Presiden Alumni UIN-SU Diminta Turun Tangan Atasi Dugaan Plagiasi Rektor

Presiden Alumni UIN-SU
Presiden Alumni UINSU TGB Syeikh Dr Ahmad Sabban Rajagukguk MA (tengah les biru) bersama Drs Akbar Siddik (baju les merah) bersama Walikota Medan Boby Afif Nasution dalam sebuah acara beberapa bulan lalu. (dok: mudanews.com)

MUDANEWS.COM, Medan – Presiden Alumni Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UIN-SU) TGB Syekh Dr Ahmad Sabban Rajagukguk MA, diminta terlibat untuk memediasi dugaan plagiasi oknum Rektor UIN-SU.

“Sebagai alumni, kita terganggu dengan isu soal plagiat oknum rektor. Tak salah kita meminta Presiden Alumni UIN-SU turun tangan. Presiden alumni kita ini, sudah masuk tokoh nasional yang sering dimintai nasehatnya bahkan tokoh nasional, para pejabat sering berkunjung ke pondok persulukannya. Wajar, kita meminta TGB turun tangan,” kata seorang alumni UIN-SU Drs Akbar Siddik menjawab wartawan di Medan, Senin (19/04/2021).

Akbar Siddik menyebutkan, pemberitaan miring soal dugaan oknum rektor melakukan plagiasi justru sangat mengganggu kampus kebanggaan warga Sumatera Utara itu. Sebagai kampus Islam yang memegang nilai-nilai kejujuran, oknum Rektor UIN-SU harus terbuka kepada publik dan menjadi teladan bagi alumni lainnya.

Dia mengatakan ribuan alumni UIN-SU siap membantu oknum rektor melaporkan Surya Dalimunte sebagai orang pertama kali yang menyebut oknum rektor itu melakukan plagiat.

“Kami siap mendampingi rektor melaporkan kasus ini ke Polda Sumut. Agar semua terbuka, siapa yang salah dan siapa yang menutupi kasus ini,” sebut Akbar yang juga Sekjen Polri Watch itu.

Akbar Siddik yang juga mantan anggota DPRD Deli Serdang itu, secara khusus meminta TGB Syeikh Ahmad Sabban Rajagukguk turun tangan memediasi kondisi yang terjadi. Sebagai alumni, kata dia, ia mengaku risih melihat pemberitaan di sejumlah media yang menyebut Rektor UIN-SU melakukan plagiat.

“Tuan Guru Batak pasti prihatin melihat kondisi UIN-SU sekarang. Atas keprihatinan beliaulah, patut dan pantas ia turun tangan. Dugaan plagiasi oknum rektor itu harus tuntas,” katanya.

Bahkan, aksi-aksi mahasiswa yang mengatasnamakan Komite Mahasiswa Anti Plagiasi UIN-SU (Komanpu), terus menerus melakukan aksinya. Tak hanya itu, mahasiswa juga melakukan mogok makan sebagai bentuk keprihatinan akademik yang melibatkan oknum rektor, karena diduga melakukan praktik plagiasi jurnal.

Sebelumnya, persoalan dugaan plagiat karya tulis yang menyeret nama Rektor UIN-SU SH, tiba-tiba mencuat ketika sebuah surat bermaterai 6000 yang ditandatangani oleh Darma S, berjudul “UIN ku Sayang, UIN ku Malang”.

Dalam surat itu disebutkan, rektor baru ini ditengarai memplagiat karya koleganya secara terang-terangan jika dicari di google berikut yang didapat, karya tulisan berjudul “The Image of Indonesia in the world: An Interreligious Perspective yang terbit di The IUP Journal of International Relations, atau Jurnal Hubungan Internasional, Jerman, Vol. X, No.2, April 2016, PP-30-44 dengan nama rektor itu sebagai satu- satunya penulis SH.

Ternyata karya tersebut, sudah pernah terbit pada jurnal lain, yaitu tulisan itu, dikatakan sangat mirip dengan makalah yang sudah diterbitkan hampir 2 tahun sebelumnya di Proceeding Annual International Conference of Islamic Studies (AICIS) XIV. Yakni tulisan ke 303, dengan judul : The Image of Indonesia in the World: An Interreligious Perspective, pada November 2014, dengan penulis Surya Darma dan SH.

Kedua tulisan dengan judul yang sama itu sangat mirip, sehingga bisa dikatakan satu tulisan diterbitkan di dua jurnal atau jurnal yang berbeda. Namun pada penerbitan kedua, hanya mencantumkan SH sebagai penulis tunggal dan tidak ada nama penulis Surya Darma.

Setelah disampaikan dalam seminar, oknum rektor itu mengirimkan makalahnya untuk diterbitkan dalam Jurnal The IUP Journal of International Relations, atau Jurnal Hubungan Internasional, Jerman, Vol. X, No.2, April 2016 dan terbit tahun 2016 dengan namanya sendiri SH. Kemudian, Surya Darma disebutnya, mengklaim bahwa dia menyampaikan makalah tersebut di dalam negeri dengan dua penulis, Surya Darma Dalimunthe sebagai penulis pertama dan SH sebagai penulis kedua tanpa sepengetahuan dan izin dari SH, sehingga SH tak pernah menulis makalah bersama dengan Surya Darma.

Akbar Siddik juga meminta Presiden Alumni UIN-SU, ikut terlibat memediasi dugaan jual beli jabatan saat seleksi sejumlah jabatan yang diduga oknum keluarga Rektor UIN-SU.

“Jika ini benar, ini sangat memalukan kita semua sekaligus mencoreng kampus kita. Karenanya, kita meminta Presiden Alumni ikut menengahi dugaan kasus ini,” kata Akbar Siddik. (rel/fian)