Naas Perginya Jago Masak Rekonsiliator HMI

Naas Perginya Jago Masak Rekonsiliator HMI

MUDANEWS.COM – Siang hari 9 Desember 2020 pukul 14.36 WIB, pesawat Sriwijaya Air SJ -182 take off dari landasan pacu Bandara International Soekarno Hatta Cengkareng-Jakarta menuju Pontianak, Kalimantan Barat. Pesawat dikabarkan delay 36 menit, dari rencana keberangkatan 14.00 WIB, karena hujan deras.

Pesawat mengangkasa sampai ketinggian 11.000 ribu kaki, namun dalam sekejab menukik rendah 250 kaki. Setelah itu hilang kontak dan tidak terpantau FligthRadar24. Sriwijaya Air tipe Boieng B737-500 dikabarkan berhenti 11 mil laut dari Bandara Soetta atau di atas Kepulauan Seribu.

Mulyadi dalam pesawat naas itu bersama istrinya, Makrifatul Yeti Sriangningsih, dan mertuanya Hasanah. Mereka bertiga terdata dalam passenger list 30, 31, dan 32. Wanita cantik ini adalah dosen Politeknik di Pontianak, yang dinikahi Mulyadi, 2 tahun lalu.

Sebanyak 62 nama dalam manifest penerbangan, 12 diantaranya crew pesawat. Tujuh anak dan 3 bayi ikut penerbangan itu. Manifes penerbangan beredar daring. Kabar 64 nama penumpang dan crew diidentifikasi keluarga, kerabat dan rekan kerja. Salah satu nama penumpang yang menyedot perhatian, yakni penumpang dengan passenger list nomor 32 Mr. Mulyadi Mulyadi. Nama itu dipastikan banyak pihak sesama alumni HMI sebagai Mulyadi Poniman Tamsir, Ketua Umum PB HMI Periode 2016-2018.

Mulyadi dalam pesawat naas itu bersama istrinya, Makrifatul Yeti Sriangningsih, dan mertuanya Hasanah. Mereka bertiga terdata dalam passenger list 30, 31, dan 32. Wanita cantik ini adalah dosen Politeknik di Pontianak, yang dinikahi Mulyadi, 2 bulan lalu.

– Si Jago Masak –

Mulyadi adalah salah satu kader HMI yang paling lama mengasuh PB HMI. Dia masuk pengurus PB HMI di era Noor Fajriansyah, tepat Januari 2010. Datang dari cabang kecil di Sintang, Kalimantan Barat ke PB HMI Jakarta. Perantau Jawa di Kalimantan ini, mantap ber-HMI di Jakarta, menjadi pengurus PB HMI. Dia beradaptasi dengan lugu, dengan hiruk pikuk dan dinamika pergaulan aktifis Jakarta. Tidak hanya atmosfer intelektualnya, namun juga relasi dan dinamikanya.

Dari banyak kisah rekan-rekannya seangkatan awal kala itu, Mulyadi hanyalah kader biasa ditengah kepengurusan PB HMI. Saking lugunya, dia sering dicandain berlebihan oleh rekan-rekan pengurus lain. Saat itu yang plus dari Mulyadi adalah kemampuan masaknya, dan kesabarannya.

“Saya bahkan pernah satu kontrakan denganya. Dia juru masak yang handal, pekerja keras, sabar, karena dia tidak pernah marah, sekalipun saya kadang bercanda dengannya mungkin keterlaluan,” ujar Muhammad Arbayanto, rekan pengurusnya di PB HMI, yang kini menjadi anggota KPU Jawa Timur, melalui WA grup (10/1).

Arba—sapaan akrabnya—mengenal Mulyadi sebagai orang baik, entah dalam laku maupun lisannya. “Selama satu kepengurusan dengan beliau, tidak pernah sekalipun saya merasa tidak nyaman dengan lisan dan lakunya,” kenang Arba.

