Sila ke-5, Corona Melanda, Mahasiswa Dilema

Sila ke-5, Corona Melanda, Mahasiswa Dilema
Riki Hambali Tanjung

MUDANEWS.COM – Bukan sebuah kebetulan jika keadilan sosial itu menjadi butir paling akhir dalam perumusan pancasila. Para founding fathers kita dulu sudah memikirkan masak-masak kenapa keadilan harus ditempatkan di urutan paling akhir. Seperti kita yakini rumusan pancasila tidak bisa kita yakini sepotong potong.

Kontruksi rumusan pancasila ingin menegaskan bahwa keadilan sosial harus menjadi tujuan akhir dari proses-proses yang dimaksud untuk merealisasikan nilai-nilai di atasnya. Apa yang menjadi fokus perjuangan manusia indonesia dengan berkebutuhan, persatuan, kemanusiaan, kerakyatan, dan kepemimpinan harus berujung pada terciptanya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah (keadilan sosial).

Meskipun secara realistis harus didasari bahwa masyarakat adil makmur sebagai bentuk nyata dari wujudnya keadilan sosial itu tidak mungkin akan ada wujudnya secara sempurna di dunia, tetapi perjuangan kita harus diarahkan kesana. Didunia ini sebenarnya yang ada keadilan sebagai proses, bukan sebagai hasil nyata yang final. Kalau kita ingin melihat keadilan sosial secara sempurna itu adanya di surga.

Ternyata, kalimat keadilan sosial tidak saja menjadi penekanan tersendiri dalam rumusan pancasila. Kalau kita lihat UUD 1945 berkali menyebutkan kalimat itu dalam berbagai konteks, meskipun dengan substansi yang sama. Dalam pembukaan UUD 45 pada Alenia I dinyatakan adanya prinsip “perikemanusiaan dan perikeadilan”. Pada Alenia ke II digambarkan pula bahwa bangsa kita telah mencapai pintu gerbang “Negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Pasal 28H ayat (2) UUD 45, diatur pula setiap orang berhak memperoleh keadilan.

Menurut Prof. Jimly (Guru Besar Tata Negara UI) menyimpulkan bahwa keadilan itu sifatnya konkret bukan hanya abstrak-filosofis yang sekedar dijadikan jargon politik tanpa makna.

Dalam awal tahun 2020 wabah pandemi global sudah banyak meresahkan bahkan mematikan masyarakat dunia, efeknya globalisasi perekonomian khususnya indonesia melumpuh, tentu kita bicara keadilan yang seharusnya bisa di distribusikan kepada masyarakat yang notabene ekonomi kelas bawah tapi itu hanya isapan jempol, bantuan dana yang semakin lama yang tidak menembak sasaran. Ketidakadilan harus dijadikan musuh untuk dilawan.

Meskipun akan tetap ada tugas kita adalah melawan. Ini sama seperti sikap kita melawan setan. Salahlah kita berpikir menghabisi setan. Selain tidak realistis juga tidak mungkin, tugas kita adalah melakukan proses perlawanan, bukan untuk menghabisi. Sebab, begitu setan sudah habis, maka perjuangan mahasiswa tidak diperlukan lagi. Menyikapi pandemi global ini tentu Mahasiswa yang dilabeli Agen Of Change dan Sosial Of Control memiliki peran penting dalam garda terdepan untuk memberantas ketidakadilan.

Mahasiswa sebagai promotor bagaimana keadilan itu menjadi nyata di tangan untuk membenahi tabir masalah yang ada didunia khususnya bangsa indonesia. Saat ini indonesia sedang mengalami kesakitan dalam beberapa sektor, dan mahasiswa dilema karena pergerakan ditahan oleh regulasi-regulasi yang membuat mahasiswa hanya berdiam dan bahkan menonton negaranya yang membutuhkan perannya.

Belum lagi aktivitas belajar mengajar dirumah aja, uang kuliah bayar juga, hak subsidi sebagai mahasiswa tidak terpenuhi oleh instansi pemerintah. Kita ketahui mahasiswa adalah lidah penyambung rakyat indonesia, mahasiswa dilema masyarakat akan kecewa. Artinya tidak ada mobilisasi mahasiswa demi terwujudnya masyarakat adil makmur.

Mengutip dari buku Potret Manusia Indonesia karya Imam Ratrioso. Kepasrahan manusia indonesia yang tinggi juga tercermin dari fenomena berpikir” gimana nanti saja” bukan” nanti gimana?” Dan ini menyebabkan kita lemah dalam perencanaan, namun berani mengambil tindakan dan resiko.

Untuk membawa gerbang manusia indonesia menuju visi yang kita cita citakan, sudah pasti menuntut kehadiran seorang pemimpin negara, negarawan, pemimpin pengabdi bangsa. Pemimpin yang hanya menjadi manajer pemerintahan jelas tidak akan sanggup membawa manusia indonesia ke arah visi yang kita cita cita kan.

Penulis : Riki Hambali Tanjung