NU, Muhammadiyah dan HMI Untuk Indonesia Emas 2045
Ahmad Arfah Fansuri Lubis

MUDANEWS.COM – Sejak dulu Indonesia memiliki masyarakat dengan keberagaman yang nyata, untuk mensiasati persoalan itu diciptakanlah sebuah kesepahaman kebangsaan dengan menjadikan Indonesia sebagai negara kesatuan. Hal ini yang kemudian menciptakan perbedaan suku, agama, ras dan antargolongan yang ada di Indonesia tidak melulu menjadi cikal bakal permasalahan di setiap aktivitas sosial masyarakat.

Berkaca pada persoalan itu, maka sudah sepantasnya segenap rakyat Indonesia saling bahu membahu untuk menjadikan negara Indonesia meraih cita-citanya seperti yang termaktub dalam alinea kedua pembukaan Undang-Undang Dasar negara Indonesia tahun 1945 yaitu merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Cita-cita itu saat ini dibungkus dalam sebuah gagasan Indonesia Emas yang ditargetkan dicapai pada 100 tahun kemerdekaan atau tepatnya di tahun 2045.

Indonesia Emas digambarkan dalam bentuk Indonesia yang maju dan mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lain. Hal itu didasari dengan kemampuan sumber daya manusia Indonesia yang berkualitas, sehingga berbagai polemik mendasar seperti korupsi, dis integrasi maupun kemiskinan dapat diatasi.

Gerakan pencapaian cita-cita itu harus dilakukan secara terstruktur dan tersistematis, untuk itu berbagai simpul masyarakat harus didorong untuk turut mengkampanyekan dan menciptakan basis-basis yang militan dan terdidik menghadapi beragam tantangan di masa yang akan datang. Beberapa simpul besar yang ada di masyarakat Indonesia dengan segala infrasturktur yang dimilikinya antara lain Nahdhatul Ulama (NU), Muhammadiyah, dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

Pesantren Nahdhatul Ulama

Sebagai organisasi masyarakat (ormas) Islam terbesar di Indonesia, basis utama kekuatan NU adalah pesantren yang dimilikinya. Ribuan pesantren ini turut mendistribusikan pemikirian keislaman dan kebangsaan khas organisasi yang didirikan KH Hasyim Asy’ari pada tahun 1926 lalu ini.

Lahirnyaa pesantren sejatinya bukan hanya mendidik para santri dalam hal ilmu agama, lembaga pendidikan islami ini juga telah bertransformasi menjadi pusat aktivitas sosial masyarakat bahkan sejak kemerdekaan belum diraih Indonesia dari tangan penjajah. Berdasarkan hal itulah pesantren Nahdhatul Ulama juga dapat mendorong mayarakat untuk berbondong-bondong mencipatakan persatuan dan perdamaian, ini merupakan modal awal untuk menjadikan masyarakat siap menyongsong gagasan Indonesia Emas.

Selanjutnya pendidikan di pondok juga mendasari terbentuknya karakter manusia yang mandiri. Hal ini dilakukan untuk santri baik sejak tingkat sekolah dasar hingga menengah atas, kemandirian di pesantren menjadi sebuah keharusan yang tidak dapat ditawar lagi. Selain itu pesantren juga mengedepankan pendidikan akhlak, ikhwalnya akhlak masyarakat yang baik menjadi tuntutan jika ingin menjadikan suatu negara mejadi maju. Hasilnya produk yang dari pesantren adalah bibit-bibit unggul dengan kemandirian dan perilaku yang baik.

Amal Usaha Muhammadiyah

Setelah NU menjadi tonggak terbentuknya masyarakat yang mandiri dan berakhlak, Muhammadiyah hadir dengan kekuatan ekonomi melalui ribuan amal usaha yang dimilikinya. Siapa yang tak tau amal usaha Muhammadiyah? Dimana daerah yang tak ada amal usaha Muhammadiyah? Hal ini menjadi pertanyaan sekaligus pernyataan tentang begitu hebatnya Muhammadiyah mengelola amal usaha miliknya.

