Senyum dan Kedipmu

Senyum dan Kedipmu
Net/Ilustrasi

MUDANEWS.COM – Sore itu dikala senja sedang cantik-cantiknya, memancarkan sinar feminitas alam, mengurai maskulinitas cahaya, dan itulah dia kelembutan dan kekerasan bersetubuh dengan sekejap saja. Saat perlahan senja tenggelam, saat itu pula kau menggenggam tanganku. Sentuhan lembut perlahan memberi arti, yang tidak mudah kumengerti.

Duh, senja sedikit lama menghilang dari sudut pandang dunia, aku yakin ia sedang asyik menyaksikan kita, dan kita sedang asyik menyaksikannya. Sentuhan lembutmu itu sekarang dapat kumengerti, tapi kenapa menjadi dingin?

Tunggu, tunggu, tunggu sebentar, aku tak bisa mendengar lafazmu tadi, sungguh aku tak bisa mendengarnya, mohon kau ulangi lagi. Aku mohon!

Kau geser sedikit tubuhmu dari pembaringan, aku sedikit membantu, sekarang kutaruh kepala harummu itu di atas pahaku, bibirmu bergetar tanpa gelombang suara menembus telingaku. Apa…, apa yang barusan kau katakan itu?

Di ujung bumi itu, tepat di sebelah barat, tinggal segaris langit berwarna merah jingga. Sepertinya aku perlu menariknya lagi. Tunggu sebentar!

Sudah, aku sudah menariknya. Maaf, yang bisa kutarik hanya seberkas cahaya, mungkin itu sisanya saja.

Bibir lembutmu bergetar lagi. Berucaplah, sekarang kudekapkan tubuhku, kudekatkan telingaku tepat sebatas sehelai rambut. Bersabdalah!

Kau terus berbisik, kepalaku naik-turun, berderai air membasahi wajahku dan wajahmu. Aku sulit bernafas, menahan sesak di dada, kepalaku terus-naik turun. Iya, iya, iya, aku mengerti. Tapi tolong jangan ulangi kata-kata itu. Telingaku tak mampu mendengarkannya. Aku mohon jangan ulangi lagi.

Maukah kau kuambilkan segelas air minum? Bibirmu yang terus bergetar sekarang mulai terlihat pucat pasi. Mau ya, mau ya? Tunggu sebentar, ‘kan kuambilkan. Tunggu sejenak!

Dari jarak yang hanya beberapa meter, kuperhatikan kau sedang memperhatikan sisa-sisa senja itu. Aku mendekat lagi, dengan segelas air di tangan kiri, dan tangan kananku membantumu duduk menatap sisa cahaya itu. Minumlah, sedikit saja jika tak bisa menghabiskannya. Setidaknya menyegarkan bibir tipismu.

Kutaruh gelas yang sudah tinggal separuh, kau rebahkan lagi tubuhmu dengan bantuan kedua tanganku yang menaruh kepala harummu di atas pahaku lagi. Kau genggam lagi perlahan tanganku, tanganku tak kuasa tak membalasnya.

Sekarang tanganmu terasa lebih dingin. Tangan kirimu perlahan mengusap air yang membasahi wajahku. Akhhh…tanganmu tak dapat menghentikannya, sumbernya malah mengeluarkan air lebih banyak lagi. Menetas membasahi telapak tanganmu yang dingin, membahasi bibirmu yang pasi itu. Kau tersenyum, menikmati sedikit derai air yang menetes tepat di bibirmu. Kau membuatku tersenyum, tapi sesak di dada. Akhhh…..

Kau mengedipkan mata dengan manis. Kedipan pertama sedikit lambat diiringi senyuman sambil membuka mata indahmu. Kedipan kedua, tak kau buka lagi, tak mengiringi apa-apa kecuali…..kecuali sunyi. Dan senja pun pergi. Kudekap tubuhmu dengan kuat, mulutku terbuka lebar tapi tak bisa menghasilkan gelombang suara. Aku meronta-ronta, memukuli tubuhmu yang tak merasakannya lagi.[]

Penulis: Ibnu Arsib (Bukan siapa-siapa, hanya manusia biasa).