Kemana PAN Pasca Kongres Kendari ?

Kemana PAN Pasca Kongres Kendari ?
Logo PAN

MUDANEWS.COM – Hiruk pikuk politik PAN pasca kongres ke-V di Kota Kendari, Propinsi Sulawesi Tenggara tanggal 10-12 Pebruari 2020 kembali mendingin. Peserta kongres secara berangsur kembali ke daerahnya masing-masing. Zulkifli Hasan sukses full mendulang 331 suara dan mengalahkan rival kuatnya Mulfachri Harahap yang hanya meraih 225 suara dari 562 suara yang membubuhkan pilihannya kepada tiga kandidat. Zulkifli akhirnya memimpin PAN untuk kedua kalinya periode 2020-2025.

Pasar politik PAN saat menjelang kongres, memprediksi jagoan pendiri PAN Amien Rais bakal memimpin PAN. Faktanya sejak kongres II, Amien Rais memplot Soetrisno Bachir menang dalam kongres, begitu juga pada kongres III Amien mendapuk Hatta Rajasa terpilih sebagai ketua umum. Hal yang sama pada kongres ke-IV, Amien kembali menguasai panggung politik PAN dan memberikan dukungan full kepada Zulkifli Hasan sebagai ketua umum. Intervensi politik Amien Rais mengusung calon setiap kongres PAN terbilang sukses. Tapi, Kongres V PAN di Kendari, pengaruh politik Amien Rais ternyata tidak setajam kongres II, III dan IV. Jagoan Amien justru keok dan pengaruh politik Zulkifli Hasan lebih dominan bagi peserta kongres PAN di Kendari, dan akhirnya Zulkifli pun tampil sebagai pemenang dan didapuk menjadi ketua umum PAN untuk lima tahun ke depan.

Lantas pertanyaannya, mengapa jagoan Amien Rais kalah dalam kongres ke-V PAN ? Beberapa analisis komunikasi politik yang penulis sampaikan dalam uraian tulisan ini setidaknya dapat menjawab pertanyaan yang diajukan. Pertama, sesepuh PAN Amien Rais habis-habisan dikeroyok kader PAN yang “dendam politik” kepada Amien Rais. Sebut saja Soetrisno Bachir, Hatta Rajasa dan Zulkifli Hasan. Persepsi politik yang muncul selama ini, bahwa ajang kongres PAN berjalan seperti demokrasi yang “beku”. Regenerasi kepemimpinan berjalan, tetapi siapa ketua umumnya, maka penentu pengganti generasi itu berasal dari dukungan Amien Rais. Kongres yang digelar terkesan hanya melegalkan seremoni politik PAN untuk mengganti kepemimpinan yang disukai Amien Rais.

Fakta-fakta yang dapat diuraikan setiap perhelatan kongres, Soetrisno Bachir merasa disingkirkan ketika ia ingin kembali memimpin PAN tahun 2010. Tetapi, ternyata jagoan Amien Rais saat itu Hatta Rajasa. Nasib yang sama juga dialami Hatta Rajasa. Hatta tahun 2015 sebenarnya ingin kembali memimpin PAN, tetapi lagi-lagi calon Amien Rais pada kongres PAN di Bali tahun 2015 itu Zulkifli Hasan. Zulhas pun terpilih sebagai ketua umum. Nah, tradisi politik kepemimpinan pada Kongres V PAN di Kendari tidak terulang kembali. Kongres Kendari dianggap sebagai kongres “air mata” bagi Amien Rais. Kongres ini meluluhlantakkan pengaruh politik Amien Rais dalam kongres. Amien nyata-nyata memberikan dukungan politiknya untuk ketua umum PAN kepada Mulfachri Harahap-Hanafi Rais.

Kekuatan politik Amien Rais untuk memplot Mulfachri Harahap-Hanafi Rais, akhirnya benar-benar kandas di tengah jalan. Suasana riuh di kongres hingga lempar melempar kursi antara kubu kandidat sebenarnya biasa dalam kongres partai politik. Tetapi, riuh kongres ke-V PAN itu justru disusupi pihak ketiga yang menginginkan suasan kongres rusuh dan deadlock. Khawatir kongres deadlock, ntah kenapa muncul manuver politik kader PAN yang kalah dalam kongres bergabung mendukung Zulkifli Hasan. Bayangkan saja, gajahnya PAN Soetrisno Bachir menyatakan dukungan kepada Zulkifli Hasan, Hatta Rajasa juga demikian, bahkan salah satu kandidat Asman Abnur juga menyatakan mundur dalam mengarahkan dukungan suaranya kepada Zulkifli Hasan. Dari sinilah, titik klimaks politik dan pengaruh Amien Rais tidak sekuat kongres sebelumnya. Kalau boleh saya sebut, istilah ini adalah “dendam politik” kader PAN kepada Amien.

