Menyambut HUT Kemerdekaan RI, FSM Sumut: Mahasiswa Ikut Serta Bela Negara
Logo FSM

MUDANEWS.COM, Medan – Bela negara adalah sebuah konsep yang disusun oleh perangkat perundangan dan petinggi suatu negara tentang patriotisme seseorang, suatu kelompok atau seluruh komponen dari suatu negara dalam kepentingan mempertahankan eksistensi negara tersebut. Secara fisik, hal ini dapat diartikan sebagai usaha pertahanan menghadapi serangan fisik atau agresi dari pihak yang mengancam keberadaan negara tersebut, sedangkan secara non-fisik konsep ini diartikan sebagai upaya untuk serta berperan aktif dalam memajukan bangsa dan negara, baik melalui pendidikan, moral, sosial maupun peningkatan kesejahteraan orang-orang yang menyusun bangsa tersebut.

Gerakan mahasiswa di Indonesia adalah kegiatan kemahasiswaan yang ada di dalam maupun di luar perguruan tinggi yang dilakukan untuk meningkatkan kecakapan, intelektualitas dan kemampuan kepemimpinan para aktivis yang terlibat di dalamnya.

Dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia, gerakan mahasiswa seringkali menjadi cikal bakal perjuangan nasional, seperti yang tampak dalam lembaran sejarah bangsa.

Boedi Oetomo, adalah suatu wadah perjuangan yang pertama kali memiliki struktur pengorganisasian modern. Didirikan di Jakarta, 20 Mei 1908 oleh pemuda-pelajar-mahasiswa dari lembaga pendidikan STOVIA, wadah ini merupakan refleksi sikap kritis dan keresahan intelektual terlepas dari primordialisme Jawa yang ditampilkannya.

Pada konggres yang pertama di Yogyakarta, tanggal 5 Oktober 1908 menetapkan tujuan perkumpulan: Kemajuan yang selaras buat negeri dan bangsa, terutama dengan memajukan pengajaran, pertanian, peternakan dan dagang, teknik dan industri, serta kebudayaan.

Dalam 5 tahun permulaan Budi Oetomo sebagai perkumpulan, tempat keinginan-keinginan bergerak maju dapat dikeluarkan, tempat kebaktian terhadap bangsa dinyatakan, mempunyai kedudukan monopoli dan oleh karena itu BU maju pesat, tercatat akhir tahun 1909 telah mempunyai 40 cabang dengan lk.10.000 anggota.

Disamping itu, para mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Belanda, salah satunya Mohammad Hatta yang saat itu sedang belajar di Nederland Handelshogeschool di Rotterdam mendirikan Indische Vereeninging yang kemudian berubah nama menjadi Indonesische Vereeninging tahun 1922, disesuaikan dengan perkembangan dari pusat kegiatan diskusi menjadi wadah yang berorientasi politik dengan jelas. Dan terakhir untuk lebih mempertegas identitas nasionalisme yang diperjuangkan, organisasi ini kembali berganti nama baru menjadi Perhimpunan Indonesia, tahun 1925.

Berdirinya Indische Vereeninging dan organisasi-organisasi lain,seperti: Indische Partij yang melontarkan propaganda kemerdekaan Indonesia, Sarekat Islam, dan Muhammadiyah yang beraliran nasionalis demokratis dengan dasar agama, Indische Sociaal Democratische Vereeninging (ISDV) yang berhaluan Marxisme, menambah jumlah haluan dan cita-cita terutama ke arah politik. Hal ini di satu sisi membantu perjuangan rakyat Indonesia, tetapi di sisi lain sangat melemahkan BU karena banyak orang kemudian memandang BU terlalu lembek oleh karena hanya menuju “kemajuan yang selaras” dan terlalu sempit keanggotaannya (hanya untuk daerah yang berkebudayaan Jawa) meninggalkan BU. Oleh karena cita-cita dan pemandangan umum berubah ke arah politik, BU juga akhirnya terpaksa terjun ke lapangan politik.

Kehadiran Boedi Oetomo, Indische Vereeninging, dll pada masa itu merupakan suatu episode sejarah yang menandai munculnya sebuah angkatan pembaharu dengan kaum terpelajar dan mahasiswa sebagai aktor terdepannya, yang pertama dalam sejarah Indonesia: generasi 1908, dengan misi utamanya menumbuhkan kesadaran kebangsaan dan hak-hak kemanusiaan dikalangan rakyat Indonesia untuk memperoleh kemerdekaan, dan mendorong semangat rakyat melalui penerangan-penerangan pendidikan yang mereka berikan, untuk berjuang membebaskan diri dari penindasan kolonialisme.