Seperti dilansir muhammadiyah.or.id, amal usaha bidang pendidikan yang dimiliki organisasi dirian KH Ahmad Dahlan ini antara lain TK/TPQ berjumlah 4.623, SD/MI berjumlah 2.604, SMP/MTS berjumlah 1.772, SMA/SMK/MA berjumlah 1.143, pondok pesantren berjumlah 67, Sekolah Luar Biasa (SLB) berjumlah 71 dan 172 perguruan tinggi yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Selain itu Muhammadiyah juga memiliki 457 rumah sakit, 6.118 bangunan mesjid, dan 5.080 bangunan musholla.

Amal Usaha ini menjadikan Muhammadiyah menjadi organisasi yang mandiri bahkan untuk membiyai organisasi otonom dibawahnya. Kemampuan Muhammadiyah mengelola amal usaha ini harusnya dijadikan contoh, jika kekuatan di sektor ekonomi dapat diraih maka cita-cita kebangsaan khususnya persoalan kemakmuran rakyat dapat diraih.

Latihan Kader HMI

Memiliki predikat organisasi mahasiswa tertua yang di Indonesia, HMI telah melahirkan ratusan ribu kader dan alumni yang beberapa diantaranya memiliki posisi strategis di negeri ini. Hal ini sejatinya melegitimasi bahwa HMI melalui proses perkaderannya telah berhasil menempah mahasiswa untuk memiliki soft skill lebih baik dari mahasiswa lainnya. Keterampilan itu mencakup bidang manajerial, kepemimpinan, dan keorganisasian.

Sejumlah tokoh negeri telah dilahirkan oleh organisasi dirian Prof. Drs Lafran Pane ini. Seperti halnya Ketua DPR RI Bambang Soesatyo, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Politisi Senior Golkar Akbar Tanjung, Tokoh Reformasi Amien Rais, hingga Wakil Presiden Jusuf Kalla pernah mengenyam latihan kader di organisasi yang identik dengan warna hijau dan hitam. Dalam catatan sejarah kebangsaan sekalipun, nama organisasi HMI acapkali tercatat turut dalam rangkaian menjaga dan mengisi kemerdekaan Indonesia.

Rentetan catatan tentang HMI diatas tentu dapat menjadi tolok ukur menjadikannya sebagai salah satu organisasi besar yang ada di Indonesia, dengan hal itu pulalah timbul harapan HMI dapat terus memproduksi mahasiswa-mahasiswa cemerlang yang nantinya saling bahu membahu meraih Indonesia Emas. Dari dulu hingga kini HMI memiliki cita-cita yang besar terhadap bangsa Indonesia. Bergerak dengan nafas Islam, HMI bertujuan untuk menciptakan masyarakat yang adil dan makmur.

Ditengah bonus demografi yang dimiliki Indonesia saat ini, tentu pemuda-pemuda Indonesia dituntut mengambil peran lebih dalam mengurusi berbagai persoalan kebangsaan. Pada tahun 2045 yang dicita-citakan meraih Indonesia emas, mahasiswa-mahasiswa saat ini akan memasuki usia matang dan berpeluang menjadi pemimpin-pemimpin di negeri ini. Maka untuk itu butuh proses pendidikan yang utuh terhadap pemuda-pemuda Indonesia untuk siap bertempur menghadapi tantangan dunia. Salah satu langkah yang dapat di tempuh adalah melalui latihan di HMI.

Penutup

Perlu kiranya penulis sampaikan bahwa tulisan ini bukan mensejajarkan ataupun membandingkan tiga organisasi besar di Indonesia itu. Penulis melihat ada potensi yang saling berkaitan dari NU, Muhammadiyah dan HMI. Potensi itu yakni pembangunan kemandirian dan akhlak melalui pesantren milik NU, kekuatan ekonomi melalui amal usaha milik Muhammadiyah, dan sumber daya manusia yang unggul melalui latihan kader di HMI. Dari ketiga hal itu diharapkan cita-cita Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur dapat terwujud. Dari situ pulalah kita berharap di tahun 2045 Indonesia masuk dalam periode keemasan dengan kemakmuran yang dirasakan segenap rakyat Indonesia.

Oleh: Ahmad Arfah Fansuri Lubis
Lulusan Senior Course HMI Cabang Purwokerto 2016