Jika Aku Seorang Tunanetra
Net/Ilustrasi

MUDANEWS.COM – Aku mencoba melihat dengan cara menutup mata beberapa saat, dan membayangkan apa jadinya jika ini selamanya. Seperti saudaraku yang tak seberuntung aku, mereka yang tunanetra sejak pertama terlahir ke dunia.

Setiap hari, tak pernah bisa melihat apa-apa, bahkan untuk gelap dan bayangan hitam saja sama sekali tak pernah terbayangkan wujudnya, apalagi indahnya wajah kedua orang tua, gunung, pantai, pesawahan, burung-burung dan banyak hal indah lain yang mungkin sangat ingin mereka lihat. Hanya ada suara-suara yang terdengar tentang semuanya. Tanpa tahu bentuk nyatanya seperti apa.

Malam dan siang tak ada bedanya, sama-sama tanpa cahaya, selain cahaya hati yang selalu menerangi dan digunakan sebagai pelita kepiluan sekaligus kekuatan. Keinginan untuk melihat dunia, mungkin menjadi hal mustahil untuk mereka dapatkan.

Ya, aku tak bisa melihat untuk selamanya.

Kenapa aku tak seberuntung mereka? Kenapa aku tak diberikan kesempatan menikmati indahnya dunia ini? Tuhan, ini tak adil bagiku. Bahkan hanya sedetik saja aku ingin melihat wajah ibuku, mengapa sama sekali tak pernah bisa Kau berikan kesempatan.

Bu, maafkan aku.
Aku tahu wajah ibu cantik. Maafkan aku yang tak pernah bisa melihat wajah cantikmu itu. Aku hanya bersyukur bisa dilahirkan oleh perempuan sebaik dan sekuat ibu.
Bu, maafkan aku jika hanya membebani hidupmu.

Aku tak bisa melihat apapun, Bu, tak gelap, tak juga hitam, apalagi terangnya matahari yang menyinari bumi. Aku hanya bisa merasakan belayan tangan lembut ibu yang selalu menguatkanku. Aku hanya mampu merasakan sepoi angin yang selalu menyapa kesedihanku. Aku hanya mampu mendengar nasihat ibu, dan hanya mampu mendengarkan tentang cerita indah dunia ini dari orang-orang di sekitarku.

Ini sepi, sangat sepi bagiku untuk merasakan. Aku solah hidup sendiri di dunia ini. Setiap aku ingin merasakan melihat, aku justru tak melihat apa-apa. Hanya ada tongkat dan orang tuaku yang kuat.

Aku tegar oleh nasihat, aku tahu ini ujian untuk hidupku. Aku tahu Tuhan maha baik, aku tahu Tuhan maha adil. Aku tahu, Tuhan telah mempersiapkan hadiah untuk kesabaran dan keikhlasanku. Tapi ada kalanya aku ingin marah dan protes dengan apa yang aku alami selama ini. Kenapa, kenapa, kenapa? Pertanyaan yang sering menyadarkanku kemudian. Tidak membuatnya merubah apapun!

2019

Penulis adalah Dede Humaedi