Sektor 1 Benteng Putri Hijau Pamah Delitua, Pusat Kremasi Jenazah Hindu – Karo

Benteng Putri Hijau
Koleksi Troven Museum, Dok Istimewa

MUDANEWS.COM – Dari kawasan Dusun 1 Delitua Pamah Namorambe, yang merupakan kawasan Benteng Putri Hijau. Terdapat sektor 1, yang menjadi tempat pemandian (pancuran) Lau Bakal, dan menjadi lokasi perabuan (kremasi) jenazah suku Karo (yang bukan muslim) dizaman dahulu. Di lokasi sektor 1 ini, pada bahagian Tebing Lau Bakal, juga ditemukan Gua Umang. Dan menurut kepercayaan masyarakat setempat, merupakan rumah bagi kaum bunian.

Dalam adat Karo Marga Sembiring penganut Hindu, tradisi pembakaran mayat atau kremasi jenazah telah dikenal dengan nama adat Sirang-sirang. Tradisi yang dilaksanakan oleh suku Karo marga Sembiring ini, menunjukkan adanya pengaruh Hindu dalam budaya suku Karo terutama marga Sembiring yang menurut beberapa ahli sejarah berasal dari India.

Dari wawancara dengan Pieter Sembiring Meliala, salahsatu kerabat Raja Bagian dan Raja Gel-gel Delitua, diperoleh informasi Sektor 1 yang saat ini telah menjadi Kandang Sapi dan Lembu serta Kuda. Dahulunya menjadi pusat pembakaran mayat (kremasi) masyarakat Suku Karo. Dan menurut Pieter, lokasi tersebut telah berlangsung selama ratusan bahkan mungkin ribuan tahun lalu. Dan berakhir sejak masuknya pengaruh kolonialisme Belanda.

Upacara sirang-sirang hampir mirip dengan acara kematian layaknya yang berlaku pada masyarakat suku Karo, hanya saja prosesi akhir mayat tidak dikuburkan tetapi dibakar yang dipimpin oleh seorang dukun atau guru dibantu oleh 4 orang pembakar mayat yang disebut sindapur.

Ritual dimulai pada saat mayat hendak dibawa ke tempat kremasi. Sebelum mayat dibawa keluar rumah, di depan pintu diletakkan kudin( belanga dari tanah liat) di dalamnya diisi gulai ayam ala masakan karo (cipera). Kemudian istri atau suami dari almahrum menendang belanga hingga pecah. Maknanya sebagai lambang hancurnya hati sang istri/suami dari almahrum atas kehilangan suami/istri yang meninggal.

Selanjutnya daging ayam tersebut akan dihidangkan dan disantap oleh kerabat dekat saat makan siang. Dengan menyantap hidangan tersebut, diharap kepedihan karena kehilangan keluarga tercinta segera sirna. Setelah itu mayat dibawa ke tempat kremasi di daerah lapangan terbuka dekat dengan sungai. Sebelumnya telah dipersiapkan kayu bakar oleh anak beru (keluarga dari pihak laki-laki). Kayu pembakar mayat berasal dari kayu pohon dokum. Selama proses pembakaran mayat, kayu tidak boleh ditambah, sehingga harus diperhitungan dengan matang jumlah kayu yang akan digunakan.

Setelah sampai di tempat pembakaran mayat, keluarga dari yang meninggal suruh kembali ke rumah dan yang tinggal hanya sang dukun dengan 4 orang sindapurnya.

Benteng Putri Hijau
Koleksi Troven Museum, Dok Istimewa

Sebelum api disulutkan, dukun yang memimpin ritual memerintahkan sindapur untuk melepas semua pakaian jenazah dan ditelungkupkan di atas batang kayu dokum dan sindapur diperintahkan oleh sang dukun untuk memukul kaki jenazah sekuat-kuatnya agar arwahnya tidak kabur dan gentayangan. Bagi wanita yang meninggal melahirkan, bayinya juga dibakar dengan sang ibu. Barulah kemudian sang dukun membakar jenazah di atas kayu yang telah dipersiapkan.

Setelah pembakaran mayat, sindapur harus segera membuang abu jenazah ke sungai terdekat dan membersihkan sisa-sisa upacara agar sisa-sisa jenazah tidak digunakan oleh orang-orang yang menunut ilmu hitam. Kemudian Sindapur harus menjalani ritual yang dipimpin oleh sang dukun.

Mereka dimandikan dengan Lau penguras yaitu air yang sudah dijampi-jampi oleh sang dukun, dan baru setelah itu boleh pulang ke rumah. Setelah sampai di rumah mereka harus mencuci telapak tangan dan memegang para-para (tungku api unuk masak), dengan demikian sindapur tidak diganggu oleh mayat orang yang dibakarnya tadi.

Proses pembakaran mayat ini sangat rumit dan agak menakutkan ini upacara tidak lagi dilaksanakan oleh suku Karo marga Sembiring karena tidak ada Sindapur (Dukun) yang bersedia melaksanakan prosesi tersebut.