Djohar Arifin Husein MSc
Prof Dr Djohar Arifin Husein MSc

MUDANEWS.COM, Langkat – Harapan dengan diwujudkannya pembangunan duplikat istana kesultanan Langkat di Tanjungpura, sebagaimana yang pernah dijanjikan oleh Ngogesa Sitepu dalam kapasitasnya sebagai Bupati Langkat, seyogianya menjadi komtmen Pemkab Langkat beserta jajaran terkaitnya untuk merealisasikannya sesuai ketentuan dan prosedur yang berlaku,” demikian ujar tokoh kawakan masyarakat Langkat Prof Dr Djohar Arifin Husein, kepada MUDANEWS.COM, Minggu (23/09/2018).

Lebih lanjut Djohar mengatakan bahwa jika janji itu dilaksanakan, maka akan banyak keuntungan yang didapat.

Karena menurut mantan Ketum PSSI ini, dorongan dan bantuan dari berbagai pihak, pasti akan mengalir. Namun harus diawali secara nyata oleh Pemkab Langkat.

“Artinya Bupati tidak akan sendiri untuk mewujudkan pembangunan duplikat istana kesultanan Langkat tersebut. Akan banyak bantuan dari berbagai pihak, dan pastinya kita akan turut bersama berjuang untuk mendapatkan tambahan bantuan dari Pemprovsu, Pemerintah Pusat dan para putra putra daerah yang ada diperantauan. Bahkan peluang bantuan dari badan dunia UNESCO, juga bisa dimintakan,” jelas Prof Djohar.

Maka menurut Djohar, tidak ada kata terlambat, walaupun jabatan Ngogesa Sitepu sebagai Bupati Langkat tinggal menghitung hari, namun substansinya adalah janji Ngogesa saat itu untuk membangun duplikat istana kesultanan Langkat, bukanlah janji ia secara pribadi, namun itu adalah janjinya sebagai seorang Bupati, dan institusi Pemkab Langkat, wajib merealisasikan janji itu.

“Ngogesa pasti lebih tahu dan sangat pintar buat menunaikan janjinya sebagai pemimpin yang tabliqh, siddiq, amanah dan fathanah. Dan sangat mustahil, pribadi Ngogesa yang sangat arif dan bijaksana dalam menjalankan kepemimpinannya sebagai Bupati Langkat dalam kurun waktu hampir sepuluh tahun, meninggalkan janji yang tak bertepi,” tegas Prof Djohar.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, asa masyarakat Langkat akan terbangunnya duplikat istana kesultanan Langkat di Tanjungpura, seperti yang pernah dijanjikan Bupati Langkat H Ngogesa Sitepu, SH, beberapa tahun lalu, hinggga jelang berakhirnya periodesasi mantan Ketua Partai Golkar Sumut itu, tak juga kunjung terealisasi.

Masih segar dalam ingatan masyarakat Langkat, saat itu acara Pengukuhan Sultan Langkat H Tengku Azwar Azis di halaman Mesjid Azizi Tanjungpura, dimana saat kesempatan H Ngogesa Sitepu selaku Bupati Langkat memberikan sambutannya, dengan lugas dan penuh semangat, menjanjikan untuk membangun duplikat istana kesultanan Langkat di daerah Tanjungpura.

Tentu saja, ungkapan dari janji seorang sekelas H Ngogesa Sitepu, mendapat aplus dan harapan puak melayu Langkat, agar sejarah kesultanan Langkat melalui duplikat istana itu, dapat terus menjadi kekuatan sejarah dan berfungsi memberikan konstribusi sebagai destinasi parawisata sejarah, terutama pada putra-putri Melayu atau non-melayu diyakini memberi pengaruh kepada kebangkitan pembangunan bagi puak melayu di Langkat.

Kegiatan yang berlangsung di Pelataran Masjid Azizi Tanjung Pura, Langkat, Sabtu (30/3/2013) saat itu, dinilai menjadi pertanda etnis Melayu yang ada di Kabupaten Langkat mulai bangkit.

Ada kerinduan sebenarnya, dari nilai-nilai adat Melayu. Dan yang terpenting tidak terpatri dipihaknya membangun kerajaan. Namun, sebagai anak Melayu, maka wajib mengingatkan dan menjaga adat Melayu untuk dilestarikan.

