Cerpen Cinta Utami
Ilustrasi

MUDANEWS.COM – Pernah mencintai tapi terabai? Pernah begitu merindukan seseorang tapi hanya kecewa karena dia lebih memilih menjauhi cinta yang nampak dan mengejar harapan semu.

Utami menatap punggung Kem yang tergesa mengenakan pakaiannya yang tercecer bekas semalam. Tanpa pamit pria itu ke luar pintu kamar dan menutupnya dengan tergesa. Tami hanya berani berprasangka baik bahwa Kem mengira dia belum bangun. Bagaimana dengan ciuman selamat tinggal yang lupa Kem daratkan di dahinya?

Pagi buta tadi Tami mendengar percakapan Kem di telepon genggamnya dengan seseorang yang mengabarkan Amanda baru kembali dari Paris, setelah sekian tahun mengejar mimpinya. Meninggalkan hari pernikahannya yang hanya tinggal menghitung hari.

Amanda terbaring di ruang icu karena kecelakaan. Mobil yang dia tumpangi menabrak pembatas jalan kemudian terbakar. Wajah eloknya yang sudah menjuarai beberapa kontes model top dunia rusak parah karena terbakar. Tami berdiri di sudut terjauh ruangan, menyaksikan Kem yang meratapi kekasihnya yang sekarat. Wajah Tami mengeras.

Kem adalah cinta pertamanya, teman satu kampus, jauh sebelum Amanda, saudara kembarnya yang cantik jelita, sedang dia itik buruk rupa, membawa sosok tampan Kem ke acara makan malam keluarga mereka dan berniat ingin bertunangan serta menikah secepatnya. Utami merasa dunianya runtuh malam itu bersama senyum bahagia Kemal Hanggoro dan Amanda Rasti, saat orang tua mereka menyetujui rencana pasangan muda-mudi yang tengah dimabuk cinta itu.

Amanda pergi hari itu bukan karena pihak agency nya yang mengabarkan bahwa dia, salah satu dari sedikit wanita asia yang beruntung memiliki kesempatan mengembangkan bakat modelnya di Paris, harus pergi ke sana secepat mungkin. Amanda rela mengorbankan karirnya demi pernikahannya dengan Kem. Hanya hari itu, dua hari sebelum gaun pengantin karya desain kondang dia kenakan, Tami mendatanginya.

“Tiket perjalananmu sudah disiapkan. Aku juga sudah menghububgi agencymu. Pergilah sejauh mungkin. Katakan pada orang-orang yang kau cintai, karir bagimu lebih penting dari apapun.” Tami mengulurkan amplop berisi tiket pesawatnya.

“Tapi… ”

“Polisi mulai mengendus pembunuhan siswa SMU sepuluh tahun yang lalu.”
“Tami, kau tahu aku.. ”

“Aku yang akan menikah dengan Kem. Kalau kau memaksa, polisi akan mengetahui bahwa siswa itu mati bukan karena bunuh diri.” Amanda gemetar. Merasa syock dan sangat marah namun kengerian tampak pada wajahnya saat melihat tatapan Tami yang tanpa ekspresi.

Pernikahan itu berjalan sesuai rencana. Namun bukan Kem dan Amanda, tapi Kem dengan Tami. Amanda pergi dengan meninggalkan sepucuk surat bahwa dia harus pergi ke Paris. Kem terpaksa menerima tawaran keluarga Amanda untuk dia menikahi Utami demi menjaga nama baik kedua keluarga terhormat. Kem tidak pernah melupakan Amanda. Seharipun sejak saat itu.

**
Mereka berjalan tergesa menyusuri gang- gelap dan sempit di antara dinding-dinding tinggi dan kumuh pemukiman sebuah kampung yang mereka sendiri asing. Ini karena taksi yang mereka tumpangi mogok dan karena bosan menunggu, kedua saudara kembar itu memutuskan untuk mencari jenis angkutan lain. Sebuah jalan raya yang dilewati lalu-lintas. Hari itu hari naas. Mereka baru saja pulang dari sebuah resto yang sedikit terpencil dalam rangka merayakan ultah salah satu teman Utami.

“Ada yang mengikuti kita, ” bisik Amanda ketakutan.

“Hanya kucing, ” gumam Tami menenangkan. Sekonyong-konyong dua orang laki-laki yang sepertinya sedang mabuk menghalangi jalan mereka. Amanda dan Tami mengekerut.

“Berikan apapun yang mereka pinta dari semua barang berharga yang kita punya. ” Amanda mencicit ketakutan. Orang-orang itu menyeringai, melihat dua kelinci manis ketakutan dan putus asa. Tami mendengus. Dia tidak takut dengan kedua pria mabuk itu. Yang Amanda ingat, Tami berjalan mendekati ke dua preman itu dan tampaknya mereka membuat kesepakatan. Kedua pria itu tampak tidak suka dan berusaha meraih Tami. Amanda menjerit panik saat seseorang mendekapnya dari belakang. Dia meronta, dan sekilas melihat Utami ambruk. Amanda menggigit tangan orang yang memeluknya. Sebuah teriakan. Pelukan terlepas. Amanda berlari kencang bermaksud mencari bantuan. Dia berteriak tapi suaranya tak pernah ke luar dari tenggorokannya. Mungkin dia syock. Saat itulah dia bertemu dengan seorang anak berseragam SMU.

“Tolong,” katanya. Kemudian dia ambruk di depan pemuda itu tak sadarkan diri.

Amanda terjaga dan menemukan dirinya terbaring di kamar di temani Utami dengan mengenakan plester di dahinya. Di televisi sedang disiarkan berita tentang pembunuhan seorang siswa SMU yang diduga perampokan. Perampok itu menggunakan umpan seorang perempuan yang pura-pura dikejar preman dan pingsan di depan sang korban. Saat berusaha menolong itulah para perampok itu datang dan mengambil barang berharga si korban. Karena melawan sang korban terpaksa dibunuhnya. Amanda membekap mulutnya. Korban berseragam SMU itu dia mengenalinya meski hanya melihatnya sekilas malam itu. Malam di mana dia dihadang dua orang preman dan Tami…

Penulis Eisaac Iskandar