Ketika Guru
Foto: Alvian Khomeini

MUDANEWS.COM – Semua Manusia yang terlahir berhak mendapatkan pendidikan, namun tidak semua orang beruntung mengenyam proses pendidikan sampai ke jenjang yang lebih tinggi.

Pendidikan merupakan proses Seseorang menjadi lebih baik. Tentu saja pendidikan yang didapat tidak terlepas didikan seorang GURU.
GURU adalah orang Tua kedua di sekolah, ketika orang tua mempercayakan anaknya di didik oleh GURU karena orang tua ingin anaknya menjadi seorang yang berguna.

Guru adalah representatif kemuliaan dalam mencerdskan kehidupan bangsa melalui proses pendidikan. Ia pantas disebut pahlawan tanpa tanda jasa atau insan cendekia.

Namun, gelar yang tersemat padanya tentu saja tidaklah cukup untuk dijadikan tolak ukur dalam menghargai jasa-jasa yang telah dilakukan dalam mencetak insan-insan yang berkualitas.

Begitu banyak sumber daya manusia yang berkualitas berkat didikan seorang GURU. Lihatlah, orang-orang besar, bahkan seorang presiden ada karena didikan seorang guru.

Akan tetapi, banyak kisah haru yang diderita seorang guru. Peringatan hari guru seperti angin yang lewat lalu berlalu.

Seperti yang terjadi di Indonesia, banyak guru yang tidak lagi dihargai oleh siswa-siswi bahkan sudah matinya budi pekerti siswa-siswi di zaman ini. Akhir-akhir ini terjadi lagi tindak tanduk kekerasan yang dilakukan orang tua siswa kepada guru. Pasalnya, orang tua siswa kerap marah ketika anak mereka dipukul, dicubit karena sebab. Sungguh, pukulan, cubitan yang dilakukan seorang guru ini hanya semata-mata untuk membuat si anak berubah menjadi lebih baik dan tidak menjadi seorang pembangkang.
“Asalkan masih dalam kewajaran”.

Psikologi anak mungkin berbeda ketika dirumah dan disekolah. Terkadang, ada tipe anak yang baiknya dirumah namun nakal disekolah. Nah, disinilah peran guru sangatlah penting membentuk karakter anak. Jadi, orang tua tentunya harus memaklumi ketika anak mereka hanya di pukul, dicubit yang masih dalam kewajaran.

Sungguh saya merindukan didikan seorang guru, wajah mereka,didikan mereka masih terbayang-bayang dalam setiap proses pendidikan. Di sekolah guru-guru selalu berpesan “ Teruslah belajar nak, jika nanti kalian sukses dan berhasil itu adalah kebangaan bapak atau ibu”. Pesan ini menyiratkan bahwa kebanggan seorang guru adalah ketika melihat siswa/i nya berhasil. sebuah pesan yang memotivasi kepada siswanya untuk mencapai keberhasilan dalam belajar maupun di kehidupan nanti setelah selesai dari pendidikan.

Kendati demikian, siswa/i saat ini tidak menyadari bahkan telah matinya budi pekerti mereka. Mereka masih saja melawan guru, melawan orang tuanya bahkan tega sampai menganiaya seorang guru hinga meninggal. kasus ini serupa dan nyata seperti yang terjadi baru-baru ini di Madura.

“Wahai muridku tidakkah kau tau betapa inginnya kami melihat kalian berhasil dan sukses dikemudian hari, wahai muridku tidakkah kalian punya mimpi-mimpi yang indah nantinya?, lantas kenapa kalian tidak lagi menghargai seorang guru. Kalian caci maki, bahkan kalian rela memukul kami sampai tidak berdaya. Sungguh inikah balasan yang kami dapatkan wahai muridku”.

Melihat peristiwa yang terjadi di madura seorang guru yang bernama BUDI dipukuli siswanya sampai akhirnya Ia menghembuskan nafas terkhirnya dan meninggalkan seorang istri yang sedang mengandung di usia 4 bulan dan kini hanya tinggal sepenggal cerita pahit yang nanti akan didengar seorang anaknya kelak.

Tidak lah mudah menjadi seorang guru, memikul tanggung jawab yang besar bagi pendidikan Nasional, mengabdi untuk perubahan bangsa dan negara dengan gaji yang begitu rendah dari pekerja-pekerja lainnya.

Perlu kita ketahui, menghormati seorang guru adalah kewajiban bagi seorang peserta didik maupun alumni yang pernah mengenyam pendidikan dari seorang guru .

Guru tidak hanya membuat orang dari tidak tahu menjadi tahu, namun lebih dari itu guru menciptakan generasi-generasi muda yang cerdas, berakhlak mulia, dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa serta menjadikan insan-insan yang berkualitas untuk nusa dan bangsa.

Maka dari itu, kita selaku orang tua harus percaya bahwa keras lembutnya didikan seoranng guru semata-mata tanggung jawab yang mulia untuk melihat anak itu sukses dan berhasil. Dan buat para murid hormatilah gurumu, muliakanlah gurumu. Opini Sumut, Alvian Khomeini

Penulis Adalah Alumnus FIP Unimed