Aku, NU dan Muhammadiyah (Dinamika Muslim Indonesia – Masyumi)

Aku, NU dan Muhammadiyah (Dinamika Muslim Indonesia - Masyumi)
Ilustrasi

MUDANEWS.COM – Saya ada di Mumahmmadiyah dan NU, hidup di lingkungan Muhammadiyah, menjadi Putera Muhammadiyah, berlatih Tapak Suci hingga melati 4. Sedang keluarga kami berbasikan tariqah satariyah.

Saya mengalami dinamika perbedaan, mendalami, meresapi sepanjang perjalanan hidup dan menyimpulkan bahwa sesungguhnya tidak ada perbedaan yang perlu dipertentangkan antara keduanya, karena masih berada pada wilayah furu’iyah saja. Keduanya satu dalam Ushul.

Sebenarnya yang membuat keduanya seolah berjarak dan terasa/terlihat seperti sangat berbeda adalah soal rasa. Ialah rasa fanatisme berlebihan, merasa lebih baik, rasa itu menjadi lebih terkondisi ketika masuk wilayah politik dan memunculkan ego sektarian “ana kahiru minkum”. Ini yg bikin cilaka.

Satu hal lagi adalah pengaruh eksternal dan zaman. Bahwa islam itu satu, namun dinamika zaman dan global mempengaruhi serta memperlebar perbedaan. Yang satu terseret modernisasi dan yg satu katanya kukuh dengan cara lama, padahal keduanya sangatlah penting, yakni keharusan memahami dan “menunggangi” perkembangan tanpa merubah jatidiri. Kekuatan Islam adalah justeru pada karakter pendidikan minhaj ala Rasulillah, ala pensantren dan bersanad sahih keilmuannya hingga ke Baginda.

Ruang yang tercipta antara modernis-pergeseran zaman dan karakter pendidikan islam klasik yg orisinil adalah letak masalah islam hari ini. Ruang inilah yang dimanfaatkan oleh dua hal krusial dalam politik, ialah adu domba oleh kepentingan politik luar islam dan kepentingan dari kekuatan kelompok-kelompok politik jangka pendek kalangan islam sendiri yang disertai bodohan.

Ruang itulah yang mesti diurai, kemoderenan harus dikunyah halus, dimamah dan diseleksi mana yang berguna dan mana yang tidak, sementara itu memilahnya adalah dengan kekuatan manhaj pendidikan islam yang orisinil dan sebenarnya tidak ada duanya dibanding pendidikan ala moderen yang berbasikan filsafat ala barat yg kering jauh dari spiritualitas.

Ruang ini semakin sulit dipahami karena gigihnya agressor luar islam yang memang sangat berhasil dalam serangan jangka panjang berupa pemalsuan dan menyesatan sejarah. Kesusksesan merrka menggusur pemahaman dan keyakinan kolektif umat bahwa sesungguhnya muslim itu bersaudara bagai satu tubuh.

Saya dibesarkan dengan sekolah sekuler yang jelas kering pengajaran spiritualitas dan penuh dengan penyesatan sejarah tadi, untung saja pendidikan agama saya dapatkan dari keluarga yang agamis ahli tarekat. Dua hal yang sebenarnya sangat berjauhan, dan memang sengaja dijauhkan oleh kekuatan luar islam, namun justeru kondisi dan tantangan itu pulalah yang akhirnya menjadi bekal saya dalam mengarungi islam indonesia yang penuh warna. Warna yang jamak juga dialami oleh sebagian besar muslim terpelajar indonesia. Latar agamis, pendidikan sekuler dan lebih terkondisi dengan masyarakat perkotaan yang cenderung islam modernis.

Dengan bekal keragaman keluarga dan lingkungan, saya menikmati saja (meski sebelumnya sempat terseret dan mengalami pergolakan pemikiran) namun saya menikmati menjadi pengurus LPBH PCNU, berinteraksi dan menyatu dengan nahdiyin, mengikuti kajian tradisi, amaliyah dan ibadahnya. Di sisi lain saya juga mengenyam didikan Muhammadiyah, kemudian berguru pada musrsyid tarekat bermazhab Maliki dan keluarga saya berlatar tarekat Syatari yang Syafii.

