Masih Adakah Tuhan di Negeri ini?

Masih Adakah Tuhan
Januari Riki Efendi, S.Sos

MUDANEWS.COM – Tuhan.. Adakah Engkau saat ini? Kulihat, engkau diabaikan oleh mereka yang haus kekuasaan. Lihat saja Tuhan, firman-firman Mu diacuhkan, mereka menginjak-injak kitab Mu. Tuhan, lihat para pemimpin negeri ini, mereka membuat kebijakan yang tidak sesuai dengan keadilan mu. Padahal Engkau sudah mengamanahkan manusia-manusia itu sebagai Khalifah fil ardh, tapi mereka malah membangkang padamu.

Tuhan, lihat pemimpin itu. Pikiran dan otak mereka hanya untuk kepentingan pribadi dan kelompok mereka, mereka berbuat zalim kepada rakyat. Mereka mencintai kaum kaya, dan menghinakan ulama dan rakyatmu.

Tuhan, Engkau lihat saja mereka yang merasa paling idealis, dan bersuara sok paling adil, tapi nyatanya kebijakan mereka mengabaikan-Mu, mereka membuat kebijakan bukan untuk rakyat, tapi untuk yang membayar mereka secara materi. Mereka tak peduli dengan ganjaran Pahala dan surga-Mu, mereka anggap itu Dongeng ketika mereka kecil.

Tuhan, dengarkah Engkau teriakan kaum miskin, yang setiap saat menangis karena lapar, tapi bunyi sendok pejabat itu direstoran mahal tak mempedulikan perut saudaranya, padahal di depan Layar TV, mereka selalu berkata “Fakir Miskin adalah tanggung jawab negara”. Negara yang mana? Entahlah..

Tuhan, ada lagi. Keadilan mu dijual dengan murah atas nama melawan terorisme atau radikalisme. Mereka sesuka hati saja membunuh manusia, menyiksa dan menganiaya tanpa tersentuh hukuman.

Mereka menganggap jika itu lawan politik, maka wajib dihabisi, jika itu kawan politik maka harus mati-matian dilindungi. Aneh sekali Tuhan, bukankah Nabi Mu pernah berkata “Jika Fatimah binti Muhammad mencuri, maka aku sendirilah yang akan memotong tangannya”.

Tuhan, disini banyak orang beragama, tapi sangat sedikit yang berTuhan, banyak sekali mereka yang bertopeng agama, tapi sejatinya hanya menghancurkan agamaMu, mereka mencari-cari dalil untuk untuk memuluskan niat busuk mereka. Mereka mengatakan pemimpin itu benar, walau zalim sekalipun. Mereka mendukung pemimpin yang salah tapi dengan menjual ayatMu, kenapa engkau diam Tuhan?

Ada lagi Tuhan. Ulama Mu, dituduh, difitnah, dihinakan oleh politikus sampah itu. Mereka menganggap ketaatan terhadap kebenaran adalah kesalahan dan radikal, ketaatan kepada pemimpin yang zalim itu adalah sebuah kebenaran. Hanya dinegeri ini, pemimpin itu lebih disembah daripada Engkau, hingga mereka mati-matian membelanya walau salah sekalipun.

Tuhan, apakah engkau menerima ibadah mereka yang zalim itu? mereka yang korup itu? mereka yang tidak adil itu? mereka yang membuat kebijakan yang menyengsarakan rakyat itu?

Lihat lah kaum asing itu Tuhan, mereka menguasai harta kami walau mereka sedikit. Perekonomian kami dikeruk, kami diadu domba, pemimpin kami bersekongkol dan berselingkuh dengan mereka. Tapi di depan media itu, mulut mereka sangat manis mengatakan demi rakyat, demi rakyat, dan demi rakyat..

Tuhan, katanya kami tak boleh pintar dan bermoral. Maka pendidikan kami tak dimaksimalkan fasilititasnya, guru-guru honorer kami yang sudaj bekerja puluhan tahun tapi gajinya hanya sanggup membeli dua bungkus nasi.

Lihatlah buruh kami, tak mendapatkan gaji layak. Lihatlah Hutan kami, setiap saat ditebangi dan dibakar. Lihatlah laut kami setiap saat ikannya dicuri oleh mereka warga asing itu.

Tuhan, apakah Engkau tertidur ? Atau memang Engkau tak mau lagi melihat kami karena durhakanya kami? Tuhan, jika kami boleh minta, azab saja mereka yang zalim itu, tapi azab mu kadang juga menyentuh kami yang tak tahu apa-apa.

Lihatlah bencana dimana-mana, kebakaran, longsor, banjir, gempa bumi. Kami tahu itu bentuk kemarahanMu, tapi tolong Tuhan, kenapa tidak mereka saja yang engkau habisi, layaknya Engkau menghabisi kaum Ad, Tsamud, dan Kaum Lut.

Kami letih Tuhan, masih adakah Engkau di negeri kami ini? Atau Engkau memalingkan wajahMu dari kami. Berilah kami sedikit harapan, harapan keadilan dan kepemimpinan. Kami rindu akan pemimpin yang mencintaiMu, agar kami pun dicintainya.

Oleh : Januari Riki Efendi, S.Sos
Penulis adalah Founder Ruang Literasi