Net/Lukisan kota Konstantinopel

MUDANEWS.COM – Dalam setiap mengukir sejarah tiada kata takut bagi setiap pejuang meski harus sebesar apapun badai harus dilewati. Karena sejatinya angin akan selalu berhembus kencang pada gunung yang teramat curam. Tiada kemerdekaan diperoleh tanpa sebuah peperangan. Bicara sejarah Islam biasa kita temukan wajah kepemimpinan monarki. Tahta beralih berdasarkan garis keturunan Raja dan kebijakan pun ditentukan oleh raja meski Raja memiliki Perdana menteri dan sejumlah dewan penasehat.

Namun, disaat Raja hendak melakukan sebuah pergerakan seorang raja lebih dahulu melakukan sebuah pertemuan bersama para menterinya (dewan penasehat) untuk mendapatkan sebuah ide dan pandangan, namun setelah para dewan penasehat memberikan sebuah ide dan gagasannya seorang raja belum tentu mau mengiyakan solusi dari dewan penasehatnya mungkin disitulah letak kelebihan seorang raja punya pandangan tersendiri dalam menentukan suatu kebijakan dan sangat sulit untuk mempengaruhi dan menaklukannya hingga terkesan otoriter. Oleh sebab itu, dibalik sikapnya yang terksesan otoriter seorang Raja tetap terbuka terhadap para dewan penasehatnya dan menghargai setiap pandangan para dewan penasehatnya namun seorang raja tidak segan-segan menghukum siapa saja yang berani menghianatinya.

Sebagai mana kisah Kesultanan Mahmed II

Muhammad al-Fatih adalah salah seorang raja atau sultan Kerajaan Utsmani yang paling terkenal. Ia merupakan sultan ketujuh dalam sejarah Bani Utsmaniah. Al-Fatih adalah gelar yang senantiasa melekat pada namanya karena dialah yang mengakhiri atau menaklukkan Kerajaan Romawi Timur yang telah berkuasa selama 11 abad.

Selain itu, Sultan Muhammad al-Fatih memerintah selama 30 tahun. Selain menaklukkan Binzantium, ia juga berhasil menaklukkan wilayah-wilayah di Asia, menyatukan kerajaan-kerajaan Anatolia dan wilayah-wilayah Eropa, dan termasuk jasanya yang paling penting adalah berhasil mengadaptasi menajemen Kerajaan Bizantium yang telah matang ke dalam Kerajaan Utsmani.

Oleh karena itu, karakter Pemimpin Yang Ditanamkan Sejak Kecil pada Muhammad Al-Fatih sudah dibiasakan ayahnya, Muhammad Al-Fatih di didik dengan keras oleh ayahnya sejak kecil supaya jiwa kepemimpinannya terbentuk dari usia dini ditandai dari sikap ayahnya yang begitu dingin sehingga Muhammad Al-Fatih merasa dimasa kecilnya tangan ayahnya begitu jarang memberikan kasih sayang terhadap anaknya. Semua itu dilakukan Murad karena bentuk kasih sayangnya terhadap tanggung jawabnya pada negara dan masa depan anaknya. Hingga di saat Murad meninggal pergantian tahta Muhammad Al-Fatih pun menyadari bahwa kasih sayang ayahnya terhadapnya begitu besar. Dan begitulah seharusnya seorang raja mendidik anaknya dalam misi pewarisan tahta.

Sosok Muhammad Al-Fatih

Muhammad al-Fatih dilahirkan pada 27 Rajab 835 H/30 Maret 1432 M di Kota Erdine, ibu kota Daulah Utsmaniyah saat itu. Ia adalah putra dari Sultan Murad II yang merupakan raja keenam Daulah Utsmaniyah.

Malahan, Sultan Murad II memiliki perhatian yang besar terhadap pendidikan anaknya. Ia menempa buah hatinya agar kelak menjadi seorang pemimpin yang baik dan tangguh. Perhatian tersebut terlihat dari Muhammad kecil yang telah menyelesaikan hafalan Alquran 30 juz, mempelajari hadis-hadis, memahami ilmu fikih, belajar matematika, ilmu falak, dan strategi perang. Selain itu, Muhammad juga mempelajari berbagai bahasa, seperti: bahasa Arab, Persia, Latin, dan Yunani. Tidak heran, pada usia 21 tahun Muhammad sangat lancar berbahasa Arab, Turki, Persia, Ibrani, Latin, dan Yunani, luar biasa!