Sungguh saya merasa tidak ada persoalan dengan perbedan-perbedaan itu, dan justru saya menikmati keanekaragaman kita, sebagaimana para pendahulu kita tidak mempersoalkan perbedaan antar 4 mazhab, Maliki, Syafii, Hambali dan Hanafi.

Saya hanya anti Syiah, Ahmadiyah dan aliranĀ² yang menyimpang dan mengkafirkan selain kelompok mereka, bahkan ada aliran yang hanya mengakui Nabi Ibrahim saja, atau ada pula yang punya nabi baru dan sebagainya.

Hari ini, yang Islam sejak dahulu tidak ada masalah dan pertentangan dalam hal pokok, dan terbiasa serta saling memahami dan memaklumi dalam hal cabang.

Islam masuk ke negeri ini dengan damai, memperindah budi pekerti dan membuat negeri ini jadi jauh lebih beradab dan mulia. Masyumi hadir sebagai kekuatan politik Islam Indonesia modern yang mempersatukan dan mengharmonikan perbeban-perbedaan itu, bahkan Masyumi hadir dengan sangat elegan dan beradab merepresentasikan rahmatan lil alamin dalam mengelola perbedan dan keragaman akidah dan heterogenitas bangsa ini secara sangat elok.

Kita dapat temukan dalam sejarah betapa kisah Masyumi sangat banyak dihiasi cerita indah persaudaraan sesama anak bangsa. Sudah menjadi tradisi dalam Masyumi, tidak ada yang menghalangi sorang ulama dan pendeta berkawan akrab bagai sebuah keluarga, demikian juga di akar rumput, bertetangga dan bersaudara dalam perbedaan di lingkungan kehidupan.

Masyumi sangat menjaga kesepakatan berbangsa dalam naungan nilai-nilai Pancasila secara sempurna. Perdebatan dan perbedaan dalam forum-forum resmi dan informal adalah hal biasa, namun semua itu tidak sedikitpun mengurangi rekatan persaudaraan seakidah dan sebangsa. Itulah kehidupan Pancasilais warga Masyumi yang sangat sesuai dan paling ideal dan bersesuaian dengan konsep yang diracik oleh para pendiri bangsa ini. Bukan tri sila, eka sila atau gotong-royongnya alas Nasakom yang sesungguhnya merusak dan menkhianati Pancasila yang sejati.

Keindahan persaudaraan bangsa ini pecah berantakan karena kehadiran kekuatan politik jahat komunisme yang menjadi duri dalam daging bangsa ini, justru setelah sukses mengalahkan dan mengusir penjajah. Sebagian anak bangsa kemudian tergiur dan tergoda oleh tipu daya mereka yang kemudian kita kenal dengan dusta yang bernama NASAKOM.

NASAKOM yang merupakan Ideologi karbitan besutan Soekarno yang modernis dan sekuler sehingga mudah diperdaya dan terjebak oleh kebusukan PKI namun ironisnya justru ditelan mentah-mentah oleh sebagian kalangan awam dan struktural NU yang kalap dan merasa tertinggal oleh pola kehidupan Indonesia moderen yang kala itu didominasi oleh kaum terpelajar Islam Masyumi. Padahal Indonseia sendiri adalah memang merupakan “moderen state”. Sedangkan NU pada awalnya juga adalah bagian sekaligus pemrakarsa kelahiran Masyumi.

Inilah realitas politik bangsa ini kini, dan dinamika serta arah yang berlangsung hari ini tidak lebih dari sebagai mata rantai dan perputaran sejarah yang berulang.

Masyumi yang karakter bawaannya menjadi penyokong utama keharmonisan dalam keragaman bangsa ini, kini menjadi anak tiri oleh perputaran zaman, sedang NU yang nota bene adalah islam dan dahulu juga bagian dari Masyumi yang sedang di atas angin, melanjutkan dendam ketertinggalan mereka dalam dinamika politik nasional masa lalu, karena mereka pernah terjungkal bersama Nasakomnya Sukarno cs.

Demi Allah, kejayaan bangsa ini, yang membahagiakan seluruh komponen bangsa adalah konsep dan tradisi ala Masyumi. Tidak ada yang lain, apalagi Ekasila dan Trisila itu.

Oleh : Ali Wardi, SH
(Aktivis Islam)

Jakarta, 6 Januari 2021