Menghidupkan Kembali Semangat Tauhid

Menghidupkan Kembali Semangat Tauhid
Hasanuddin, M.Si

MUDANEWS.COM – Allah SWT berfirman:

وَيُعَلِّمُهُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَالتَّوْرَاةَ وَالإنْجِيلَ (48) وَرَسُولا إِلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنِّي قَدْ جِئْتُكُمْ بِآيَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ أَنِّي أَخْلُقُ لَكُمْ مِنَ الطِّينِ كَهَيْئَةِ الطَّيْرِ فَأَنْفُخُ فِيهِ فَيَكُونُ طَيْرًا بِإِذْنِ اللَّهِ وَأُبْرِئُ الأكْمَهَ وَالأبْرَصَ وَأُحْيِي الْمَوْتَى بِإِذْنِ اللَّهِ وَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا تَأْكُلُونَ وَمَا تَدَّخِرُونَ فِي بُيُوتِكُمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ (49) وَمُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَلأحِلَّ لَكُمْ بَعْضَ الَّذِي حُرِّمَ عَلَيْكُمْ وَجِئْتُكُمْ بِآيَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ (50) إِنَّ اللَّهَ رَبِّي وَرَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ هَذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ (51) }

_Dan Allah mengajarkan kepadanya Al-Kitab, hikmah, Taurat, dan Injil. Dan (sebagai) rasul kepada Bani Israil (yang berkata kepada mereka), “Sesungguhnya aku telah datang kepada kalian dengan membawa sesuatu tanda (mukjizat) dari Tuhan kalian, yaitu aku membuat untuk kalian dari tanah sebagai bentuk burung; kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah; dan aku kabarkan kepada kalian apa yang kalian makan dan apa yang kalian simpan di rumah kalian.

Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagi kalian, jika kalian sungguh-sungguh beriman.

“Dan (aku datang kepada kalian) membenarkan Taurat yang datang sebelumku, dan untuk menghalalkan bagi kalian sebagian yang telah diharamkan untuk kalian, dan aku datang kepada kalian dengan membawa suatu tanda (mukjizat) dari Tuhan kalian. Karena itu, bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Sesugguhnya Allah Tuhanku dan Tuhan kalian. Karena itu, sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus.”_

Alquran Surah Ali Imran:

Pelajaran dan tugas kenabian Isa Al-Masih terangkum dalam ayat di atas.

Pertama; Isa Al-Masih sebagai utusan Allah kepada Bani Israel yang sedang berada pada situasi “kematian spritual”,. Di bawah kekuasaan Romawi, masyarakat pada masa itu kehilangan tauhid.

Maka tugas utama Nabi Isa adalah “menghidupkan kembali ajaran dan semangat tauhid yang sudah hampir hilang karena diselewengkan”, atau menghidupkan “orang yang mati secara spritual”.

Untuk keperluan tersebut, Allah membekalinya dengan pengetahuan tentang “Al-Kitab” (Ketetapan-Ketetapan Allah), juga memberinya “ilmu hikmah” (kebijaksaanaan), mengajarkan kepadanya Taurat, serta membekalinya dengan Injil.

Maka dalam masa dakwahnya menjalankan misi kenabiannya, Isa Al-Masih, memberikan penyadaran tentang konsep “nasib” dan “keberuntungan”. Bahwa nasib manusia terkait erat dengan tanah, sebagaimana mereka telah diciptakan dari tanah. Keberuntungan akan diperoleh ketika manusia mampu meningkatkan kualitas “tanah” yang berupa materi ini menjadi “spritual” digambarkan sebagai “tayr” atau burung, atau sesuatu yang “terbang tinggi”, mulia. Dengan “ditiupkan” kepadanya “ruh” dalam arti sprit, ilham, ilmu pengetahuan.

Dengan demikian, nasib manusia mesti mereka ubah, dari sekedar menyangkut “bahan dasar”, sifat dasar tanah, “yang secara spritual adalah mati”, hanya berupa seonggok daging, menjadi hidup, dengan bekal ilmu pengetahuan yang tinggi (spritual).

Menghidupkan “orang mati” dalam pengertian spritual dijelaskan Allah pada surah Al-an’am ayat 112 berikut:

أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِنْهَا كَذَلِكَ زُيِّنَ لِلْكَافِرِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (122)

_Dan apakah orang yang sudah mati, kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar darinya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan._

Kematian tauhid dalam suatu masyarakat, dikarenakan oleh kepungan materialisme (tanah), yang menyebabkannya menjadi kafir (terhijab dari kebenaran). Dan sebab itu, solusi mengatasi agar masyarakat seperti itu tidak jatuh dalam kebinasaan, adalah dengan menghidupkan ajaran tauhid di dalam masyarakat. Hal demikian, agar manusia tidak terus memandang benar, apa yang telah menyesatkan mereka dari Tuhannya.

Dalam melaksanakan Dakwahnya, Nabi Isa memperjelas sisa-sisa ajaran Taurat yg masih ada dalam masyarakat Bani Israel (kala itu), mengahalalkan apa yang telah di haramkan (oleh para penggiat agama yang menyelewengkan ajaran Taurat), melakukan purifikasi atas ajaran Musa (taurat), yang berada pada titik nadirnya.

Pada masa itu masih terdapat sekelompok kecil pemeluk Taurat yang taat. Dan ketika Nabi Isa menyadari bahwa dakwahnya untuk mengubah masyarakat/bani Israel, telah menemukan penolakan/penentangan dahsyat dari kalangan Yahudi sendiri (yang sudah jauh dari kemurnian ajaran Yahudi), Nabi Isa menyeru, “siapa yang akan menjadi penolong-penolongku di jalan Allah? (Ali imran 52). Maka sekelompok pengikut taurat yang masih taat, menjawab seruannya dengan mengatakan, “kamilah yang akan menjadi penolongmu!” Dan mereka ini disebut sebagai kaum Hawariyyun.

Demikianlah cara Allah “menghidupkan” suatu masyarakat yang mengalami kebinasaan, kehancuran disebabkan oleh kepungan materialisme. Dia mengembalikan kehidupan spritual masyarakat itu, menegakkan tauhid di dalamnya, dan membebaskan masyarakat dari materialisme melalu ajaran tauhid yang murni.

Sebab itu, mentauhidkan Allah, bukanlah kebutuhan Allah. Melainkan kebutuhan manusia, kebutuhan suatu masyarakat, kebutuhan sebuah negara bangsa, yang tidak ingin sistem kehidupan sosialnya hancur dan membinasakan masyarakatnya. Dan oleh karena itu tauhid merupakan inti dari teologi pembebasan.

Kebinasaan masyarakat hanya dapat dihindarkan melalui pemurnian ajarah Tauhid dalam suatu masyarakat. Namun, upaya memurnikan ajaran Tauhid ini, bukanlah hal yang mudah. Karena pasti akan memperoleh penentangan dari para penyembah materi, atau paham materialisme.

Dan itu tantangan yang dihadapi Nabi Isa di masanya, demikian halnya dengan para nabi dan rasul Allah lainnya. Termasuk tantangan yang sedang dihadapi Bangsa Indonesia dewasa ini.

Oleh : Hasanuddin, M.Si – Ketua Umum PB HMI 2003 – 2005