Solusi Indonesia Part 2, Al-Quran sebagai Pedoman Berbangsa dan Bernegara

Solusi Indonesia Part 2, Al-Quran sebagai Pedoman Berbangsa dan Bernegara
Hasanuddin, MSi

Oleh : Hasanuddin, MSi
Pengamat Sosial Politik

MUDANEWS.COM – Telah disampaikan pesan Allah Swt pada tulisan terdahulu (part-1) bahwa Alquran diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia tanpa kecuali (hudan linnaas), namun kebanyakan manusia tidak mempercayainya, bahkan mengingkarinya.

Sebab itu, tulisan ini kembali ingin mengajak para pembaca untuk belajar memahami Alquran. Mengajak kepada pemerintah, tambahlah jam pelajaran di sekolah-sekolah, terutama sekolah negeri, jika kalian percaya kepada Allah Swt, percaya akan kebenaran firman-Nya.

Jangan meragukan kebenaran Al-Quran

Jika belum percaya, mari kita simak firman Allah Swt berikut ini:

“Dan jika kalian ragu terhadap bagian manapun dari apa yang kami turunkan (Al-Quran) secara bertahap kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah sebuah surah yang setara nilainya dan panggillah siapa saja selain Allah sebagai saksi bagi kalian; jika yang kalian katakan itu benar.

Dan, jika kalian tidak dapat melakukannya dan pasti tidak akan dapat melakukannya sadarlah akan api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, yang menanti semua orang yang mengingkari kebenaran (Al-Quran). (QS. Surah Al-Baqarah ayat 23-24).

Pada surah Al-Furqon ayat 32-33, Allah Swt memberikan penjelasan tentang kenapa Alquran diturunkan secara bertahap kepada manusia.

Dan, mereka yang berkukuh mengingkari Alquran seringkali bertanya, “Mengapa Alquran tidak diturunkan kepadanya sekaligus” Al-Quran telah diwahyukan dengan secara bertahap agar Kami memperkuat hatimu dengannya–sebab, Kami telah menyusun bagian-bagiannya sedemikian rupa sehingga bagian-bagian itu membentuk satu-kesatuan yang serasi; Dan agar mereka (yang mengingkari kebenaran) tidak akan pernah bisa mencelamu dengan kebenaran semu apa pun yang memperdayakan, tanpa Kami telah menyampaikan kepadamu kebenaran (yang sesungguhnya), dan memberikan penjelasan kepadamu yang terbaik.

“Kesatuan yang serasi” dari ayat-ayat Alquran, menunjukkan bahwa tidak satupun dari ayat-ayat Al-Quran itu yang bertentangan satu sama lain, sebagaimana juga disampaikan pada surah Al-Nisa ayat 82, dan Surah Az-Zumar ayat 23, yang di dalamnya Al-Quran disebut “serasi sepenuhnya dalam dirinya”.

Frasa ” rattalnahu tartilan”- yang padat ini mencakup dua konsep paralel, yakni “menyusun bagian-bagian unsur (sesuatu) dan mengaturnya dengan baik” serta memberikan keserasian internal kepadanya.

Fakta bahwa proses pewahyuan Al-Quran berlangsung dalam rentang waktu 23 tahun dalam kehidupan Nabi Muhammad SAW yang penuh dengan gejolak pergerakan dan drama kehidupan, namun konsisten dan bebas dari kontradiksi di dalamnya, memberikan indikasi yang jelas bahwa ia memang merupakan wahyu Ilahi.

Yang tentu saja hal tersebut akan menguatkan iman kaum muslimin dan mukminin. Dan atas semua itulah, jangan meragukan kebenaran Al-Quran.

Materialisme; Ideologi yang menolak kebenaran Al-Quran

Dengan tegas, Al-Quran menunjuk pandangan materialisme sebagai paham yang senantiasa melakukan penentangan terhadap kebenaran ayat-ayat Allah. Paham inilah yang oleh surah Al-Furqon di atas disebut sebagai “kebenaran semu” yang memperdaya manusia.

Dalam surah Maryam ayat 74 Allah Swt berfirman:

“Namun, betapa banyak generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, orang-orang yang melampaui (yang jauh lebih) dari mereka dalam hal kekuasaan materi, dan penampilan lahiriah.

Orang-orang yang berpaham materialisme ini, senantiasa mengajukan argumen pembuktian “yang semu”, tentang siapakah di antara golongan yang lebih unggul sebagai suatu umat. Orang yang berimankah, yang lebih mementingkan urusan akhiratnya atau orang yang memiliki harta yang banyak? Hal ini disampaikan pada ayat ke 73 di surah Maryam.