Kedua, dukungan Amien Rais kepada Mulfachri secara politik untuk memperkuat status quo Amien Rais kepada pemerintahan Joko Widodo. Jika Mulfachri-Hanafi memimpin PAN, maka tertutup rapat kemungkinan PAN berkoalisi dengan pemerintah. Ini artinya, PAN tetap pada posisi di luar pemerintahan. PAN tidak berada dalam pemerintahan dan senantiasa mengawal pemerintahan yang kritis dan konstruktif. Ketiga, terpilihnya Zulkifli Hasan sebagai ketua umum PAN pasca kongres Kendari, haluan politik PAN dipastikan berubah. Berubah 360 derajat dari kondisi politik PAN sebelumnya. Gerbong Zulkifli Hasan dan pendukungnya dalam beberapa waktu ke depan ini akan menentukan sikapnya. Munculnya dua kubu besar dalam kongres PAN di Kendari sekaligus memetakan bahwa PAN sesungguhnya terbelah dua kubu. Ada pendukung pemerintahan ada juga tidak mendukung pemerintahan.

Kiblat PAN Pasca Kongres

Sejarah panjang PAN untuk mendukung pemerintah secara nyata dan full, baru terjadi di masa kepemimpinan Presiden SBY. Saat itu nakhoda kapal di bawah kepemimpinan Soetrisno Bachir dan Hatta Rajasa. Dalam dua periode kepemimpinan SBY, PAN menyatakan dukungan full kepada pemerintahan. Di sinilah PAN memperoleh keuntungan berkoalisi, PAN dapat jatah menteri-menteri strategis, PAN memperoleh jabatan strategis lainnya di luar jabatan menteri.

Beralih kepemimpinan, ketika Jokowi memimpin pada periode pertama. PAN sempat berkoalisi dengan pemerintah. PAN akhirnya diberi jatah menteri. Tetapi, koalisi ini tidak berjalan lama seiring peta politik menjelang pilpres 2019 sangat dinamis. Koalisi PAN dengan pemerintahan Jokowi pun bubar, dan PAN menyatakan dukungan pilpresnya tahun 2019 kepada Prabowo Subianto. Kisah tragis politik ini terulang kembali, Prabowo kalah dalam pilpres, nasib politik PAN pun berada di persimpangan. Apakah masuk dalam kolisi pemerintahan atau tetap berada di luar pemerintahan.

Tak bermaksud menggiring opini politik dalam tulisan ini, tetapi fakta politik pasca kongres PAN di Kendari, kiblat politik PAN nampaknya bakal merapat ke Istana. PAN diprediksi bergabung dengan koalisi pemerintahan. Indikasi itu sudah terlihat nyata ketika Soetrisno Bachir, Hatta Rajasa mendukung full Zulkifli Hasan. Untuk saat ini, tiga tokoh PAN ini sedang memiliki kepentingan dengan Istana, ketiganya memiliki kasus hukum dengan KPK. Maka, tak salah jika penulis memprediksi bahwa PAN pasca kongres Kendari akan mengubah kiblat politiknya dari luar pemerintahan masuk ke dalam pemerintahan. Memang tidak secepat yang diinginkan banyak stakeholder politik. Ini berjalan perlahan dan pasti, yakinlah.

Karir Zulkifli Hasan sebagai ketua umum terpilih pada Kongres Kendari memang terbilang baik di PAN dan pemerintahan. Zulkifli mengawali kariernya di PAN sebagai ketua Departemen Logistik pada periode 2000-2005. Tak lama berselang, karirnya menanjak pesat. Ia langsung dipercaya mengemban amanah sebagai Sekretaris Jendral PAN periode 2005-2010 di bawah Ketua Umum Soetrisno Bachir. Kongres PAN ke-IV tahun 2015, Zulkifli berhasil menjabat sebagai Ketum PAN dengan mengalahkan pesaingnya kala itu Hatta Rajasa. Jabatan yang sama pun kini berhasil ia rengkuh untuk kedua kalinya. Sosok Zulkifli ini tidak telepas dari pelbagai kontroversi. Zulkifli Hasan pernah memberikan izin untuk pelepasan hutan 1,64 juta hektare atau 25 kali lipat luas Jakarta saat masih menjabat sebagai Menhut era SBY. Tak hanya itu pula, beliau pernah dipanggil Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait kasus alih fungsi hutan Riau. Zulkifli dipanggil KPK diperiksa sebagai saksi terkait kasus dugaan alih fungsi hutan Riau yang menjerat mantan Gubernur Riau Annas Maamun. Agenda pemeriksaan itu untuk tersangka PT Palma.

Penutup

Mengakhiri tulisan singkat ini, penulis ingin menegaskan bahwa dalam politik perubahan itu selalu dinamis. Politik itu cair dan dinamikanya juga berjalan serba mengejutkan. Parpol yang ngotot di luar pemerintahan, bisa jadi berubah dan masuk ke dalam pemerintahan. Prediksi PAN masuk pemerintahan Jokowi justru sangat besar. Tradisi PAN saat pemilu sering menjadi oposisi, tetapi pasca pemilu berkoalisi dengan pemerintah. Dan inilah yang bakal dilakukan Zulkifli Hasan dengan pendukungnya. Meski demikian, kubu yang Amien dan pendukungnya tidak perlu diam seribu bahasa. Tetapi tetap memberikan masukan dan kritikan konstruktif untuk kemajuan PAN.

Oleh : Dr Anang Anas Azhar MA

Penulis adalah Analis Komunikasi Politik, Dosen Pascasarjana UINSU, UMSU Medan dan penulis buku Pencitraan Politik Elektoral PAN