Mak Militan
Net/Ilustrasi

MUDANEWS.COM – Belum pernah saya ketemui, antusias mak-mak turun memperjuangkan hak politiknya, seperti Pilpres 2019. Semua daya upaya dikerahkan, uang, waktu, tenaga dan perasaan. Tidak berafiliasi ke partai politik, tidak dibayar, berjuang sampai alis luntur, bedak terhapus keringat dan lipstick habis 2 sehari. Rambut jadi lepek, roll on selalu dibawa sampai tissue satu box gak lupa didalam tas. Siap tempur katanya. Ngeri.

Mereka turun ke jalan, menghadang pak Polisi, sambil bernyanyi “pak polisi jangan ikut kompetisi”, pak pulisinya sampai kedodoran kumisnya. Kalo sudah gini, mau itu bintang 2,3,4 atau bintang 7 pun gak akan bisa ngelawan mak-mak gini, nyerah. Bukan takut, tapi keinget bini di rumah sama galak dan bawelnya.

Tetiba bagai petir di siang bolong, beredar tulisan yang mengatakan mereka buzzer, relawan kaleng atau bagian poros ketiga. Muke gile, mungkin yang ngemeng kebanyakan nyalon disalon banci, bisanya vonis dan menghujat, tapi mereka duduk manis di ruang ac, bicara setinggi langit tentang politik negeri ini. Mereka lupa, kalo mak-mak berjuang untuk tujuan yang lebih jauh. Mereka khawatir kondisi negeri ini, mak-mak turun bukan untuk 3,4, 5 tahun kedepan, tapi demi masa depan anak-anaknya. Kegelisahan mak-mak yang membuat harus turun, bukan karena gak ada kerjaan. Banyak diantara mereka kalangan terdidik, tajir dan tentunya cantik-cantik. Perjuangan mak-mak bukan untuk posisi di dewan, gak faham mereka. Perjuangan mak-mak gak berharap posisi di BUMN atau sejenisnya kalo menang.

Mereka hanya berharap ada perubahan. Jadi kalo mak-mak disakiti oleh ucapan relawan kaleng, tentu sakit mendengarnya, kalo perlu yang mengucapkan dipapas unggasnya sampai biji, sekalian jadi banci kaleng.

Saat kelelahan, di sudut pelataran gedung Sarinah, mak-mak beristirahat. Pandangannya jauh lepas kedepan, sambil mengelap keringat di dahi. Mereka bisa aja nonton TV, masak di dapur atau berleha-leha di atas kasur sambil chating dan cekikikan. Mereka hadir bukan karena ada arisan atau rujakan, mereka hadir menentukan sikap dimana mereka berada. Gak kebayang sakitnya, dikatakan relawan kaleng.

Setelah pemenang yang dimenangkan ditetapkan MK, justru saat itu harusnya para tokoh yang hebat turun bersama mak-mak, bangkitkan semangat perjuangan, bukannya membenamkan dengan umpatan dan cacian. Harusnya kalian berterima kasih dan punya malu, karena perjuangan mak-mak sudah maksimal, jangan menuntut terlalu panjang, kalianlah yang lalai menjalankan peran. Dan bagi tokoh yang sudah mendapat kursi di dewan, jangan seperti pepatah “habis manis sepah dibuang”. Kalo ada yang seperti itu, bolehlah disebut politikus kalengan. Ngamen, dapat recehan lalu diam.

Mak, Keep Spirit & Fight!

Alhadi Muhammad