Covid-19 dan Eksistensi Mahasiswa

Covid-19 dan Eksistensi Mahasiswa
Januari Riki Efendi

MUDANEWS.COM – Covid-19 saat ini masih menjadi “momok” yang menakutkan di Indonesia _terkhususnya. Pandemi ini masih membuat masyarakat selalu waspada dan berusaha selalu mengikuti protokoler umum yang dikampanyekan pemerintah. Pandemi ini juga masih membuat masyarakat susah, baik karena terpapar penyakit ini ataupun terdampak perekonomian dikarenakan PSBB yang diterapkan pemerintah.

Jika bercerita mengenai dampak perekonomian sudah bukan barang baru ditengah-tengah masyarakat. Bahkan bukan lagi rahasia umum. Ada masyarakat yang terkena PHK oleh perusahaannya, tukang ojek online yang kekurangan order, para pedagang yang terpaksa tidak berjualan, cafe dan restauran yang mau tidak mau harus tutup dikarenakan pandemi ini. Tentu saja ini dampak yang terjadi di masyarakat.

Lalu, bagaimana dampak ini bagi mahasiswa. Mahasiswa saat ini dikeluhkan dengan kuliah online, daring, tugas yang menumpuk, serta tidak ada kejelasan kampus kapan bisa kembali masuk ke kampus. Juga keluhan mahasiswa mengenai pembayaran uang kuliah. Itu jika kita berbicara mengenai keluhan mahasiswa.

Dan, jika kita dituntut dengan pertanyaan, apa peran mahasiswa saat ini ditengah-tengah pandemi ini? Apakah hanya sekedar mengikuti protokoler pemerintah, dengan diam dirumah. Mengikuti rutinitas kelas online yang dibuat oleh dosen-dosen mereka dengan harapan mendapatkan “nilai” yang bagus. Atau bahkan, bersikap “santuy”, sekedar rebahan scroll gadget tanpa mau tau permasalahan real negeri ini dan masalah lingkungannya?

Berbicara tentang peran mahasiswa, lagi-lagi mahasiswa dituntut untuk menafsirkan kalimat “agent of change” atau “control social” yang harus tetap dijunjung walau ditengah-tengah pandemi ini. Sejurus dengan hal ini, sejauh mana sebenarnya mahasiswa harus berperan?

Banyak hal yang harus dilakukan mahasiswa, walau saat ini mahasiswa tak bisa turun ke jalan menuntut segala kezaliman pemerintah, baik mengenai Omnibus Law, UU pemasyarakatan, kebijakan pemerintah mengenai Covid-19, pendistribusian bantuan pangan yang sangat tidak berkeadilan dan banyak lainnya yang harus dituntut mahasiswa kepada pemerintah.

Tapi, tidak mudah. Mahasiswa harus merumuskan sesuatu yang lebih dari sekedar berdemo dijalanan, mahasiswa dituntut bagaimana ikut berperan aktif untuk membela kepentingan rakyat walau tidak harus turun kejalan. Mahasiswa saat ini dilematis, problem negeri ini menumpuk tapi mahasiswa “dipaksa” menjadi penonton dirumah dan mengikuti protokoler pemerintah.

Ini bukan jalan yang tepat bagi mahasiswa jika hanya menjadi penonton. Apapun bisa dilakukan bagi mahasiswa. Setidaknya ada beberapa masukan untuk mahasiswa jika ingin tetap mengkritisi pemerintah walau sedang mengikuti protokoler pemerintah.

1. Membuat tulisan. Memang ini belum tentu efektif, tapi dampak ditengah masyarakat juga besar, apalagi jika tulisan ini dibaca langsung oleh mereka yang memiliki kebijakan. Tulisan harus berbentuk kritik dan masukan, dan mengajak masyarakat untuk sama berjuang ditengah-tengah pandemi ini.

2. Kampanye di media sosial. Kampanye ini bisa berbentuk flyer atau status-status di media sosial. Tentunya kampanye ini bisa dilakukan efektif jika ikut dalam membuat petisi atau ajakan penolakan sesuatu.

3. Membuat diskusi online. Ini yang sedang marak dilakukan mahasiswa. Mengkritisi dengan melakukan kajian atau diskusi online, dan rumusan-rumusan dari diskusi tersebut bisa dibuat menjadi tulisan, atau sebuah kampanye.

4. Membuat kegiatan sosial. Mahasiswa berperan bukan hanya mengkritik pada pemerintah, tetapi juga ikut berperan aktif memberikan solusi dan bantuan baik moril maupun materi kepada masyarakat. Sekarang banyak lembaga, komunitas, organisasi sosial yang membuat kegiatan sosial dengan membagi-bagikan sembako ditengah-tengah masyarakat. Seharusnya mahasiswa menjadi garda terdepan dan utama dalam membuat gerakan-gerakan kerelawanan ini. Ambil bagian untuk membantu masyarakat.

Poin-poin diatas tentu tidak selalu efektif, tetapi jika mahasiswa diam dan tidak melakukan apa-apa pun sama saja. Setidak mahasiswa berbuat sesuai dengan kemampuannya. Dengan tetap mengikuti kuliah online yang menjadi kewajiban, tetapi juga tetap ikut mengawasi kebijakan pemerintah, ikut turun membantu masyarakat dan berperan aktif mengawal daerah-daerah tempat tinggalnya.

Mahasiswa yang mati, adalah mereka yang diam ketika melihat penindasan. Mahasiswa yang hidup adalah mereka yang melakukan apapun ditengah-tengah masyarakat sesuai dengan kemampuannya. Maka berbuatlah, setidaknya sekecil apapun.

Jika benar-benar ingin agent of change bagi masyarakat, hentikan keluhan dan hentikan menjadi kaum yang sekedar “rebahan” tanpa produktifitas. Karena itu hanya akan membunuhmu secara perlahan. Salam.

Oleh : Januari Riki Efendi, S.Sos
Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana jurusan Pemikiran Politik Islam UINSU dan Pegiat Literasi.