Pemimpin dan Pemimpi

Pemimpin dan Pemimpi
Wahyu Triono KS

MUDANEWS.COM – Beberapa kandidat kepala daerah bertanya kepada saya, bagaimana caranya memenangkan kandidasi untuk menjadi kepala daerah? Saya menjawabnya dengan tiga versi.

Versi pertama, kandidat harus mampu menggerakkan instrumen kampanye modern dengan menggunakan uang (money move politic) tetapi bukan politik uang (money politic) apalagi dengan membeli suara pemilih (money buy voters).

Fungsi uang dipergunakan bukan untuk mengganjal mulut dan perut tetapi menggerakkan instrumen kampanye modern. Uang berfungsi untuk menyewa jasa konsultan kampanye, membayar iklan, media relations, membuat buku dan seterusnya. Uang dipergunakan untuk membangun spirit voter education, menggerakan hati dan pikiran para pemilih.

Versi kedua, seorang kandidat akan memenangi pemilihan kepala daerah bila memiliki apa yang disebut dengan Wangsit.

Wangsit itu bermakna dua. Wangsit pertama, bahwa seseorang mesti memiliki wahyu atau amanah agar lulus dan menang menjadi kepala daerah. Wangsit atau amanah itu datang dari Sang Pemberi kekuasaan yaitu Tuhan Yang Maha Kuasa.

Wagsit kedua adalah uang disit atau uang duluan. Para pendukung, relawan dan tim membutuhkan uang terlebih dulu baru bisa bergerak dan menggerakkan tim. Tidak lagi bisa menggunakan wangsul atau uang menyusul.

Versi ketiga, bahwa kandidat akan memenangi sebuah kandidasi sebagai kepala daerah apabila loyal dan royal. Loyal pada yang memberi kepercayaan dan royal pada yang dipimpin atau masyarakat.

Citra Pemimpin

Pemikir politik Islam Al Mawardi mensyaratkan dua persyaratan utama agar seseorang menjadi pemimpin yaitu, pertama, dapat menjaga amanah secara adil.

Amanah kepemimpinan yang berasal dari Tuhan harus dilaksanakan secara baik dan menjaga kepercayaan rakyat atau ummat dengan berbuat adil. Inilah yang disebut sebagai loyalitas seorang pemimpin.

Selanjutnya, yang kedua pemimpin itu harus dermawan. Pemimpin yang pelit, kikir, bakhil tidak disukai oleh rakyat atau ummat. Pemimpin mestilah menggunakan harta bendanya untuk perjuangan mensejahterakan rakyat.

Pemimpin mesti memberi bukan menerima, melayani bukan minta dilayani dan diistimewakan.

Era demokrasi modern dengan pemilihan secara langsung termasuk pemilihan kepala daerah secara langsung dan serentak seperti saat ini sulit bagi kita menemukan pemimpin sebagaimana pemikiran Al Mawardi.

Tampaknya kini kita semakin sulit mencari tokoh yang berada di panggung kebijakan bekerja terperinci, dengan presisi dan bereputasi tinggi. Tidak ingin menjadi seperti aktor yang gandrung lampu sorot dan tepuk tangan, tetapi tokoh yang bekerja di balik layar dengan diam.

Kini justeru makin jamak kita temui para tokoh yang bekerja di panggung kebijakan dengan gegap gempita, penuh warna dan cetar membahana. Demokrasi dan reformasi telah menyeret kita pada suatu era dimana kita ingin berlomba seperti aktor yang gandrung lampu sorot, tepuk tangan dan membutuhkan citra dan piala.

Memang setiap masa memiliki generasinya sendiri, dan setiap zaman melahirkan pemimpinnya sendiri. Bila dulu lahir para pemimpin yang tak ingin citra dan piala (sepi ing pamrih rame ing gawe), kini telah lahir generasi dengan para pemimpinnya yang memerlukan citra dan Piala (rame ing pamrih, rame ing gawe). Tetapi sampai kapan pun kita tidak pernah butuh pemimpin yang rame ing pamrih, sepi ing gawe.

Pemimpin Ideal

Momentum Pemilihan Kepala Daerah secara langsung dan serentak yang akan dimulai Juni 2020 menjadi momentum bagi bangsa Indonesia untuk memilih para kandidat pemimpin yang benar-benar pemimpin.

Pemimpin adalah orang yang selalu hadir di setiap waktu, menyingsingkan tangan, memberi uluran tangan. Mengukir garis tangan dengan campur tangan dan menetapkan semua kebijakan dengan tanda tangan untuk menjawab keluh kesah orang-orang yang menadahkan tangan berdoa dan memohon kepada Tuhan untuk diberi buah tangan dan mengusap keluh dan air mata dengan usapan tangan.

Pemimpin adalah orang yang mampu menggerakkan semua orang untuk turun tangan. Pemimpin juga orang yang tidak melimpahkan tanggungjawab kesalahan dengan menuding-nudingkan tangan pada orang. Tidak lepas tangan bila ada beban dan risiko yang harus dihadapi, tidak cuci tangan bila terjadi hal-hal yang akan mengancam kekuasaan.

Pemimpin adalah orang yang menggunakan tangannya untuk menegakkan kebenaran, kejujuran dan keadilan bagi kemaslahatan dan membangun peradaban untuk kemakmuran dan kesejahteraan.

Pemimpin adalah orang yang paling terakhir mendapatkan dan merasakan nikmatnya mendapatkan sesuatu di genggaman tangan, memperoleh pujian dengan dua jempol tangan, mendapatkan jabat tangan dan tepuk tangan dari banyak orang.

Dan kita sedang menunggu para pemimpin dan bukan pemimpi, yaitu yang selalu menunggu momentum tiba dan ingin memperoleh pujian dengan dua jempol tangan, mendapatkan jabat tangan dan tepuk tangan dari banyak orang dengan hanya berpangku tangan dan berharap bahwa keajaiban dari Tuhan akan datang. [WT, 31/01/2020]

Oleh: Wahyu Triono KS
Dosen FISIP Universitas Nasional