Bupati Langkat Ngogesa Sitepu, menilai pemberian anugerah gelar adat adalah salah satu budaya yang nilainya cukup tinggi bagi daerah Langkat, dan pertama kali bagi kerajaan atau Kesultanan Langkat, jadi perlu dilestarikan.

“Kita ketahui banyak sekarang yang ngaku-ngaku (Sultan Langkat), harapan saya yang hadir saat ini, jangan kita mau terpecah belah, kita ikuti aturan, ini penting bagi masyarakat Melayu di Kabupaten Langkat,” seru Ngogesa saat itu yang juga diberikan gelar Datuk Setia Abdi Negeri.

Dan Ngogesa pun yang saat itu sedang berjuang menuju periode ke 2 kepeemimpinannya sebagai Bupati Langkat, menyebutkan akan membangun duplikat istana kesultanan Langkat sebagai simbol sejarah melayu Langkat.

Karena, menurut Ngogesa, timbulnya keributan oleh akibat keinginan sesaat, ini bisa memicu hal tidak baik bagi perkembangan etnis Melayu di daerah ini.

Setidaknya memori Sabtu pagi, 30 Maret 2013, menjadi penangkal melawan lupa terhadap janji manis Ngogesa Sitepu untuk membangun duplikat istana kesultanan Langkat.

Apalagi saat acara yang penuh khidmad itu, langsung ditanggungjawabi oleh Tuanku Azwar Azis, pewaris tahta Kesultanan Negeri Langkat sejak 2003, menghelat acara “Anugerah Gelar Adat Melayu Kesultanan Negeri Langkat”. Selain mengangkat pemangku adat di beberapa wilayah Tanjung Pura, Tuanku Azwar memberi gelar “Datuk” kepada sejumlah orang yang dianggap berjasa bagi kesultanan.

Saat dalam kesempatan acara itu, Sultan menyayangkan kian menurunnya kiprah masyarakat Melayu. “Negeri Langkat itu sudah sejak dulu ada di depan negeri yang lain. Tapi lihatlah sekarang, masyarakat Melayu semakin terpinggirkan,” ujarnya.

Dalam acara itu, pemerintah Kabupaten Langkat dan pihak kesultanan Langkat, sepakat menyampaikan keinginan untuk menjadikan Tanjung Pura sebagai destinasi wisata sejarah.

Pembangunan istana Langkat, yang telah hancur, pun diagendakan tanpa kepastian. “Kalau kita beritahu, nanti mahal harga tanahnya,” ujar Ngogesa Sitepu kepada wartawan di sela-sela acara tersebut.

Saat penulis menghubungi salah seorang tokoh melayu Langkat Tengku Said M Syafii melalui telepon seluler, meminta konstribusi pemikirannya terhadap perihal janji manis seorang Ngogesa Sitepu untuk membangun duplikat istana kesultanan Langkat yang tiada kunjung terealisasi, Tengku Syafii mengatakan bahwa perlu dorongan penuh segenap elemen terkait agar janji itu tidak selamanya menjadi menjadi pepesan kosong belaka.

“Bupati dan Wakil Bupati Langkat terpilih yakni Terbit Rencana PA dan Syah Afandin, dituntut harus memenuhi warisan janji dari Bupati saat ini Ngogesa Sitepu,” tegasnya.

Karena menurut tokoh kharismatik Langkat ini, melayu masih mempunyai kekuatan besar di bumi Langkat Berseri. Dan khususnya asa menjadikan duplikat istana kesultanan Langkat menjadi destinasi parawisata sejarah di kota relegius Tanjungpura yang berkependidikan itu, benar-benar mampu menghasilkan dollar buat kemaslahatan masyarakat Langkat.

Tengku Syafii juga menegaskan, dengan terlaksananya pembangunan duplikat istana kesultanan Langkat dimasa kepemimpinan Terbit Rencana mendatang, setidaknya membuat siapapun yang menjadi pejabat di Langkat, tidak seenaknya menabur janji manis, tanpa adanya realisasi konkrit untuk menuntaskan janjinya.

Oleh: Maulana Maududi