Selanjutnya, walaupun usianya baru seumur jagung, sang ayah, Sultan Murad II, mengamanati Sultan Muhammad memimpin suatu daerah dengan bimbingan para ulama. Hal itu dilakukan sang ayah agar anaknya cepat menyadari bahwa dia memiliki tanggung jawab yang besar di kemudian hari. Bimbingan para ulama diharapkan menjadi kompas yang mengarahkan pemikiran anaknya agar sejalan dengan pemahaman Islam yang benar.

Menjadi Penguasa Utsmani

Sultan Muhammad II diangkat menjadi Khalifah Utsmaniyah pada tanggal 5 Muharam 855 H bersamaan dengan 7 Febuari 1451 M. Program besar yang langsung ia canangkan ketika menjabat sebagai khalifah adalah menaklukkan Konstantinopel.

Langkah pertama yang Sultan Muhammad lakukan untuk mewujudkan cita-citanya adalah melakukan pertemuan dengan perdana menteri Halil Pahsa dan dewan penasehat lainnya membicarakan kebijakan militer dan politik luar negeri yang strategis. Dan saat itu perdana menterinya halil pahsa memberikan pandangannya bahwa program pertama Muhammad Fatih itu sangat besar dan memiliki dampak yamg teramat besar tentunya begitu banyak tantangan dan rintangan yang meski ditempuh. Lalu Muhammad Al-Fatih pun dengan tegas berkata pada perdana menterinya ”dalam kebiasaan kerajaan keluarga ku tiada kata takut untuk memulai sejarah” program penahklukan Konstantinopel tetap harus dilaksanakan aku harus membentuk sejarah baru sebagaimana keturunan ku terdahulu telah banyak menakhlukkan wilayah. Muhammad Al-Fatih dalam melakukan ikhtiar perlawan terhadap konstantinopel ia lebih dulu menginginkan memperbarui perjanjian dan kesepakatan yang telah terjalin dengan negara-negara tetangga dan sekutu-sekutu militernya. Pengaturan ulang perjanjian tersebut bertujuan menghilangkan pengaruh Kerajaan Bizantium Romawi di wilayah-wilayah tetangga Utsmaniah baik secara politis maupun militer.

Menaklukkan Bizantium

Sultan Muhammad II juga menyiapkan lebih dari 4 juta prajurit yang akan mengepung Konstantinopel dari darat. Pada saat mengepung benteng Bizantium banyak pasukan Utsmani yang gugur karena kuatnya pertahanan benteng romawi tersebut. Pengepungan yang berlangsung tidak kurang dari 50 hari itu, benar-benar menguji kesabaran pasukan Utsmani, menguras tenaga, pikiran, dan perbekalan mereka. Hingga Sultan Muhammad Al-Fatih sempat merasa terpukul atas segala pergerakannya memakan waktu 40 hari belum juga berhasil. Begitupun para dewan penasehatnya yang merasa kacau beradu argumen sqling tuduh menuduh atas tindakan konyol Sultan yang belum juga berhasil dalam menaklukkan konstantinopel. Dan pada saat Sultan Muhammad Al-Fatih terpukul beliau didatangi oleh Syekh Agung yang membakar api semangatnya kembali. Syekh pun memotivasi Sultan untuk meneruskan perjuangannya menakhlukkan konstantinopel dan mengajaknya berkunjung ke makam sahanat Nabi yang bernama Abu Ayun Al-Anshari RA dan pada saat itu Syekh berkata ”Muhammad Al-Fatih jagalah mimpi mu dengan kesabaran karena itulah kekuatan mu aku tau kekecewaan yang kau rasakan dan juga tentara mu dan itu sangat mengecilkan hati tentaramu sedang orang kafir itu berpesta, kau tak boleh menyerah sekarang pergilah dan pimpin tentara mu jika kau tak lakukan sekrang kau tak dapat melakukannya lagi, sekarang pergunakan lah akal sehat dan naluri mu dan tunjukkan keterampilan mu yang menakjubkan iri pada semua orang, kau punya kekuatan untuk melakukan ini, ingatlah angin selalu berhembus kencang pada gunung yang curam”.