Menjelaskan ayat 73 ini, terutama pada frase kalimat ” yang lebih baik golongannya” Muhammad Asad dalam catatan kaki pada tafsir The Message mengatakan; “yang lebih baik golongannya”, merupakan ucapan majasi (parabolic) dari orang-orang yang tidak beriman ini mengimplikasikan, dalam bentuk pertanyaan retoris, suatu argumej yang sepintas lalu masuk akal, tetapi, pada hakikatnya, menyesatkan. Argumen ini mengunggulkan paham masyarakat yang menolak untuk tunduk pada tuntunan moral absolut dan bertekad untuk menaati tuntunan azas manfaat semata.

Dalam tatanan masyarakat yang demikian, kesuksesan material dan kekuasaan biasanya dipandang sebagai konsekuensi dari penolakan terhadap semua pertimbangan metafisika, dan khususnya, penolakan yang terkandung dalam konsep “standar moral yang ditetapkan Allah”.

Dengan asumsi bahwa semua itu hanya akan merintangi mereka untuk mencapai kemajuan, manusia secara bebas tanpa batas. Jelaslah bahwa sikap haus kemajuan ini (tercermin dari ungkapan yang mencapai puncaknya bahwa agama itu candu, bahwa pemeluk agama itu ekstrimis, bahkan teroris), sama sekali bertentangan dengan ajaran agama apapun yang lebih tinggi, bahwa kehidupan sosial manusia, jika ingin menggapai kebaikan, harus tunduk pada prinsip-prinsip yang benar-benar “baik”–harus tunduk pada prinsip dan larangan etis yang jelas dan tegas.

Sesuai dengan sifat dasarnya, larangan-larangan etis ini menghambat dorongan-dorongan berkuasa tanpa kendali yang mendominasi masyarakat yang lebih materialistis.

Dorongan materialistis ini memberikan kemampuan kepada masyarakat untuk mencapai kenyamanan lahiriah dan kedudukan yang lebih kuat dalam waktu singkat, tanpa memperdulikan kerugian yang diderita orang lain dan kerusakan spritual yang menimpa diri mereka sendiri.

Namun sebaliknya, prinsip larangan etis akan mengendalikan egoisme manusia dan rasa haus akan kekuasaan harta, yang hanya dengan prinsip etis inilah, yang mampu membebaskan individu pada suatu masyarakat dari frustrasi dan ketegangan internal yang merusak diri, secara tidak berkesudahan.

Pada gilirannya, prinsip dan larangan etis ini menciptakan kesejahteraan sosial yang lebih abadi, karena bersifat lebih organis. Singkatnya, inilah jawaban Alquran atas argumen kaum materialisme yang disampaikan secara eliptis dan tersirat terhadap pertanyaan retoris dari mereka yang mengingkari kebenaran Alquran, karena lebih mengendepankan azas manfaat untuk memperoleh kekuasaan materi tanpa batas.

Lalu bagaimana umat Islam mesti bersikap terhadap kaum materialisme ini? Allah Swt selanjutnya berfirman:

“Katakanlah, bagi siapapun yang hidup dalam kesesatan, semoga Yang Maha Pengasih” memperpanjang jangka waktu kehidupannya. Dan, biarkanlah mereka mengatakan apa saja, sampai tiba saatnya menyaksikan (malapetaka) yang diancamkan kepada mereka–baik derita (di dunia ini) ataupun (ketika datangnya) Hari Akhir; sebab pada saat itulah mereka akan mengetahui mana (dari golongan manusai itu) yang lebih buruk kedudukannya dan lebih lemah penolong-penolongnya. (QS. Maryam (19) ayat 75.)

Allah melarang kita memusuhi mereka yang berpaham materialisme, sebaliknya kita diminta mendoakan mereka semoga Allah Swt memperpanjang masa kehidupan mereka di bumi ini.

Sebagai sesama Muslim, catatan ini kami maksudkan sebatas saling mengingatkan bagi yang telah lupa, dan semoga dapat menjadi informasi dan inspirasi bagi yang belum tahu.

Sekali lagi, jangan ragukan kebenaran Al-Quran, turutlah kepada Alquran dan hadits, serta jadikanlah pedoman dalam kebidupan kebangsaan dan kenegaraan. Itulah solusi yang terbaik atas berbagai tantangan yang sedang kita hadapi.

Billahitaufiq walhidayah

Kamis, 29 Oktober 2020