Burden Sharing, Dilakukan Pemerintah serta BI Belum Berpengaruh ke Pelaku Pasar

MUDANEWS.COM, Medan – Burden sharing antara pemerintah dengan Bank Indonesia (BI) pada dasarnya memberikan dampak positif bagi pasar keuangan. Akan tetapi dampak yang lebih luas bisa terjadi pada laju tekanan inflasi. Karena pada dasarnya, pemerintah menerbitkan SBN, lantas Bank Indonesia yang menyerapnya, tanpa biaya bunga.

“Pada saat pemerintah menerima uang pembelian dari Bank Indonesia, lantas pemerintah menyalurkannya ke masyarakat. Dan penyaluran ini saya sangat yakin bentuknya adalah bantuan kepada masyarakat selama pandemi corona ini masih berlangsung. Jadi memang akan ada banyak uang beredar ditengah aktifitas ekonomi yang belum sepenuhnya kembali normal,” kata Analis Pasar Keuangan Gunawan Benjamin di Medan, Selasa (7/7/2020).

Uang yang beredar itu nantinya akan dibelanjakan sehingga memicu tren kenaikan harga kebutuhan masyarakat. Ini yang menjadi masalah mendasar, dimana laju tekanan inflasi yang terjadi akibat kebijakan burden sharing tersebut, berpotensi terjadi di tengah aktifitas ekonomi yang melambat. Atau bahkan lebih buruknya inflasi justru terjadi saat kita tengah berhadapan dengan resesi (pertumbuhan negatif).

“Sehingga kontrol kebijakan di level makro tantangannya cukup besar. Daya beli memang bisa dijaga jika pemerintah bersama BI bersinergi untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah ancaman krisis ekonomi. Namun terlalu berani dalam menyerap SBN, saya justru mengkuatirkan adanya potensi ancaman gangguan ekonomi yang lebih luas dan berbahaya,” jelasnya.

Sejauh ini, kata Gunawan, burden sharing yang dilakukan pemerintah serta BI tersebut belum begitu mempengaruhi pelaku pasar. “IHSG pada perdagangan hari ini masih berkonsolidasi dikisaran harga 5.000. Pagi ini IHSG dibuka menguat di level 5.010, mengikuti tren kenaikan bursa global. Sementara Rupiah dibuka menguat di level 14.415 per US Dolar,” imbuhnya. Berita Medan, Fahmi