GMNI Medan, Pilkada Medan 2020 Kerja Keras Tingkatkan Pemilih

GMNI Medan, Pilkada Medan 2020 Kerja Keras Tingkatkan Pemilih
Ridwan Saragih

MUDANEWS.COM, Medan – Dalam sejarah Pilkada Kota Medan terutama dalam agenda pilkada serentak pertama, hasil Pilkada Kota Medan tahun 2015 ialah hasil yang sangat mengejutkan. Sekalipun melahirkan pemenang tetapi perolehan suara dan partisipasi masyarakat untuk menggunakan hak suaranya cukup memperihatinkan.

Pasangan calon yang bertarung pada Pilkada Medan pada saat itu merupakan tokoh yang terkemuka dalam belantika politik lokal, regional bahkan nasional yaitu Eldin yang berpasangan dengan Akhyar Nasution dan rivalnya yaitu Ramadhan Pohan berpasangan dengan Eddie Kusuma. Tak bisa diduga kedua pasangan calon Walikota dan Wakil Wali Kota Medan hanya menghasilkan sekitar 26 % (persen) pemilih dari total jumlah pemilih yang ada. Padahal, selain ada unsur petahana didalamnya, partai-partai pengusung masing-masing calon juga termasuk partai yang besar, kuat dan memiliki basis akar rumput yang kuat.

Banyak peneliti dan lembaga yang menyayangkan begitu rendahnya partisipasi rakyat dalam pilkada kota Medan di tahun 2015 yang lalu. Jika melihat posisi rakyat kota Medan tentu kesadaran berdemokrasinya sangat baik. Dalam sejarah gerakan mahasiswa, pemuda dan masyarakat Kota Medan bahkan politik nasional dapat dikatakan sebagai salah satu kota yang menjadi tolak ukur dalam politik regional bahkan nasional. Lantas, apa yang menyebabkan partisipasi pemilihnya dalam Pilkada sangat rendah ?

Bila merujuk pada laporan Balitbang Kota Medan (2017), angka pemilih dalam Pilkada Kota Medan 2015 yang lalu hanya mencapai 26 % (persen) dari 1, 9 juta daftar pemilih. Artinya, ada sekitar 1, 4 juta pemilih di Kota Medan yang tidak menggunakan hak pilihnya atau sering disebut golput. Bila Pilkada kota Medan 2015 lalu menggunakan mekanisme ½ n + 1 maka pasangan pemenang Eldin dan Akhyar Nasution dengan perolehan suara 346.406 tidak layak diputuskan dan dinyatakan representasi masyarakat kota Medan secara keseluruhan sebagai Wali Kota dan Wakil Wali Kota Medan oleh KPU.

Dalam keterangan persnya di Medan pada Jumat (14/2/2020), Ridwan Saragih Wakil Ketua DPC Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Medan menduga beberapa faktor penyebab rendahnya partisipasi pemilih di Kota Medan yaitu pembangunan kesadaran politik pembangunan kepada rakyat jarang dilakukan, keterlibatan rakyat dan pemuda dalam program-sosialisasi kerja yang tidak maksimal, kepemimpinan yang arogan dan berjarak dengan rakyat kerap menjadi tontonan, praktek korupsi yang kerap menyelimuti kepemimpinan Kota Medan.

Menjelang perhelatan Pilkada Kota Medan 2020, Ridwan menyebutkan bursa calon walikota Medan menjadi menarik perhatian publik.

“Selain petahana, Akhyar Nasution dianggap punya kans yang besar untuk terpilih kembali menjadi Walikota Medan. Namun, kehadiran Bobby Nasution yang disebut-sebut bakal menjadi Calon Walikota Medan ternyata menjadi perhatian serius rakyat, pemuda dan mahasiswa di kota Medan. Bobby dianggap mampu menggerakan harapan rakyat yang terpendam,” terangnya.

Ridwan menerangkan bahwa siapa pun pasangan calon Walikota dan Wakil Walikota Medan 2020 yang ditetapkan oleh KPU hendaknya mampu berpikir dan bekerja bukan hanya untuk menang, melainkan harus mampu pula bekerja keras untuk meningkatkan partisipasi pemilih.

“Pengalaman Pilkada Medan 2015 sudah jelas bagi kita, partisipasi rakyat untuk memilih sangat rendah. Kita perlu berfikir dan bertindak secara matang, jangan sampai Pilkada Kota Medan 2020 nanti jumlah pemilih di Kota Medan semakin menurun dan itu memalukan bahkan juga memilukan bagi kita semua. Maka, siapa pun calon Walikota dan Wakil Walikota Medan 2020 yang ditetapkan oleh KPU harapannya dapat bekerja keras secara maksimal untuk meningkatkan partisipasi pemilih,” tutupnya. Berita Medan, red