Kenapa Harga BBM Sulit untuk Turun?

Kenapa Harga BBM Sulit untuk Turun?
Gunawan Benjamin

MUDANEWS.COM, Medan – Saat ini, banyak beredar berita terkait dengan kebijakan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang dinilai sulit untuk diturunkan. Padahal harga minyak mentah sempat diperdagangkan minus. Dan sejauh ini harga minyak mentah dunia bergerak dalam rentang harga $23 per barel. Artinya memang harusnya bisa mendorong harga BBM menjadi lebih murah, karena tolak ukurnya adalah saat harga BBM subsidi tidak berubah, justru harga minyak mentah dunia turun dari kisaran $50 per barel menjadi $23 per barel.

“Nah banyak analis yang bilang kalau harga BBM kita seharusnya bisa diturunkan. Kalau hitungan matematika sederhananya memang seperti itu. Bahkan banyak pengamat yang menilai bahwa harga BBM saat ini justru sudah membuat banyak keuntungan yang diambil oleh Pertamina atau negara. Dan tidak sedikit yang menyatakan bahwa masyarakat Indonesia mensubsidi pemerintah,” kata Analis Pasar Keuangan Gunawan Benjamin ketika dihubungi mudanews.com di Medan, Senin (11/5/2020).

Namun, Benjamin punya pandangan dan hitung hitungan yang berbeda. Pertama, konsumsi BBM saat ini mengalami penurunan. Untuk wilayah Sumut saya melihatnya turun 30%-an dan untuk di pulau jawa dikisaran 50%-an. Jadi kalau ada yang bilang bahwa pertamina untung disitu. Nah masa iya kita tidak memperhitungan penurunan penjualan.

“Artinya tingkat keuntungan dalam kondisi normal seharusnya mengalami penurunan saat ini, justru keuntungan mengalami penurunan. Berapa besar penurunannya, tentunya sama seperti penurunan konsumsi yang dalam rentang 30% hingga 50% tadi. Tetapi apakah berhenti disitu?, Tentunya tidak,” jelas Benjamin.

Penurunan penjualan BBM selain mengurangi keuntungan selisih jual, juga akan membuat beban pertamina menjadi lebih besar. Artinya begini, kalau ada sebuah usaha yang penjualannya menurun, namun gaji karyawannya tetap jalan, listrik tetap bayar, ditambah biaya distribusi barang dll, lantas keuntungan yang didapat tadi akan dikurangi dengan beban operasional yang membengkak.

“Jadi harus proporsional dalam menghitung untung rugi dari jualan BBM saat normal dengan kondisi saat konsumsi turun karena corona seperti sekarang ini. Kedua, kita semua tahu bahwa Pertamina tidak hanya bergerak di hilir seperti penjualan BBM, AVTUR atau Elpiji. Ada juga produksi hulu Migas yang harus tetap berjalan. Ini kan butuh biaya justru disaat harga minyak mentah dunia mengalami penurunan. Jadi kilang harus tetap beroperasi disitu,” jelas dia.

Ketiga, sekitar 40% kebutuhan BBM tanah air itu didatangkan dengan cara mengimpor. 40% BBM ini kan dibutuhkan US Dolar untuk membelinya. Jadi sekalipun turun, tetapi mata uang Rupiah itu kan melemah di atas 15 ribu per US Dolar. Jadi tetap saja bebannya menjadi lebih besar saat mengimpor sehingga, beban yang harus ditanggung juga semakin besar.

“Setidaknya itulah yang seharusnya menjadi penilaian kita saat ini. Tidak melulu hanya berbicara mengenai selisih harga minyak mentah dunia dan harga BBM saja. Nah ditengah pandemic seperti sekarang, saya juga memiliki asumsi lainnya. Bagaimana kalau seandainya justru keuntungan dari Pertamina tadi dialokasikan untuk penanganan corona,” ujarnya.

Kondisi ini, kata Benjamin, bisa semakin tidak relevan kalau kita hanya berhitung selisih harga itu tadi. Memang masyarakat butuh bantuan bukan hanya bentuknya BLT atau Sembako, tetapi bisa juga dalam bentuk harga BBM yang lebih murah. Tetapi bagaimana kalau seandainya justru keuntungan yang didapat berpindah langsung ke masyarakat dalam bentuk yang lain.

“Ini kan hanya memindahkan uang dari kantong kiri ke kantong kanan dan sebaliknya. Jadi sebaiknya kita memang komperhensif dalam memberikan gambaran. Yang penting kita jangan hanya melihat satu sisi saja. Ditengah pandemic seperti sekarang ini, kebijakan apapun itu memang tidak mudah untuk direalisasikan, dan tetap memicu pro dan kontra,” pungkas Benjamin. Berita Medan, Fahmi