Akhirnya, Sultan Muhammad menemukan ide yang ia anggap merupakan satu-satunya cara agar bisa melewati pagar tersebut. Ide ini mirip dengan yang dilakukan oleh para pangeran Kiev yang menyerang Bizantium di abad ke-10, para pangeran Kiev menarik kapalnya keluar Selat Bosporus, mengelilingi Galata, dan meluncurkannya kembali di Tanduk Emas, akan tetapi pasukan mereka tetap dikalahkan oleh orang-orang Bizantium Romawi. Sultan Muhammad melakukannya dengan cara yang lebih cerdik lagi, ia menggandeng 70 kapalnya melintasi Galata ke muara setelah meminyaki batang-batang kayu. Hal itu dilakukan dalam waktu yang sangat singkat, tidak sampai satu malam.

Di pagi hari, Bizantium kaget bukan kepalang, mereka sama sekali tidak mengira Sultan Muhammad dan pasukannya menyeberangkan kapal-kapal mereka lewat jalur darat. 70 kapal laut diseberangkan lewat jalur darat yang masih ditumbuhi pohon-pohon besar, menebangi pohon-pohonnya dan menyeberangkan kapal-kapal dalam waktu satu malam adalah suatu kemustahilan menurut mereka, akan tetapi itulah yang terjadi.

Tanduk Emas atau Golden Horn, di Istanbul, Turki.
Peperangan dahsyat pun terjadi, benteng yang tak tersentuh sebagai simbol kekuatan Bizantium itu akhirnya diserang oleh orang-orang yang tidak takut akan kematian. Akhirnya kerajaan besar yang berumur 11 abad itu jatuh ke tangan kaum muslimin. Peperangan besar itu mengakibatkan 265.000 pasukan umat Islam gugur. Pada tanggal 20 Jumadil Awal 857 H bersamaan dengan 29 Mei 1453 M, Sultan al-Ghazi Muhammad berhasil memasuki Kota Konstantinopel. Sejak saat itulah ia dikenal dengan nama Sultan Muhammad al-Fatih, penakluk Konstantinopel.

Saat memasuki Konstantinopel, Sultan Muhammad al-Fatih turun dari kudanya lalu sujud sebagai tanda syukur kepada Allah. Setelah itu, ia menuju Gereja Hagia Sophia dan memerintahkan menggantinya menjadi masjid. Konstantinopel dijadikan sebagai ibu kota, pusat pemerintah Kerajaan Utsmani dan kota ini diganti namanya menjadi Islambul yang berarti negeri Islam, lalu akhirnya mengalami perubahan menjadi Istanbul. Meski begitu Muhammad Al-Fatih tetap membebaskan rakyat romawi dalam menganut kepercayaan yang mereka anut dan memimpin mereka tanpa sebuah penyiksaan.

Sesudah itu, Sultan Muhammad al-Fatih juga memerintahkan untuk membangun masjid di makam sahabat yang mulia Abu Ayyub al-Anshari radhiallahu ‘anhu, salah seorang sahabat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang wafat saat menyerang Konstantinopel di zaman Khalifah Muawiyah bin Abu Sufyan radhiallahu ‘anhu.

Lagipula, rentetan penaklukkan strategis dilakukan oleh Sultan Muhammad al-Fatih; ia membawa pasukannya menakhlukkan Balkan, Yunani, Rumania, Albania, Asia Kecil, dll. bahkan ia telah mempersiapkan pasukan dan mengatur strategi untuk menaklukkan kerajaan Romawi di Italia, akan tetapi kematian telah menghalanginya untuk mewujudkan hal itu.

Peradaban Yang Dibangun Pada Masanya

Selain terkenal sebagai jenderal perang dan berhasil memperluas kekuasaan Utsmani melebihi sultan-sultan lainnya, Muhammad al-Fatih juga dikenal sebagai seorang penyair. Ia memiliki diwan, kumpulan syair yang ia buat sendiri. Muhammad Al-Fatih juga suka membuat syair untuk Istrinya ditandai sebelum melangkahkan kaki atas peperangan menaklukkan konstantinopel Muhammad Al-Fatih memberikan sebuah surat untuk istrinya yang berisikan puisi.

