Membangun Peradaban Dunia, Ilmu Harus Disemboyankan Melalui Keutuhan Nilai 
Bersama Ir . Djoko Gunawan MT sebagai Penjabat Sekretaris Daerah (Sekda) Brebes dan Sahabat Rahmat Nuriyansah Ketua Bidang Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Eksplorasi Tekhnologi PKC PMII Jawa Barat

MUDANEWS.COM, Jawa Barat – Pada suatu ketika saat sains (ilmu pengetahuan) mayority menjadi penulis buku-buku referensi yang bersumber dari story, tertuju pada centimen pasar karena penulis tersebut hanya membutuhkan pengakuan. Dalam perjalanan panjang history terikat oleh ruang dan waktu, tata ruang dan tata adat yang tertuang dalam sebuah dimensi.

Semakin tingginya volume centimen pasar masyarakat luas di Indonesia mengalami keruntuhan nilai secara systemic karena daya konsumsi publik tidak sesuai history. Seyogyanya keterikatan dimensi tersebut menjadi nilai dan motor penggerak dalam menjaga keutuhan peradaban (belief of system), definisi tersebut menjadi strategi dan taktik sehingga mampu melahirkan sifat- qonaah (wal awalu wal akhiru).

Tentu saja tekhnologi tersebut adalah blue print yang berangkat dari history (untuk urusan dunia bermusyawarah-lah karena disitu ada rahmat-ku) dan diperpendek menjadi strategy (al-furqan, al-bayan, as-samsa). Dalam ruang dan waktu Allah selalu membuat history dan itu dinamakan Ihsan, automatically. Dalam menerapkan sistem tersebut tentu harus mempunyai ketauladanan yang utuh dalam menjaga nilai tersebut.

Perpaduan nilai antara etika, estetika dan moralitika menjadi keutuhan nilai yang tidak dapat diejawantahkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, seyogyanya. Akan tetapi saat UUD 1945 menjadi Grand Design Feodal, Bangsa Indonesia lumpuh dijajah secara hard power akhirnya Bangsa Indonesia menyatakan sikap melalui Sumpah Pemuda kemudian berdaulat pada tanggal 17 Agustus 1945 (HUT PK-BI) seiring berjalannya waktu penjajahanpun berganti Soft Power sampai sekarang, runtuh secara nilai tahap demi tahap. Disitulah Indonesia menjadi history untuk feodal dan story untuk Bangsa Indonesia.

Kemajemukan nilai menjadi sarana feodal saat pasal demi pasal tidak mengandung unsur nilai (etika dan estetika). Sehingga pada proses implementasinya merujuk kepada kepentingan feodal termasuk undang-undang BI, Minerba, Agraria, dll.

Saat feodal menggunakan pasal-pasal sebagai alat dagang. Pancasila harus diturunkan menjadi koridor, regulator (strategy of mark). Menjadi sumber dari segala sumber hukum untuk mempertahankan keutuhan nilai dalam berbangsa dan bernegara dalam menuju peradaban yang utuh.

Dalam menentukan varietas nilai tentu catatan demi catatan penting harus bersumber dari history dalam membuat definisi serta strategy untuk mengetahui arah Bangsa Indonesia menuju peradaban yang utuh. Tentu dalam proses pencapaiannya harus berpijak pada hal yang Absolute. Karena ilmu itu harus di sampaikan dengan penuh ketauladanan agar tertanam dengan utuh dan tidak merusak.

Penulis Adalah Rahmat Nuriyansah