Pada pertengahan 1923, serombongan mahasiswa yang bergabung dalam Indonesische Vereeninging (nantinya berubah menjadi Perhimpunan Indonesia) kembali ke tanah air. Kecewa dengan perkembangan kekuatan-kekuatan perjuangan di Indonesia, dan melihat situasi politik yang di hadapi, mereka membentuk kelompok studi yang dikenal amat berpengaruh, karena keaktifannya dalam diskursus kebangsaan saat itu. Pertama, adalah Kelompok Studi Indonesia (Indonesische Studie-club) yang dibentuk di Surabaya pada tanggal 29 Oktober 1924 oleh Soetomo. Kedua, Kelompok Studi Umum (Algemeene Studie-club) direalisasikan oleh para nasionalis dan mahasiswa Sekolah Tinggi Teknik di Bandung yang dimotori oleh Soekarno pada tanggal 11 Juli 1925.

Diinspirasi oleh pembentukan Kelompok Studi Surabaya dan Bandung, menyusul kemudian Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI), prototipe organisasi yang menghimpun seluruh elemen gerakan mahasiswa yang bersifat kebangsaan tahun 1926, Kelompok Studi St. Bellarmius yang menjadi wadah mahasiswa Katolik, Cristelijke Studenten Vereninging (CSV) bagi mahasiswa Kristen, dan Studenten Islam Studie-club (SIS) bagi mahasiswa Islam pada tahun 1930-an.

Dari kebangkitan kaum terpelajar, mahasiswa, intelektual, dan aktivis pemuda itulah, munculnya generasi baru pemuda Indonesia yang memunculkan Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928. Sumpah Pemuda dicetuskan melalui Konggres Pemuda II yang berlangsung di Jakarta pada 26-28 Oktober 1928, dimotori oleh PPPI.

Merujuk pada sejarah pergerakan dan perjuangan Mahasiswa, Koordinator Nasional Forum Silaturrahmi Mahasiswa Sumatera Utara (KoorNas FSM-Sumut) Muhammad Mas’ud Silalahi bahwa Mahasiswa itu harus ikut serta membela negaranya dari ancaman-ancaman idiologi yang menginginkan perpecahan yang menyebabkan kehancuran bagi bangsa kita. “Sebagai kaum intelektual muda tentu Mahasiswa harus pro-aktif menyikapi persoalan kebangsaan yang hari ini sedang digerogoti oleh oknum-oknum yang ingin melemahkan bangsa Indonesia dari idiologi yang tidak menyehatkan dan tindakan-tindakan amoral yang merusak generasi muda bangsa kita yang besar dan kaya raya ini,” jelasnya  di Medan, Kamis (15/8/2019).

Dengan demikian, jelas Mas’ud, memang betul kemerdekaan itu sudah diserahkan untuk bangsa kita, tapi jika tidak diisi dan diperkuat maka usaha para pendiri bangsa (The Founding Fathers) akan sia-sia dan bahkan kehancuran akan kita peroleh jika tidak mengisinya dengan nilai-nilai dan norma-norma yang telah kita sepakati bersama untuk menjalankan hidup berbangsa dan bernegara yang dewasa ini.

Meski begitu, mahasiswa sebagai agen of change and social control tentu memiliki tugas dan tanggungjawab untuk membawa kabar perubahan yang lebih baik lagi untuk bangsa dan negara kita, disamping itu juga mahasiswa harus menjadi pengendali gerakan-gerakan yang ada ditengah-tengah masyarakat umum. “Dimana arus komunikasi dan informasi ditengah-tengah masyarakat harus disikapi dan disambut dengan baik serta ikut serta juga memberikan pemahaman-pemahaman terhadap masyarakat tentang pentingnya berbangsa dan bernegara dan menjadikan pancasila sebagai asas yang mesti dijalankan didalam kehidupan sehari-hari. Bukan hanya sebagai simbolik yang menjadi pajangan disetiap perkantoran dan rumah-rumah,” jelasnya.

Menurutnya, mahasiswa itu harus memiliki sikap keteladanan, kecakapan dan kepiawaian sebagai calon pemimpin dimasa mendatang untuk menyumbangkan ide serta gagasan membangun bangsa. “Saya kira juga pemerintah harus mensuport semua aktifitas mahasiswa yang positif untuk membangun peradaban mulia dan ketika ada kritikan dan saran untuk masukan bagi pemerintah jangan dianggap sebagai ujaran kebencian dan penyebaran informasi palsu. Karena sejatinya mahasiswa itu bergerak atas dasar fakta-fakta yang dirasakan oleh masyarakat bawah,” ujar Mas’ud Silalahi.

Disamping itu, Koordinator Nasional FSM – Sumut Muhammad Mas’ud Silalahi menghimbau kepada seluruh anggotanya untuk ikut serta membela negara dari ancaman idiologi yang diharamkan bangsa Indonesia dengan ikut serta mengamalkan Pancasila dan UUD 45 serta mengajak masyarakat untuk bersama-sama dengan Pemerintah, TNI dan POLRI untuk melontarkan perlawanan bagi siapapun yang berupaya melemahkan NKRI dihadapan bangsa-bangsa lainnya. Berita Medan, red