Kader Muda Muhammadiyah Meminta Gubsu Minta Maaf ke Ulama Madina

Kader Muda Muhammadiyah
Rafid Febri, salam komando bersama Bapak Edy Rahmayadi pada waktu Pilgubsu 2018

MUDANEWS.COM, Medan – Terkait Ulama Mandailing Natal (Madina) Syekh H Abdul Bais Nasution LC MA dan Ustaz H Mahyuddin mengaku mendapat perlakukan dan ucapan kasar dari Gubernur Sumatera Utara, H Edy Rahmayadi  pada Selasa (12/1/2021) di Masjid Agung, Medan. Kedatangan ulama dan beberapa pejabat Madina saat memohon pelaksanaan sekolah tatap muka.

Kader Muda Muhammadiyah Sumut Rafid Febri meminta Gubsu Edy Rahmayadi meminta maaf kepada Ulama Madina, Syekh H Abdul Bais Nasution LC MA dan dan Ustaz H Mahyuddin.

“Sebagai seorang pemimpin tidak boleh berkata kasar kepada rakyat, apalagi kepada ulama, saya meminta Gubernur Sumut Edy meminta maaf,” tegas Rafid di Medan, Minggu (17/1/2021).

Ia menuturkan, jangan arogansi jadi pemimpin. Karena jabatan ini hanya sementara dan tidak dibawa mati.

“Jangan dulu di saat kampanye dan terpilih menjadi gubernur selalu menyuarakan ulama. Jangan pernah datang ke saya atau ke kantor saat saya menjadi Gubernur. Biar saya nanti yang datangin ulama,” sindirnya.

Sebagai seorang muslim, kita harus mencintai dan memuliakan ulama. “Memuliakan orang yang berilmu (ulama), maka Tuhan Yang Maha Esa mengangkat derajat,” ujar Rafid.

Sebelumnya diberitakan, hal itu sesuai dengan surat Bupati Madina bernomor 420/0039/Disdik/2021 tertanggal 8 Januari 2021 yang ditujukan kepada Gubernur sebagai upaya terlaksananya sekolah tatap muka di Kabupaten Madina.

“Kedatangan kami menemui Gubernur untuk menyampaikan maksud menguatkan permohonan diizinkannya pelaksanaan sekolah tatap muka. Namun Gubernur langsung membentak dan mengeluarkan kalimat “Saya penjarakan kau nanti apabila diizinkan sekolah tatap muka di Madina”. Itu disampaikan Gubernur berulang-ulang kepada kami,” kata Syekh H. Abdul Bais Nasution bersama Ustaz Mahyuddin kepada wartawan.

Syekh Abdul Bais dengan lembut memberikan penjelasan kondisi banyaknya pelajar yang sudah terjadi krisis akhlak disebabkan sudah terlalu lama tidak mengikuti sekolah sebagaimana biasanya (tatap muka). Ia juga menyampaikan soal keberadaan Covid-19 di Kabupaten Madina yang terdata tinggal 1 orang, itu pun pelaku perjalanan .

“Mendengar saya bicara, beliau membentak saya dengan kata ‘Diam’. Saya masih berusaha menjelaskan kembali, saya sampaikan ke beliau kalangan anak didik sudah terjadi krisis akhlak dan moral terutama di pedesaan. Anak didik sudah banyak yang merokok, mencuri, dan meresahkan masyarakat terkhusus kalangan orang tua. Sementara di kota anak-anak siang dan malam menghuni warnet, siapa yang kita salahkan dengan kondisi ini?” kata Syekh Abdul Bais. (red)