggal seminggu setelah melahirkan. Sama-sama cantik namun salah satu dari mereka tumbuh tidak seperti anak-anak normal. Sedikit terbelakang mental. Selain hyper aktif, Keysha tidak bisa bersikap sesuai perkembangan usianya, gadis itu juga kesulitan dengan bicaranya.

Kemudian papah menikahi adik dari ibu mereka, tante Adel. Key tidak pernah menganggapnya orang lain. Mereka masih satu darah. Wanita itu sungguh-sungguh merawat dan mencintai keponakannya.

“Kau tunggu di sini. Aku ke kamar mandi sebentar.” Keyla meninggalkan saudarinya di balkon. Hanya sebentar masuk ke kamar mandi sampai kemudian debum itu terdengar. Keyla berlari ke luar dan melihat saudarinya tetkapardi bawah dengan kepala pecah.

**

Terdengar suara klik pintu terbuka. Entah bagaimana orang itu melakukannya.

“Sandiwaramu bagus Key,” ujar Sam. Keyla hanya melihat bentuk siluetnya.

“Papahmu setuju atas bujukan tante Adel, ibu tirimu agar membawamu berobat ke luar negeri, sekalian menghilangkan trauma atas kehilangan saudari kembarmu, Keyla.” Klik! Bunyi stop kontak ditekan. Sosok tegap Sam menjulang di depannya, seiring lampu kamar menyala.

“Keyla,” bisiknya. Menyentuh dagu gadis itu.

“Kau sekarang pewaris tunggal. Aku akan menikahimu seperti yang selama ini ada dalam mimpimu. Kita akan tinggal di luar negeri. Bagaimana, sayang?” Keyla tersenyum manis.

“Polisi tidak akan mengusut dan menanyaimu soal kematian saudari kembarmu. Tidak ada yang mau susah payah menanyai gadis idiot, selama kau berperan sebagai Keysha.” Sam mengangkat gadis itu dari duduknya.

“Jadi biarlah Keyla meninggal seperti seharusnya sejak dulu. Kau memastikan obat tidur yang dilarutkan dalam air itu di minumnya.” Sam tersenyum.

“Aku diam-diam masuk kamar dan mendorongnya dari balkon. Kemudian berlari lagi ke luar rumah dan berteriak histeris menemukannya sudah terkapar di lantai. Hahaha.”

“Hanya sedikit lagi untuk menyingkirkan pria tak berguna itu. Papahmu.”

**

Gadis itu menatap keseluruhan sosoknya di cermin. Sejak kecil dia selalu memimpikan menjadi putri seorang keluarga konglomerat. Wajahnya yang cantik menurutnya tidak cocok menjadi putri keluarga petani garam di sebuah pulau terpencil yang jauh dari program pembangunan kota. Setiap hari berkutat dengan bau amis ikan yang di jemur dan butiran garam di tambak. Seharusnya dia memiliki takdir lain. Dia berharap ada seorang pangeran tampan yang membawanya ke sebuah istana megah dan menjadikan dia ratu di sana.

Hari itu datang. Saudara jauh dari ibu kandungnya yang sudah sedikit dilupakannya. Wanita berusia 40 an yang cantik dan kaya raya. Dia bernama Adela dan pria selingkuhannya yang kemudian dia kenal sebagai Ayah Sam. Mereka menawarkan sebuah kerja sama. Untuk berperan sebagai seorang putri. Dengan sedikit perubahan penampilan melalui pisau bedah oprasi plastik di sebuah negara maju di luar negeri sana, gadis itu disulap menjadi Keyla. Dia tidak bertanya atau tidak mau tahu Keyla yang asli di mana. Mereka mengatakan Keyla sudah diasingkan ke negeri jauh. Dia menikmati perannya sebagai putri dan jatuh cinta pada pangeran tampan.

“Aktingmu memukau.” Dia menjentikkan jarinya. Papah sekarang di rumah sakit, sudah seminggu terkena stroke dan kemungkinan untuk sembuh total sangat tipis harapan. Begitu kata dokter pribadi keluarga mereka.

“Hanya tinggal selangkah lagi,” bisik Sam malam tadi sebelum mereka larut dalam kenikmatan nista yang menjijikkan.

End

Penulis adalah Eisaac Iskandar