Pejuang Islam Nusantara Sumut, Ngaji Rutin Pengenalan keAswajaan dan NU 

Pejuang Islam Nusantara Sumut, Ngaji Rutin Pengenalan keAswajaan dan NU 
Ketua PIN Sumut, Ustaz H Agus Rizal SHI MPd, keAswajaan dan NU 

MUDANEWS.COM, Medan – Kita Mulai ngaji lagi masa new normal, agar pikiran terbuka, hati jadi sejuk. Diantara upaya menangkal pemahaman wahabiy salafy takfiry yang terkesan radikal dan intoleran Pejuang Islam Nusantara Sumatera Utara terus melakukan kajian penguatan keAswajaan, pengenalan terhadap Nahdlatul Ulama dan Pejuang Islam Nusantara (PIN) lebih khusus lagi tentang pemahaman Islam Nusantara yang dipelesetkan oleh orang orang yang anti kepada NU.

Hal itu dituturkan Ketua PIN Sumut, Ustaz H Agus Rizal SHI MPdI pada Minggu (21/6/2020).

“Memberikan edukasi pengertian dan pahaman tentang Islam Nusantara yang merupakan gerakan dakwah yang menghargai kearifan lokal, menjaga identitas keindonesiaan, tanpa meniru semua yang datang dari Arab. Bukan berarti anti Arab, karena memang Rasulullah Saw diturunkan di negeri Hijaj maka cenderung dianggap semua yang bernuansa Arab adalah Sunnah dan wajib di tiru. Padahal Sunnah Rasulullah Saw, itu tidak semua wajib, ada yang mandub, bahkan mubah,” ujarnya.

Disaat Rasulullah Saw masih hidup di Bairuha , kebun kurma yang berada di sisi masjid Nabawi, ada sebatang pohon yang condong miring hendak tumbang, Rasulullah Saw saat melewati pohon kurma itu merunduk, saat Rasulullah Saw telah wafat, bahkan setelah pohon itu ditebang, para sahabat tetap merunduk bila melalui jalan tersebut, ini bukan berarti merunduk itu wajib. Melainkan hanya mubah.

“Islam Nusantara menjaga adat istiadat yang mengakulturasi dengan masyarakat Islam di Indonesia atau Nusantara. Adat istiadat di Indonesia ada tepung tawar, halal bihalal, upah upah bagi masyarakat Tapanuli setelah datang Islam dimodifikasi dengan nilainilai keislaman, jadilah dia kearifan lokal yang membumi di Nusantara tercinta ini,” jelasnya.

Isu-isu yang tak benar terhadap Islam Nusantara kita klarifikasi, ada yang bilang nanti mati dikafani pakai kain batik dan salat pakai bahasa Indonesia, ini fitnah dari orang yang benci NU.

“Pengajian dalam rangka halal bi halal terbatas ini menjadi awal kegiatan pejuang Islam Nusantara Sumatera Utara saat masa new Normal,” tutupnya.