Pilkada Serentak 2020, Intip Rudi Suntari di Tiga Daerah
Ustaz H. Rudi Suntari S.Ag

MUDANEWS.COM, Medan – Pemilihan kepala daerah serentak akan dilaksanakan pada Tahun 2020 di Indonesia, terkhusus di sumatera utara.

Sudah saatnya daerah harus punya calon wali kota atau bupati yang religius. Ustadz mesti percaya diri dan bisa menjadi apa pun, terkhusus menjadi walikota atau bupati.

Ustadz harus punya kepercayaan diri, keyakinan, dan optimisme. Tidak boleh rendah diri karena Ustadz bisa jadi apa saja. Ustadz, kiai, bupati, walikota, gubernur dan presiden.

Ustadz H. Rudi Suntari S.Ag atau yang biasa disapa akrab dengan Rudi Suntari, Ketua Forum Pesantren dan Dai Bersatu Sumatera Utara (FORPENDA).

Ustadz kelahiran Desa Bagan Asahan Kabupaten Asahan 5 Februari 1974. Menamatkan pendidikan di SD Bagan Asahan tamat Tahun 1987, MTS MPI Sei Tualang Raso Tanjung Balai Tamat Tahun 1991, MAS MPI Sei Tualang Raso Tanjung Balai Tamat Tahun 1994, S1 IAINSU Tamat tahun 2001 dan S 2 Managemen di UISU.

Ustadz tersebut memiliki pengalaman organisasi seperti Himpunan Mahasiswa Islam, Karang Taruna Sumut, Ketua Umum DPD Appsi (asosiasi pedagang pasar indonesia) kota Medan, Wakil Ketua Appsindo (aliansi pedagang pasar seluruh Indonesia) Sumut, Ketua Ponpes Suria Laya Thoriqat Qhadiriah Naqsyabandiyah, Ketua Samawi Sumut dan Sekretaris BKPRMI Medan Tahun 2020.

Peluang Ustadz H. Rudi Suntari S.Ag di Tiga Dearah

Islam agama terbesar di Tanjung Balai. Kemudian sejarah perkembangan ini sangat berkaitan dengan kehadiran Kesultanan Asahan, sekitar pertengahan abad ke-18, kerajaan ini dianeksasi oleh pemerintah Hindia Belanda. Kota Tanjung Balai menjadi kota pelabuhan dan pintu masuk ke daerah Asahan yang penting artinya bagi lalu-lintas perdagangan Hindia Belanda waktu itu.

Selanjutnya Islam agama terbesar di Kabupaten Asahan. Betapa tidak, Sultan pertama Asahan, Raja Abdul Jalil merupakan putra Sultan Iskandar Muda. Asahan menjadi bawahan Kesultanan Aceh sampai awal abad ke-19.

Asahan adalah kerajaan kecil yang menjadi bawahan Aceh, maka secara otomatis, struktur kekuasaan tertinggi berada di tangan Sultan Aceh. Di daerah Asahan sendiri, terlepas dari relasinya dengan Aceh, kekuasaan tertinggi berada di tangan Sultan, yang bergelar Yang Dipertuan Besar/Sri Paduka Raja.

Sekarang kedua daerah tersebut, maraknya Bahaya Narkoba di Tanjung Balai dan Asahan, dikarenakan 2 daerah itu sebagai pintu masuk barang haram yang merusak moral, dan ekonomi warga, serta merusak kenyamanan dan keamanan kehidupan sosial warga. Karena itu, dibutuhkan pigur yang mampu menyadarkan masyarakat akan bahayanya narkoba. Sosok Ustadz H. Rudi Suntari S.Ag dianggap mampu dan layak untuk menjadi Calon Wali Kota Tanjung Balai atau pun Calon Bupati Asahan.

Kota Medan merupakan ibukota provinsi Sumatera Utara, agama Islam terbesar di kota Medan dan menjadi pusat bisnis. Berawal dari sebuah kampung yang didirikan oleh Guru Patimpus di pertemuan Sungai Deli dan Sungai Babura. Hari jadi Kota Medan ditetapkan pada tanggal 1 Juli 1590. Selanjutnya pada tahun 1632, Medan dijadikan pusat pemerintahan Kesultanan Deli, sebuah kerajaan Melayu.

Kemudian, Medan yang hampir tidak punya pembangunan sebagai kota jasa. Maka diperlukan sosok muda energik, dan religius serta punya banyak relasi dan biasa bergaul dan biasa berorganisasi.

Ustadz Menjadi Pemimpin

Ustadz harus siap mengawal NKRI dan menjadi menyejukkan ummat. Indonesia merupakan negara multikultural. Para Ustadz sudah menyepakati dasar negara Indonesia adalah Pancasila. Pancasila adalah titik temu, UUD 1945 adalah kesepakatan nasional. Ustadz adalah salah satu harapan bangsa yang memahami ilmu agama.

Ustadz yang sejatinya adalah orang yang memiliki pengetahuan agama, yang dalam, sekaligus juga tokoh perbaikan serta bermanfaat bagi bangsa dan negara.

Sejatinya Ustadz bisa memberikan manfaat. Ustadz untuk mewujudkan kemaslahatan ummat. Berita Medan, Angka Wijaya Matondang, S.Fil.I