Sultan Muhammad juga membangun lebih dari 300 masjid, 57 sekolah, dan 59 tempat pemandian di berbagai wilayah Utsmani. Peninggalannya yang paling terkenal adalah Masjid Sultan Muhammad II dan Jami’ Abu Ayyub al-Anshari

Wafatnya Sang Penakluk

Pada bulan Rabiul Awal tahun 886 H/1481 M, Sultan Muhammad al-Fatih pergi dari Istanbul untuk berjihad, padahal ia sedang dalam kondisi tidak sehat. Di tengah perjalanan sakit yang ia derita kian parah dan semakin berat ia rasakan. Dokter pun didatangkan untuk mengobatinya, namun dokter dan obat tidak lagi bermanfaat bagi sang Sultan, ia pun wafat di tengah pasukannya pada hari Kamis, tanggal 4 Rabiul Awal 886 H/3 Mei 1481 M. Saat itu Sultan Muhammad berusia 52 tahun dan memerintah selama 31 tahun. Ada yang mengatakan wafatnya Sultan Muhammad al-Fatih karena diracuni oleh dokter pribadinya Ya’qub Basya, Allahu a’lam.

Tidak ada keterangan yang bisa dijadikan sandaran kemana Sultan Muhammad II hendak membawa pasukannya. Ada yang mengatakan beliau hendak menuju Itali untuk menaklukkan Roma ada juga yang mengatakan menuju Prancis atau Spanyol.

Sebelum wafat, Muhammad al-Fatih mewasiatkan kepada putra dan penerus tahtanya, Sultan Bayazid II agar senantiasa dekat dengan para ulama, berbuat adil, tidak tertipu dengan harta, dan benar-benar menjaga agama baik untuk pribadi, masyarakat, dan kerajaan.

Dengan demikian, begitulah sekilas cuplikan salah satu kerajaan dinasti yang dipimpin oleh seorang Sultan (Raja) dan memiliki beberapa dewan penasehat. Garis tahta diwariskan pada keturunannya. Memiliki wajah otoriter dibalik kebijaksanaannya namun tetap menghargai pandangan para dewan penasehatnya. Seorang raja haruslah memiliki pandangan dan keberanian yang tajam dan tidak mudah tergoyahkan karena itulah salah satu keistimewaan seorang raja, apabila raja tidak memiliki kekuatan dan wibawa tersebut maka kerajaan bisa runtuh dan hancur dalam jangka waktu yang singkat itu yang dicontohkan dari pemimpin roma sebelum konstantinopel ditakhlukan. Menjadi seorang Sultan tidaklah mudah karena hidupnya bukan hanya tentang dirinya dan keluarganya saja tetapi tentang masa depan bangsanya. Begitu juga menjadi seorang Khalifah (pemimpin Islam) bukan hanya bicara tentang kewajiban shalat namun amanah besar ditanggung dalam menjalankan misi menyebar luaskan Islam di seluruh dunia. Maka wajar saja kepemimpinan Islam dikenal dengan sejarah pertumpahan darah. Dan peperangan dalam sejarah Islam bukan hanya di dapat kan dari luar (musuh) terkadang peperangan di dapat dari internal kerajaan atas nama syahwat kekuasaan yang berawal dari sebuah penghianatan yang memiliki misi menggulingkan bahkan merebut kekuasaan (perang saudara), jadi wajar saja zaman dahulu selalu disebut dengan zaman jahiliah disamping pergerakan menyebar luaskan Islam begitu banyak ditemui sebuah kezaliman disekitaran masyarakat. Atas perjuangan mereka bersyukurlah kita yang hidup di zaman yang terang benderang ini bisa menikmati cahaya Islam tanpa peperangan dan pertumpahan darah. Apalagi kita tinggal di Indonesia yang beridiologikan Pancasila sebagai falsafah bangsa, Bukan hanya presiden bersama para mentri yang bekerja untuk rakyat tapi rakyat juga diberikan kebebasan berdemokrasi dan pada setiap aspirasinya ditampung pada dewan perwakilan rakyat. Lalu nikmat Tuhan mu yang mana lagi yang kamu dustakan?

 

Penulis adalah Nur Sajidah merupakan Kader HMI Cabang Medan