Pandemi Covid-19, Begini Nasib Rupiah dan IHSG

Pertumbuhan Ekonomi Diperkirakan Minus, Memperburuk Aksi Profit Taking
Net/Ilustrasi

MUDANEWS.COM, Medan – Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG kembali terpuruk dilana aksi profit taking. IHSG ditutup melemah di level 4.854,75 setelah selama sesi perdagangan hari ini IHSG diperdagangkan di zona merah. Dan tekanan pada IHSG ini bisa berlanjut besok.

“Karena sejumlah indeks futures di AS menunjukan pelemahan di atas 1%. Dan yang paling parah ialah adanya penurunan pada indeks saham di zona eropa juga,” jelas Analis Pasar Keuangan Gunawan Benjamin di Medan, Kamis (11/6/2020).

Sementara itu, mata uang Rupiah pada perdagangan sore ini juga melemah di kisaran 14.020 per US Dolar. Padahal Rupiah sempat menguat di sesi perdagangan pagi. Pasar keuangan domestic pada perdagangan hari ini bergerak dalam rentang yang cukup lebar. Volatilitas pada Rupiah dan IHSG menunjukan bahwa pelaku pasar melakukan trading jangka pendek, dan lebih melihat isu-isu teknikal.

“Akan tetapi, jika dibandingkan antara kinerja IHSG dan Rupiah, maka mata uang rupiah yang sebenarnya mampu membalikan posisinya. Selama tahun berjalan, Rupiah sempat diperdagangkan di kisaran 13.580 per US Dolar, dan Rupiah sempat menyentuh 16.600 di tahun 2020 ini,” jelasnya.

Namun posisi Rupiah belakangan berbalik menguat, dan saat ini mampu bertahan diangka 14 ribuan per US dolar. Kondisi Rupiah jelas lebih baik ketimbang IHSG. Dimana IHSG yang sempat bertahan di atas level 6000 awal januari, namun sampai saat ini kondisinya masih belum mampu mendekati level tersebut. IHSG justru masih terlihat sulit untuk bertahan di atas level 5000-an.

“Penyebaran corona memang menjadi salah satu pemicu melemahnya kinerja pasar keuangan global. Dan kondisi seperti ini diyakini belum akan berakhir dalam waktu dekat. Dimana ancaman penyebaran corona gelombang kedua kian mencuat akhir-akhir ini,” imbuhnya.

Nantinya akan mempengaruhi psikologis investor. Ditambah lagi, jika new normal yang diberlakukan ternyata tidak memberikan efek signifikan bagi pemulihan. Atau malah jika jumlah pasien covid 19 mengalami peningkatan, maka kekuatiran kita selanjutnya adalah banyak negara yang akan berbondong-bondong kembali memberlakukan lockdown.

“Ini resiko besar selama skema new normal diberlakukan. Ada resiko yang mengintai. Sehingga saya yakin pelaku pasar akan bersikap realistis bila berkaca dengan kondisi seperti yang sekarang ini. Jadi meskipun Rupiah seakan mampu membalikan keadaan. Bukan berarti Rupiah akan mampu melanjutkan tren penguatannya. Dan untuk IHSG saya yakin masih akan  bergerak sangat volatile selama covid 19 masih menjadi pandemic,” kata Benjamin. Berita Medan, Fahmi