Terakhir kali dia berkomunikasi dengan Arba, saat dirinya akan menikah. “Saya sangat bahagia, tapi mohon maaf karena tidak bisa menghadiri hari bahagianya,” ungkap Arba.

Selama 3 periode di PB HMI, Mulyadi menjadi salah satu calon Ketua Umum PB HMI bersaing dengan calon lainnya, setelah Fajri — Noor Fajriansyah — selesai masa jabatannya. Dia menjadi pesaing ketat Mohammad Arif Rosyid, formatur Ketua Umum PB HMI terpilih masa jabatan 2014- 2016. Dalam kepengurusan periode ini Mulyadi menjadi Sekjen PB HMI mendampingi Arif Rosyid.

Dia menjadi perekat dari dinamika Kongres, dan mengawal kepengurusan Arif Rosyid hingga berakhir masa jabatan. Padahal kala itu dinamika Kongres yang tajam, sempat dirinya digoda untuk membuat Kongres tandingan pasca-terpilihnya Arif. Di Kongres berikutnya, Mulyadi, anak perantau Jawa nun jauh dari datang Sintang-Kalimantan Barat ini, dipercaya peserta Kongres HMI menjadi Ketua Umum PB HMI.

Pencapaian si Jago Masak ini dalam kontestasi PB HMI unik dan berkesan. Rully Asrul Pattimahu, salah satu rekan pengurus di era Fajri, mengenang Mulyadi dengan cara berpakaian agamis, dengan celana kainnya. Bahkan karena prototipe yang tidak fashionable itu, dia sering menjadi candaan rekan-rekan pengurus lain. “Tidak ada dalam bayangan saya Mulyadi akan jadi Ketum PB HMI,” ujar Asrul, suatu ketika.

Selama di PB HMI Mulyadi pernah jadi bulan-bulanan dipukul akibat perbedaan pendapat dalam rapat PB HMI di lantai 2 Kantor PB HMI Dipo 16 A. Konon kabarnya sampai ada laporan polisi di Polsek Jakarta Pusat. “Namun Mulyadi berbesar hati untuk berdamai,” ujar Said Patta, rekannya, mengenang.

Mulyadi dan Wakaf untuk HMI

Harus diakui Mulyadi adalah Ketua Umum PB HMI yang dinamis mengelola dinamika HMI. Tidak banyak riak di era kepengurusannya, yang mengarah ke perpecahan HMI. Dari sejarah kontemporernya HMI dua dekade terakhir, mengalami problem konsolidasi dengan munculnya dualisme kepengurusan. Tidak hanya di PB HMI, namun juga dialami secara akut di cabang-cabang dan Badko.

Tipikal kepemimpinan ala Mulyadi yang akomodatif, mungkin penting jadi wakaf dan pelajaran berarti bagi HMI. Meskipun dia bukan tokoh yang punya legacy seperti Cak Nur, Kakanda Anas Urbaningrum, Bang Akbar Tandjung atau ketum-ketum lainnya, namun kepergiaannya yang lebih muda, lebih cepat dalam kiprah dan sejarahnya, sangat relevan untuk meng-instrupsi kondisi kekinian HMI dibandingkan yang lain.

Sejarahnya di PB HMI adalah pandangan sebelah mata awalnya, namun dia relasikan dengan rendah hati dan akomodatif. Tesis konflik-konsensus dalam dinamika struktural HMI, harus dihadapi dengan rendah hati. HMI mengalami peningkatan kuantitas kader dengan cepat dan gemilang, namun mengalami liberasi struktural yang rapuh. Ini kemajuan HMI yang sekaligus menjadi tantangannya.

Dan kita selalu berujar ditengah kerapuhan konsolidasi struktural ini dengan kalimat :”Di HMI kita berkawan lebih dari saudara”. Ini saatnya kita berbenah, justru dengan nasehat berpulangna si Jago Masak, Mulyadi Poniman Tamsir. Dan melalui sejarahnya di HMI, tentunya !

Oleh : Almudatsir Sangadji

Sumber : News HMI