Memahami Sejarah Bangsa
Foto: Dr. H. Arifinsyah, M.Ag (tengah) ketika dialog kebangsaan di Hotel Polonia, Jumat (4/8/2017).

MUDANEWS.COM – Satu tema besar, bagaimana kita memahami nilai-nilai kebangsaan kita yang bisa menjadi aktor perekat satu kesatuan bangsa. Saya mencoba melihat dari sisi aspek kesejarahan bangsa kaitanya dengan harmonitas hari ini.

Dilihat dari etimologi bahasa, kalau kita bicara sejarah bahasa arabnya “sajaroh”, itu berarti berkenaan dengan rumpun besar, pohon ada akar, ada batang, ada pucuk. Lalu sejarah itu berasal dari masa lalu, makanya orang pintar membagi waktu itu menjadi tiga bagian, pertama masa lalu, kedua masa kini, ketiga masa depan.

Sejarah itu nostalgia, atau bisa menjadi sebuah ide-ide untuk bagaimana kita saat ini bisa menggapai masa depan lebih baik. Berbicara tentang nilai kebangsaan dari aspek historisitas kesejarahan, maka setelah kita baca dengan literatur ternyata Indonesia ini cukup unik. Dalam sebuah buku yang saya baca tentang Atlanta, bahwa 3000 tahun yang lalu, Indonesia ini menjadi peradaban kenabian, dimana Nabi Sulaiman di Paletina/Aqso, dibangun oleh Dinasti Daud pada saat kekuasaan itu di daerah Indonesia belum ada nama Indonesia itu sudah ada peradaban profetik.

Inilah akar sejarah, apa yang dimaksud dengan akar profetik? ini bagian dari sebuah misi kemanusian yang universal. Ini yang harus sebenarya menjadi dasar pokok kebangsaan kita yang menurut hemat penulis sudah tercerabut. Terjadi gelombang panas dunia, maka asia yang dulunya satu pucuk pimpinan, menjadi beberapa pulau. maka jadilah sekarang Indonesia saat ini yang kita lihat pulau-pulau yang dahulunya bersatu semua.

Kalau begitu, perjalanan sejarah Indonesia, apa yang menjadi nilai dasar kebangsaan utama kita? pertama adalah religiusitas: Indonesia tidak bisa dilepaskan dari nilai- nilai etik keagamaan. Karena Indonesia sudah akrab dengan nilai-nilai spritual itu. Kalau ini tercerabut, maka bangsa ini tidak jadi bangsa Indonesia.

Dengan 17000 lebih kepulauan, dan penduduk lebih kurang 250 juta jiwa dan keluasan wilayah dan kepadatan penduduk, kemudian Indonesia dengan kekayaan alamnya yang luar biasa, menurut para ahli riset, Indonesia adalah surga dunia, ini adalah salah satu bagian terpenting untuk menjaga kesatuan ini agar potensi itu tetap bisa diberdayakan, itu semestinya.

Apa yang kita lihat sekarang, agama- agama yang ada di Indonesia yang resmi sebenarnya, semuanya impor. tidak ada satupun agama asli yang tumbuh dari Indonesia sendiri. Kalau para ahli perbandingan agama mengatakan tumbuh awalnya adalah agama animisme, dinamisme, disitu juga ada nilai-nilai religius yang mengakar dalam sosial masyarat itu.

Menurut hemat penulis, nilai-nilai religius itulah yang dibingkai menjadi sebuah ideologi pancasila. Berbagai macam agama itulah yang dibingkai, menjadi satu bingkai NKRI. Nafasnya ketuhanan. kemudian nilai akar kita adalah berbasis kultur, etnisitas, ras, bubaya dan kebudayaan serta kebudayaan yang membudaya.

Nilai-nilai kebangsaan kita akarnya kultur, satu sisi yang hidup di tengah-tengah masyarakat yang mengatur norma yang melahirkan kearifan lokal. Itu juga menurut hemat penulis sudah tercerabut. Karena itu kita harus melestarikanya, bagi penulis ini adalah bagian dari national stage. Karena Indonesia adalah Negara national stage. Artinya apa? dia dibangun atas dasar nilai nilai kearifan lokal yang tumbuh berkembang di negeri ini. Itulah namaya kebangsaan.

Suku kita banyak, 1100 lebih etnis, separuh dari suku yang ada didunia ada di negeri ini. Bahasa kita, 700 lebih bahasa, di Irian Jaya ada setidaknya 350 suku, bagaimana bangsa ini mengaturnya? apa perlu dihilangkan? Soekarno pernah berkata: Kesatuan Indonesia bukan menghilangkan milik kearifan lokal, tidak menyatukan agama, tidak menyatukan ras, tidak menyatukan suku, tapi menyatukan apa? satu ideologi yang namanya pancasila.

Mengapa bangsa ini mudah sekali marah, mengapa bangsa ini sekarang mudah sekali memvonis, mengapa bangsa ini sekarang sulit bersatu, karena memang menurut hemat penulis, nilai-nilai pancasila tidak lagi menjadi keseharian kita. kalau sudah ini tidak menjadi nilai keseharian kita, berarti kita tidak berfalsafah ideologi pancasila. sejak reformasi 1998, kita sudah kumandangkan, kembalilah pada nilai-nilai pancasila karena sumua akar kebangsan kita,.

Mari sama-sama kita bangun negeri ini, karena negeri ini milik kita bersama, kalau kita tidak bangun hancur lah kita dan asinglah yang akan menguasai. bagaimana cara membangunya? pertama mari kita bangun mentalitas, dari mentalitas individual, menjadi kolektivitas, dari mental serakah menjadi mental dermawan. Kedua, mari merasakan bahwa, bangsa ini maju rusak atau hancur berada di tangan kita, dan selanjutnya aspek pendidikan harus segera dirubah, pemerintah harus menghidupkan kembali nilai-nilai pendidikan yang berbasis moral, sehingga muncullah kembali rasa nasionalisme dan rasa cinta tanah air.

Maka akan tumbuhlah anak-anak bangsa yang patriotisme, nasionalisme, yang nantinya akan mewujudkan keadilan ekonomi dan keadilan hukum tentunya.

Wama Taufiqi Illa Billah,,

Penulis adalah Dr. H. Arifinsyah, M. Ag (Ketua FPK Sumut).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here