Mengambil Ibrah Melalui Hijrah

Mengambil Ibrah Melalui Hijrah
Arnita Diah Permata

MUDANEWS.COM, Medan – Hijrah berasal dari bahasa arab yang artinya adalah perpindahan, yaitu pindah dari suatu tempat ke tempat yang lain guna mencari keselamatan diri dan mempertahankan aqidah agar lebih dekat dengan Allah Sang Pencipta.

Hijrah tidak selalu diartikan dengan berpindah tempat, namun perpindahan dari suatu keadaan ke keadaan yang lain untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya. Hijrah pada hakikatnya adalah berpindah menuju kebaikan. Misalnya dari orang yang berkepribadian kurang baik berusaha menjadi orang yang lebih baik lagi.

Definisi hijrah cukup banyak terdapat di dalam al-Qur’an contohnya ;

اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَالَّذِيْنَ هَاجَرُوْا وَجَاهَدُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۙ اُولٰۤىِٕكَ يَرْجُوْنَ رَحْمَتَ اللّٰهِ ۗوَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْم

Yang artinya : “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, dan orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah : 218).

Tafsir ayat:

Sesungguhnya orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasulnya dan melaksanakan syariatnya, dan mereka meninggalkan kampung halaman mereka dan mereka berjihad di jalan Allah, mereka itu adalah orang-orang yang berharap besar memperoleh karunia Allah dan pahala Nya. Dan Allah maha pengampun terhadap dosa-dosa hamba-hamba Nya yang Mukmin, maha penyayang terhadap mereka dengan rahmat yang luas. (Tafsir al-Muyassar)
Dalam sejarah islam, konteks hijrah diketahui pada masa awal dakwah Rasulullah SAW.

Ketika mendapatkan banyaknya penolakan pada masa awal dakwahnya di kota Makkah, Rasulullah memilih untuk berpindah tempat dari kota Makkah ke kota Madinah untuk mendapatkan hasil yang lebih baik, karena orang Madinah lebih mudah menerima dakwah Rasulullah SAW.

Belakangan ini hijrah sedang marak terjadi, guna untuk melakukan cara hidup yang sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah. Ada beberapa contoh kisah yang melatarbelakangi seseorah berhijrah. Berdakwah melalui media sosial dan teknologi memang efektif di masa sekarang apalagi di masa pandemi ini karena kita memang dilarang untuk keluar rumah dan mengadakan perkumpulan.

Dengan menggunakan media seperti ini kita juga bisa mempelajari agama dari dakwah para ustaz-ustaz. Ada pula yang berhijrah melalui kisah inspiratif para muallaf tentang bagaimana mereka mendapatkan hidayah dari Allah SWT.

Setiap orang pada dasarnya diberi kesempatan untuk berhijrah dengan cara yang berbeda-beda, tergantung bagaimana kita menjemput hidayah Allah, dengan kata sederhananya pada dasarnya kita yang membutuhkan Allah, bukan sebaliknya. Maka ketika kita menyaksikan seseorang berhijrah bantulah dan berilah semangat agar proses hijrahnya optimal dan ia terus istiqomah.

Tugas seorang mukmin jika telah memutuskan pada dirinya untuk berhijrah adalah meluruskan niat dan menguatkan iman. Karena ditengah-tengah proses berhijrah pasti mendapatkan ujian, ada yang diuji dengan finansial, dijauhi teman-teman, sampai ada juga yang dilarang oleh orang tua. Itulah fungsinya menguatkan iman, supaya kita tidak mudah kembali tenggelam dalam kesibukan sebelum kita berhijrah, dan juga supaya kita istiqomah dan ikhlas menjalankan apa-apa yang diperintahkan Allah.

Allah berfirman (QS. Fussilat : 30-32) ;

Ayat 30

اِنَّ الَّذِيْنَ قَالُوْا رَبُّنَا اللّٰهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوْا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ اَلَّا تَخَافُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَبْشِرُوْا بِالْجَنَّةِ الَّتِيْ كُنْتُمْ تُوْعَدُوْنَ

Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”.

Ayat 31

نَحْنُ اَوْلِيَاۤؤُكُمْ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَفِى الْاٰخِرَةِ ۚوَلَكُمْ فِيْهَا مَا تَشْتَهِيْٓ اَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيْهَا مَا تَدَّعُوْنَ ۗ

Artinya : “Kami lah Pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta”.

Ayat 32

نُزُلًا مِّنْ غَفُوْرٍ رَّحِيْمٍ

Artinya : “Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Tips yang bisa kita lakukan untuk tetap istiqomah jika kita sudah memutuskan untuk berhijrah.

  • Pertama, mencari teman-teman yang sholihah. Karena jika kita hijrah sendirian, kita mungkin bisa akan kembali futur lagi. Oleh karena itu, kita membutuhkan orang-orang yang selalu setia mengingatkan kita jika kita melakukan hal yang salah.
  • Kedua, perbaiki kualitas ibadah untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah, dengan cara memaksimalkan ibadah yang wajib, meningkatkan yang sunnah, mengurangi yang mubah dan meninggalkan yang haram.
  • Ketiga, mengkaji Islam, dengan mendatangi kajian rutin. Dengan mengikuti kajian rutin, kita bisa mendapatkan ilmu yang utuh, bukan sepotong-potong. Sehingga ilmu yang kita terima, bisa mencerminkan bagaimana the real life muslim yang sebenarnya, dan standar pilihan hidup kita bisa tergantikan dengan standar-standar Islam.

Sesungguhnya setiap amal ada semangatnya dan setiap semangat ada saat Futurnya…”
(terjemahan HR. Ahmad dan dinilai Shahih oleh syekh Al-bani dalam Shahih Al-Jami’ As-Shaghir).

Mulai dari potensi sifat futur ada ketika kebiasaan-kebiasaan baik dari amal shalih mulai kita tinggalkan. Yang tadinya shalat berjamaah di masjid sekarang jadi shalat sendiri di rumah. Yang tadinya rutin tilawah Al-Qur’an sekarang ditinggalkan, shalat sunnah terlupakan, dan menuntut ilmu agama diabaikan. Jika hal ini setia berada di dalam diri kita maka kita berpotensi akan mengalami futur, dengan adanya futur menjadikan kita kembali dalam kelalaian dan kesalahan, sampai menjauhi perintah Allah.

Adanya futur memang wajar, namun tak bisa dijadikan alasan untuk menjadikan diri semakin lalai dalam perintah Allah, oleh karena itu, bersegeralah istighfar dan kembali kepada jalan Allah dengan bertaubat dan mengingat kematian itu nyata dan azab Allah itu perih.

Penulis : Arnita Diah Permata (Mahasiswi Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam Universitas Islam Negeri Sumatera Utara)