Pak SBY Harus Minta Maaf dan Cium Tangan Pada Ibu Megawati dan Pak Jokowi

Kemenkumham Bukan Pengadilan Penentu Nasib Partai Demokrat
Saiful Huda Ems (SHE).

MUDANEWS.COM – Apabila kita membaca riwayat panjang kebohongan demi kebohongan SBY bersama tuduhan demi tuduhannya SBY pada Presiden Jokowi, maka sudah sepantasnya SBY mendatangi satu persatu orang-orang yang pernah dibohongi dan dituduh-tuduhnya tanpa bukti.

Dan itu bisa dimulai SBY dengan mendatangi dan mencium tangan Ibu Megawati Soekarno Putri, Prof. Subur Budi Santoso, Pak Joko Widodo (Jokowi) dan Pak Yasonna Laoly.

Pada Koran TEMPO 28 Juli 2003, di saat SBY masih menjadi Menkopolkam di Kabinet Megawati, SBY pernah menyatakan di hadapan Presiden Megawati, bahwa ia sama sekali tidak terlibat dalam pendirian Partai Demokrat, namun ternyata dalam AD/ART Partai Demokrat Tahun 2020, SBY malah mencantumkan nama dirinya sendiri bersama Ventje Rumangkang sebagai pendiri Partai Demokrat.

Pernyataan SBY yang seperti itu, bukan hanya membohongi Presiden Megawati Soekarno Putri, melainkan pula telah membohongi rakyat dan seluruh kader Partai Demokrat pada khususnya.

Sebagaimana kita ketahui bersama, melalui Akta Notaris dan dokumen verifikasi Partai Politik oleh KPU, bahwa pendiri Partai Demokrat itu bukanlah hanya dua orang, melainkan sembilan puluh sembilan orang.

Kalau hanya dua orang itu bukan hanya kebohongan, namun juga sebuah pelanggaran Undang-Undang Partai Politik yang awalnya mengharuskan minimal 50 orang warga negara Indonesia, kemudian diubah menjadi 30 orang di masing-masing provinsi.

Menariknya dari 99 nama pendiri Partai Demokrat, tak satupun ada nama SBY disana. Selain itu, dalam AD/ART Partai Demokrat 2020 karangan SBY, hanya disebut nama SBY dan Ventje Rumangkang sebagai pendiri Partai Demokrat, padahal Pak Ventje Rumangkang itu sudah meninggal dunia.

Ini artinya SBY ingin mengukuhkan dirinya sendiri sebagai satu-satunya pendiri Partai Demokrat yang sebenarnya bohong atau diluar fakta sejarah.

Kitapun dapat bertanya, mengapa nama Prof. Subur Budi Santoso yang masih hidup tidak dimasukkan namanya sebagai pendiri Partai Demokrat, padahal Prof. Suburlah nomer urut pertama pendiri dan deklarator Partai Demokrat sesuai dengan Akta Notaris sejarah berdirinya Partai Demokrat.

Prof. Subur pulalah yang menjadi Ketua Umum pertama Partai Demokrat yang mengantarkan SBY mendatangi KPU dan menandatangani pengajuan SBY sebagai Calon Presiden R.I.

Olehnya, menghilangkan nama dan jasa Prof. Subur berarti SBY berkhianat pada perjuangan orang-orang yang berjasa padanya, dan berjasa pada Partai Demokrat yang telah didirikan dan dideklarasikannya.

Berikutnya, kitapun tau betapa sebelum adanya keputusan Kemenkum HAM yang menolak pengesahan KLB Partai Demokrat Dr. Moeldoko, berulang-ulang kali SBY dan anak-anaknya telah menuduh-nuduh Pemerintahan Jokowi berada di balik rekayasa keributan internal Partai Demokrat.

SBY dan AHY mengolok-olok Pemerintahan Jokowi sebagai pembegal demokrasi karena dituduhnya telah ikut intervensi diselenggarakannya KLB Partai Demokrat di Sibolangit.

Atas tuduhan demi tuduhan SBY terhadap Pemerintahan Jokowi khususnya Menteri Hukum dan HAM R.I Pak Yasonna Laoly dan Kepala Staf Kepresidenan R.I Pak Moeldoko itulah, yang menjadikan Pak Yasonna Laoly sempat kesal pada pihak SBY yang terus menuding-nudingnya, hingga Pak Yasonna pernah mengungkapkan kekesalannya pada SBY di hadapan para jurnalis, yang mana Pak Yasonna meminta pihak SBY berhenti untuk terus menyalah-nyalahkan Pemerintah, sebab Pemerintah awalnya sama sekali tidak tau menau soal kemelut internal Partai Demokrat yang berujung dengan KLB di Sibolangit ini.

Namun anehnya seperti tak tau malu, setelah Kemenkum HAM menolak pengesahan pengurus Partai Denokrat hasil KLB Sibolangit, SBY dan AHY memuji-muji setinggi langit Presiden Jokowi, Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly dan Menko Polhukam Mahfud MD. Pujian setinggi langit yang nampak hanya basa-basi karena tidak disertai permintaan maaf apalagi cium tangan Pak Jokowi dan Pak Yasonna Laoly yang sebelumnya SBY dan AHY hujat setengah mati.

Atas dasar semua itu, kami berpikir dan menyerukan agar SBY dan anak-anaknya segera mendatangi Presiden Jokowi, mendatangi Ibu Megawati, Prof. Subur, Pak Yasonna dll. untuk meminta maaf dan mencium tangannya.

Meminta maaf dan mencium tangan pada orang yang kita zhalimi itu suatu tradisi yang baik dan perlu dilestarikan. Pak Jokowi saja yang tidak bersalah apa-apa selalu menundukkan wajahnya di hadapan SBY dan para sesepuh tokoh negara, masak Pak SBY yang berlumuran dosa tidak mau meminta maaf dan mencium tangan Pak Jokowi dll.nya yang kami sebut di atas?.

Akhirul kalam, kami ingin mengingatkan dan menghimbau pada seluruh loyalis SBY dimanapun berada, agar berhenti mendukung SBY dan AHY sebelum menjadi korban penghianatan SB berikutnya.

Kita semua sudah belajar bagaimana orang-orang dekat SBY yang baik dan dahulu berkorban untuk menyukseskan Pak SBY dan Partai Demokrat pada akhirnya dikorbankan semua, dikhianati semua jerih payah keringat-keringat perjuangan dan harta bendanya, apalagi kalian yang mendukung SBY dari jauh dan tidak memiliki riwayat pengorbanan mendukung SBY, pastinya kalian akan berpotensi untuk dikorbankan pula oleh SBY di kemudian hari.

Dari pengalaman orang-orang dekatnya Pak SBY yang dikhianatinya, SBY itu tak pernah baca dan tak pernah ingin mendengar kritikan orang, karena SBY yang megaloman itu yakin rakyat tak akan pernah mempercayainya. Jadi selagi SBY berkuasa, siap-siap saja bagi orang-orang dekatnya akan selalu dibohonginya.

Sekarang mereka bersemangat mendukung dan membela SBY, namun nanti mereka harus siap-siap mulai kecewa, karena begitulah Sang Raja Tega kerap menghianati orang-orang terdekatnya…(SHE).

2 April 2021.

Oleh : Saiful Huda Ems (SHE). Ketua Departemen Komunikasi dan Informatika DPP Partai Demokrat yang berada dalam kepemimpinan Bapak Dr. Moeldoko.