Transitif Learning Society, Mengapresiasi Ide Kapolri terkait Pembelajaran Kitab Kuning

Kapolri
Dr H Anshari Yamamah MA

MUDANEWS.COM, Medan – Kapolri terpilih Komjen Pol Listyo Sigit Prabowo, di Forum Fit and Proper dengan Komisi III DPR RI beberapa waktu lalu, menyampaikan visi misi Polri dengan mengedepankan wajah Kepolisian yang lebih humanis. Humanis dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Program itu termuat pada motto PRESISI. PRESISI itu merupakan terjemahan dari PREdiktif, responSIbiliti dan TransparanSI Berkeadilan. Inilah upaya Kapolri yang baru guna lebih mendekatkan Polisi dengan masyarakat, agar jangan ada jarak antara Polisi dengan rakyat, tujuan utamanya agar tercipta hubungan harmoni di antaranya, sehingga memberi dampak positif bagi stabilitas keamanan.

Ide besar Kapolri terpilih mendapatkan respon positif dari para tokoh. Termasuk tokoh Pendidikan, karena ini semakin mempertegas, bahwa komitmen Polri pada tugas pokok sebagai Pelayan, Pelindung dan Pengayom masyarakat.

“Ini sebuah langkah awal yang bagus di lakukan Komjen Pol Listyo Sigit Prabowo dalam menampilkan wajah Kepolisian Indonesia yang humanis, egaliter dan sejuk, sehingga akan berdampak Polri semakin di cintai masyarakat dan tentunya Polri menjadi sahabat semua, sehingga akan terujudlah situasi keamanan yang semakin kondusif, karena ada trust yang sedang di bangun Polri kepada masyarakat,” ujar Dr H Anshari Yamamah MA kepada media, Jumat (22/1/2021) di Kampus UIN Sumut jalan Sutomo Medan.

Menanggapi adanya rencana Kapolri terpilih yang mewajibkan Polisi belajar Kitab Kuning, merupakan sebuah pemikiran dan terobosan baru dalam merubah stigma-stigma negatif dalam melihat kelompok-kelompok Islam khususnya, agar kelompok yang selama ini terpapar pemahaman negatif dapat di netralisir secara baik dan benar.

“Kultur membaca kitab-kitab kuning ini merupakan tradisi pembelajaran kitab di Pondok Pesantren. Ini kajian kitab klasik yang berisikan tentang kaidah-kaidah menyangkut hukum Islam, mengkaji dan menelaah tentang sejarah Islam dan Aqidah tauhid. Ini penting bagi Polisi dalam tugasnya agar dapat memahami gerakan Islam yang ada, hal ini penting agar Polisi juga memahami Politik Islam dan rujukan asli sehingga Polisi mampu mengcaunter isu-isu seputar Islam dan pergerakannya,” ujar Ket secaraua Bakomubin Sumut versi Dr H Ali Muchtar Ngabalin ini.

Lebih jauh Ketua Deradikalisasi UIN Sumut ini menyampaikan, bahwa gagasan Kapolri ini merupakan respon atas dinamika yang berkembang di masyarakat. UIN Sumut sebagai Kampus Perguruan Tinggi Islam sangat menyambut hangat gagasan Kapolri ini, sebab kajian ini memang bersinggungan dengan disiplin bidang keilmuan yang ada di Kampus UIN Sumut.

“Kampus juga ikut berperan aktif dalam mencerahkan kelompok yang anti Pemerintah, agar lebih memahami ajaran islam secara baik, karena Kampus mitra strategis bagi Kepolisian dalam rangka terbangunnya sikap Deradikalisasi, terbangun sikap dan pandangan yang benar dan tidak terpapar beragam isu dengan menjadikan narasi agama sebagai hal di perdebatkan dalam melihat beragam perbedaan apakah pandangan politik dan sebagainya,” tambah Founder Islam Transitif ini.

Hal yang paling penting adalah, stabilitas keamanan dapat terkendali di saat wabah Covid 19 melanda negara kita.

“Dan kita bersyukur stabilitas keamanan dapat terkendali dengan baik, ini juga perlu kita apresiasi Bapak Idham Aziz dan seluruh jajaran TNI-Polri, agar sinergisitas yang sudah di bangun dengan sangat baik, tetap di pertahankan, dan terkhusus kepada Bapak Komjen Pol Listyo Sigit Prabowo atas nama pribadi saya mengucapkan selamat atas terpilihnya Jenderal Pol Listyo sebagai Kapolri, kita harapkan kondusifitas yang sudah baik ini dapat di pertahankan, dan semoga Bangsa ini tetap selalu mendapat kan ridho Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa,” ujarnya mengakhiri wawancara. (Amirsyam)